Produktivitas dan efisiensi kunci utama indikator sawit berkelanjutan

Sabtu, 25 Desember 2021 | 15:30 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Produksi minyak sawit Indonesia mencapai 51,58 juta ton di tahun 2020. Mengutip data United Stated Develompement of Amerika (USDA), produksi sebesar itu berkontribusi atas 60% pasar minyak sawit dunia. Sementara devisa ekspor dari sepanjang 2021 mencapai rekor tertinggi, diperkirakan mencapai US$40 miliar.

Hanya saja yang perlu diberi catatan bersama adalah semakin rendahya tingkat produktivitas tandan buah sawit dari potensinya, makin tingginya biaya produksi dan legalitas lahan perkebunan. Ketiga hal tersebut akan menjadi ancaman besar bagi industri sawit nasional di kancah global yang menuntut bisnis harus memenuhi  syarat sawit berkelanjutan.

"Tren produktivitas TBS kelapa sawit kita dalam 10 tahun menurun. Sementara biaya produksi pertanaman sawit naik cepat (kenaikkannya red). Ini menjadi masalah besar kalau tidak segera dibenahi. Ini soal daya saing dan keberlangsungan eksistensi industri kelapa sawit nasional," ujar Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung dalam webinar 'Upaya Mempercepat Peningkatan Produksi & Produktivitas Sawit Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas’ Jakarta, baru-baru ini.

Tungkot mengingatkan, euphoria dari membumbungnya harga sawit di pasar internasional justru menjadi bom waktu di kemudian hari apalagi dari total lahan sawit sebesar 16,4 juta hektare (ha) sekitar 20% lahan sawit sudah berumur tua dan renta. Dia juga melihat produktivitas sawit masih dibawah potensinya. Padahal, Pusat Penelitaian Kelapa Sawit (PPKS) sebagai pusat pembibitan mampu menghasilkan produktivitas sebesar 7,8 ton per hektare (ha).

Namun gap antara potensi dan kondisi dilapangan  yang dihasilkan sangat besar. Untuk produkvitas dari perkebunan swasta sebesar 3,8 ton per ha, sementara perkebunan negara 4 ton per ha dan perkebunan sawit 3,6 ton per ha. Padahal , 41% atau 6,7 juta ha dari kebun sawit rakyat berkontribusi 37 % produksi CPO nasional. "Para peneliti dan  asosiasi produsen bibit harus mengevaluasi. Bahkan dalam uji coba potensi produkivitas bisa 9,3 ton per ha," kata dia.

Dengan tingkat produktivitas sawit sebesar itu, Indonesia hanya lebih tinggi dari Nigeria yang sebesar 2,1% ton per ha. Produktivitas sawit Indonesia masih kalah dengan Malaysia (3,8) bahkan Papua Nugini (4). Disisi lain , biaya usaha budidaya CPO mengalami kenaikan 5% per tahun sejak 2008-2021.

Adapun laju kenaikan harga CPO hanya 1,8% per tahun. Dengan tingkat produktivitas sawit sebesar itu, Indonesia hanya lebih tinggi dari Nigeria yang sebesar 2,1% ton per ha. "Ini bukan normal. Kita proyeksikan tahun 2024 sama saja harga biaya memproduksi CPO setara dengan harga CPO.Banyak yang akan bangkrut kalau hal ini tidak bisa diselesaikan. Hanya pemerintah yang bisa menyelesaikan," kata dia.

Persoalaan lainnya, menurutnya adalah legalitas. Misalnya di perkebunan sawit rakyat, sebesar 50% dianggap berada di kawasan hutan, bahan sekitar 80%  legalitasnya bermasalah (3 juta ha). Situasi inilah yang menghambat petani dapat memperoleh Program Peremajaan Sawit Rakyat( PSR) dan memperoleh sertifikat sawit berkelanjutan (ISPO dan RSPO).

"Bagaimana sawit Indonesia bisa mengklaim berkelanjutan dengan legalitas kebun sawit rakyat seperti ini? Kuncinya bagaimana pemerintah menyelesaikan legalitas kebun sawit rakyat kepada komunitas interasnional atas suistaianbility sawit," tegas Tungkot.

Gulat Manurung, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit (Apkasindo) mengatakan rerata pendapatan bersih  petani sawit mencapai Rp 2,5 juta per ha, meski biaya produksi juga naik.Namun hal itu masih jauh lebih tinggi dibandingkan petani di sub sektor tanaman pangan dan hortikultura.

Sementara Prof Bungaran Saragih, Menteri Pertanian 2000-2004 mengingatkan aspek lingkungan kian menjadi isu strategis yang menjadi tuntutan konsumen global. Peningkatan produktivitas menjadi kunci bagi pengembangan industri kelapa sawit nasional menuju 2045. Pasalnya, strategi ekstensifikasi lahan tidak dapat dilakukan karena masih berlakunya Inpres Motarorium Nomor 8 Tahun 2018.

Menurut Bungaran Indonesia Indonesia dapat menempuh dua strategi peningkatan produktivitas minyak kelapa sawit yakni peningkatan produktivitas parsial (partially productivity) melalui perbaikan kultur teknis/manajerial pada kebun eksisting. Selain itu peningkatan produktivitas total (total factor productivity) dengan perubahan varietas dan kultur teknis-manajerial atau replanting.

Kedua strategi dapat dilakukan dengan menyesuaikan sasaran tertentu, dimana strategi produktivitas parsial ditujukan pada kebun sawit Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan kebun sawit Tanaman Menghasilkan (TM), sedangkan strategi produktivitas total ditujukan pada kebun kelapa sawit yang berumur tua atau renta.

Bungaran mengatakan, posisi Indonesia dengan minyak sawitnya diharapkan tetap terjaga di masa depan. Tahun 2045 memiliki arti spesial bagi Indonesia. "Tidak hanya merayakan ulangtahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-100, namun juga diharapakan menjadi periode keemasan bagi industri kelapa sawit nasional," jelas dia.

Sementara, Tungkot menawarkan solusi percepatan peningkatan produktivitas melalui volume CPO Indonesia yang bersertifikasi berkelanjutan meningkat cepat, perbaikan Good Agricultural Practises (GAP) kebun eksisting - berkontribusi peningkatan produktivitas 80% sawit nasional. "Jangan terlalu terfokus dengan PSR.Bukan tidak penting," tegasnya.

Kedua, efisiensi dan efektifitas pengelolaan kebun , pupuk dan pemupukan. "Produktivitas dan efisiensi adalah leading indicator sustainability secara ekonomi, sosial dan ekologis. Bobotnya harus menjadi ukuran memperoleh sertifikasi keberlanjutan," tegasnya.

Dampaknya, potensi deforestasi, lost biodiverdisity dan angka kemiskinan serta emisi juga akan menurun.Namun dari segi perusahaan, harga pokok biaya pokok produksi menurun, profit, ROI  dan pendapatan petani juga akan meningkat. kbc11

Bagikan artikel ini: