Dari 60 juta UMKM di Indonesia, baru 11% yang daftar hak kekayaan intelektual

Jum'at, 24 Desember 2021 | 16:39 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Lebih dari 60 juta usaha mikro kecil menengah (UMKM) aktif di Tanah Air, baru 11% yang memiliki Hak Kekayaan Intelektual terdaftar. Padahal HAKI menjadi salah satu cara untuk meningkatkan UMKM agar bisa tembus pasar nasional dan global.

Staf Ahli Menteri bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi Kemenparekraf, Ari Juliano Gema mengatakan, perlunya mensosialisasaikan kekayaan intelektual kepada kelompok UMKM. Salah satu cara dengan menggandeng Intellectual Property Studies Center (IPSC), yang merupakan wadah dalam mengembangkan pengetahuan tentang kekayaan intelektual kepada masyarakat Indonesia.

"Kami perlu bekerjasama dengan NGO seperti IPSC untuk mengakselerasi sosialisasi tentang Kekayaan Intelektual di Indonesia sampai angka perkembangannya terus naik," kata Ari Juliano, Kamis (23/12/2021).

Founder IPSC Khoirul Anam mengatakan, masih banyak pelaku usaha UMKM yang belum sadar akan pentingnya mendaftarkan Hak Kekayaan Inetelektual.

"Tujuan pendirian IPSC sendiri yaitu kami ingin masyarakat “Pelaku Usaha” lebih aware terhadap Hak kekayaan Intelektualnya, khususnya UMKM, maka dari itu, fokus kami atau segmentasi utama kami yaitu kelompok UMKM, kami ingin umkm bisa tembus di pasar nasional bahkan global, salah satu caranya yaitu mereka harus memiliki Hak Kekayaan Intelektual terdaftar," katanya.

Sementara itu, Ketua Umum AKHKI Suyud Margono mengatakan, dukungan terhadap UMKM yang ingin melakukan Permohonan pendaftaran Kekayaan Intelektualnya, karena hal tersebut sangatlah penting untuk membawa umkm masuk ke Pasar Global.

"Kami konsultan HAKI tentu juga mendorong UMKM untuk melakukan pendaftaran Kekayaan Intelektualnya di Direktorat Merek, apalagi sekarang sudah ada Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang biaya PNBP yang lebih murah untuk UMKM, yang penting dapat menunjukkan keterangan UMKM dari Dinas terkait. Kemudian Penting bagi umkm untuk memiliki Kekayaan Intelektual terdaftar jika ingin masuk ke Pasar Global, karena hal tersebut menjadi syarat mutlak yang tidak dapat dihindari," ujar Suyud Margono.

Namun ada beberapa faktor yang membuat UMKM kurang aware terhadap Hak Kekayaan intelektualnya, yang pertama kurangnya sosialisi dari kelompok stakeholder, baik dari pemerintah maupun dari NGO, kedua kurangnya jaringan dan yang ketiga minimnya profit sebagian besar UMKM.

"Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kenapa umkm tidak begitu aware terhadap KI nya, yang pertama kurangnya sosialisasi dari Stake holder baik dari Pemerintah maupun NGO, kedua kurangnya jaringan dalam mengembangkan usahanya dan yang ketiga minimnya Profit sebagian besar umkm, karena pada faktanya banyak umkm yang masih memiliki pendapatan kecil dan bahkan mungkin cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari dari pelaku UMKM sendiri, hal tersebut juga bagian dari pengeluaran, sehingga sampai saat ini belum dianggap penting, maka dari itu kami berharap sosialisasi dan sosialisasi tentang pentingnya Kekayaan Intelektual dari Pemerintah maupun Lembaga NGO seperti IPSC ini," ujar Founder Kampar Harapan Gusti Amri. kbc10

Bagikan artikel ini: