Genjot kapasitas produksi, Siantar Top siapkan belanja modal Rp350 miliar di 2022

Rabu, 29 Desember 2021 | 18:39 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang masih menghantui, PT Siantar Top Tbk tetap optimis mampu meningkatkan penjualan sebesar dua digit pada 2022. Salah satu strategi yang dilalukan emiten makanan ringan ini adalah dengan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 350 miliar di 2022 untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

Direktur Utama PT Siantar Top Tbk, Agus Suhartanto mengatakan, pandemi Covid-19 memang membuat situasi bisnis masih belum menentu. Meski begitu, pihaknya tetap yakin tahun 2022 kondisinya akan lebih baik. Sebab itu, perseroan berharap bisa meningkatkan kapasitas produksi.

"Saat ini utilisasi mesin produksi sudah mencapai 80 persen. Karena itu, kapasitas produksi tahun depan harus ditambah untuk mengantisipasi pertumbuhan market," kata Agus Suhartanto pada paparan publik di Surabaya, Rabu (29/12/2021).

Dikatakannya, dana capex sebesar Rp 350 miliar untuk tahun 2022 akan digunakan di beberapa pos, seperti investasi project senilai Rp 175 miliar dan untuk anak usaha sebesar Rp 75 miliar. Selain itu juga untuk perluasan pabrik yang akan menelan dana Rp 100 miliar.

"Dengan investasi baru ini kami harapkan tahun depan ada tambahan kapasitas produksi 20 persen dari yang ada sekarang. Kami masih optimis tahun depan market akan tumbuh double digit," tambahnya.

Direktur PT Siantar Top Tbk, Suwanto menambahkan, untuk mengantisipasi pertumbuhan market di tahun depan, pihaknya akan melakukan beberapa langkah strategis. Selain melakukan diversifikasi produk dengan rencana merilis 5 produk baru, juga akan memperkuat jalur distribusi terutama di Indonesia Timur.

Tahun depan, perseroan juga akan semakin konsen menggarap pasar di Indonesia Timur. Sebab masih ada beberapa daerah yang belum terjangkau produk perseroan. Sebab itu, jalur distribusi harus diperkuat sehingga penyebaran produk akan semakin merata di Indonesia.

Selain itu, lanjut Suwanto, perseroan juga terus memperkuat pasar ekspor. Sebab meskipun masih pandemi, namun ekspor perseroan tahun 2021 masih tumbuh 16,5 persen. Beberapa negara tujuan utama ekspor masih di Kawasan Asia seperti China, Korea, Taiwan, Vietnam. Selain itu juga tetap menggarap market di Timur Tengah, Australia dan Afrika.

"Tahun ini harusnya ekspor tumbuh lebih besar lagi. Namun karena kelangkaan container dan juga adanya kenaikan freight cost, sehingga ekspor hanya tumbuh 16,5 persen," ujarnya.

Terkait kinerja tahun 2021, Agus Suhartanto menjelaskan, pihaknya tetap optimis tahun ini penjualan bisa tumbuh double digit. Hingga September 2021, pihaknya berhasil meraih penjualan sebesar Rp 3,04 triliun naik tipis 8,06 persen dari tahun lalu periode yang sama yakni Rp 2,8 triliun.

Namun kenaikan penjualan tersebut tidak dibarengi dengan pertumbuhan laba bersih perseroan. Sebab per September 2021, perseroan mencatat laba bersih Rp 433 miliar, turun tipis 9,6 persen dari periode yang sama tahun lalu yang senilai Rp 479 miliar. Penurunan laba tersebut karena tergerus beban usaha yang meningkat akibat naiknya harga bahan baku dan sumber energi naik signifikan.

"Tapi kami masih optimis tahun ini bisa tumbuh double digit. Hingga awal Desember tahun ini, pertumbuhannya sudah 9,08 persen. Jadi sisa 0,02 persen saja. Kami yakin bisa mencapai hingga akhir tahun ini," ujar Agus Suhartanto. kbc7

Bagikan artikel ini: