Inkubasi bisnis tingkatkan rasio kewirausahawan milenial

Jum'at, 3 Desember 2021 | 18:18 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Fase inkubasi bisnis memiliki posisi strategis dalam mengeksplorasi ide-ide kreatif dalam berwirausaha.Atas hal itu Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) terus mengupayakan peningkatan rasio kewirausahawan di Tanah Air khususnya di kalangan milenial.

Deputi Bidang Kewirausahaan Kemenkop UKM Siti Azizah menuturkan, pihaknya telah melakukan kerja sama dengan sejumlah lembaga inkubator, yakni lembaga yang melakukan proses inkubasi wirausaha, agar kemudian ide-ide kreatif bisa berkembang dan berdampak signifikan terhadap peningkatan rasio kewirausahaan Indonesia.

"Tahun 2021 ini kita akan menguatkan kewirausahaan mikro, kecil, dan menengah, serta koperasi karena ini semua masuk dalam prioritas nasional, yaitu memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan dengan sasaran rasio kewirausahaan," ujar Siti dalam konferensi pers virtual secara daring di Jakarta, Jumat (3/12/2021).

Siti memaparkan, penumbuhan kewirausahaan dengan model inkubasi sudah termaktub pada UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja Klaster UMKM BAB V Pasal 99, 100, dan 101, serta PP Nomor 7 Tahun 2021 BAB VII Pasal 132 tentang Penyelenggaraan Inkubasi. Dalam implementasinya, KemenkopUKM melalui Deputi Bidang Kewirausahaan turut menggandeng dunia pendidikan, dalam hal ini perguruan tinggi, untuk menjaring dan menumbuhkan minat entrepreneurship di kalangan mahasiswa serta anak muda.

Hal tersebut, sambungnya, sejalan dengan semangat dalam mengimplementasikan produk akademik, seperti hasil riset terkait product development sebagai bagian dari hasil pembelajaran mahasiswa di dunia akademik ke dalam ekosistem usaha atau bisnis yang sustainable. Untuk menumbuhkan wirausaha yang produktif, inovatif dan mampu menyerap tenaga kerja, pada tahun 2021 kegiatan inkubasi dilakukan bersinergi dengan 7 Lembaga Inkubator, 26 Inkubator pada Perguruan Tinggi dan 3 Badan Usaha.

Sebagai informasi, lembaga inkubator yang terlibat dalam sinergi itu antara lain Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah Jateng, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kalimantan Selatan, Unit Pelaksana Teknis Solo Technopark, Asosiasi Lisensi Indonesia, Yayasan Ekspor Pengembangan Bali, Yayasan Utsman, serta Yayasan Dua Anyam.

Bukan hanya itu, sejumlah perguruan tinggi ternama juga berpartisipasi pada program inkubasi kewirausahaan, seperti Universitas Hasanuddin Makassar, Universitas Telkom Bandung, Universitas Gadjah Mada, ITS Surabaya, Universitas Kanjuruhan Malang, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Lampung, dan berbagai perguruan tinggi lain di Indonesia. "Dari sinergi tersebut, telah dilaksanakan fasilitasi inkubasi dan pendampingan pada 1.290 wirausaha dan minimal menghasilkan 50 startup unggulan," tuturnya.

Sebagai target, tahun ini rasio kewirausahaan diproyeksi akan mencapai 3,55%. Catatan terakhir KemenkopUKM menunjukkan rasio kewirausahaan baru sebesar 3,47%. Untuk jangka panjang, Siti mengatakan pada tahun 2024 mendatang rasio kewirausahaan ditargetkan mencapai 3,95%.

Target tersebut tak lepas dari ketertinggalan Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga terkait rasio kewirausahaan, salah satunya Singapura yang angkanya sudah mencapai 8,76%. Dia yakin jalan pengembangan kewirausahaan di Indonesia masih panjang dan masih banyak kesempatan untuk menambah jumlah wirausaha. "Pada tahun 2024 nanti ditargetkan setara 11,2 juta atau 17,45% dari seluruh pelaku UMKM jika rasio kewirausahaan bisa mencapai 4%," kata Siti.

Penumbuhan wirausaha produktif, lanjutnya, juga ditargetkan tumbuh 2,5% tahun 2021 dan 4% di tahun 2024. Selain itu, ia juga berharap adanya pertumbuhan startup pada tahun 2021 sebanyak 50 startup dan pada 2024 sebanyak 500 startup.

Siti mengakui tantangan pengembangan kewirausahaan di Indonesia, antara lain rendahnya pendidikan atau pengenalan kewirausahaan sejak dini, minimnya ekosistem kewirausahaan yang membantu UMKM mengadopsi teknologi dari usaha yang lebih besar, hingga basis data UMKM yang tersebar dan belum terstandardisasi. "Masalah literasi digital masyarakat yang tergolong rendah juga menjadi kendala utama terutama di tengah berkembangnya ekonomi digital," imbuh Siti.

Siti menjelaskan, pihaknya juga menyalurkan bantuan dana bagi wirausaha dengan nilai maksimal Rp7 juta yang disalurkan kepada 1.312 wirausaha. Sasaran bantuannya ialah wirausaha produktif di sektor kerajinan, konveksi dan busana, olahan makanan dan minuman, perikanan, pertanian, perkebunan, dan kehutanan, peternakan, jasa/perdagangan dan sektor inovatif lainnya.

Selain itu, dalam rangka menjangkau layanan yang lebih luas, Deputi Bidang Kewirausahaan juga melakukan optimalisasi fungsi Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM yang saat ini sudah tersebar di 75 kabupaten/kota seluruh Indonesia. "Layanan utama yang diharapkan tersedia di PLUT diantaranya sebagai coworking space, konsultasi bisnis, promosi dan pemasaran, inkubasi bisnis, pendaftaran usaha, seleksi dan kurasi UMKM, pelatihan teknis dan manajerial, sinergi dengan pihak lain dan fasilitas lain pendukung kewirasusahaan," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: