Berlabel SNI, produk UMKM siap tembus pasar global 

Selasa, 30 November 2021 | 19:58 WIB ET
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduki
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduki

JAKARTA, kabarbisnis.com: Daya saing produk menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Indonesia. Berdasarkan kajian oleh The Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD) pada 2018 lalu, daya saing produk UMKM Indonesia di tingkat ASEAN masih berada di peringkat empat, membuntuti Singapura, Malaysia dan Thailand.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduki dalam Launching Etalase Digital Produk UMKM Ber-SNI yang digelar Badan Standardisasi Nasional (BSN) mengatakan untuk menjawab tantangan tersebut, perlu ada sejumlah upaya dimana salah satunya ialah menstandardisasikan produk UMKM. Selain itu agar produk UMKM dapat berdaya saing global, harus ada pengembangan kemasan produk, perizinan usaha, hingga sejumlah sertifikasi yang nantinya akan berdampak pada meningkatnya nilai jual produk.

"Karenanya, peran SNI sangat strategis dalam rangka meningkatkan daya saing UMKM. Sekarang ini, daya saing produk UMKM memang sangat krusial," ujar Teten dalam keterangan pers virtual, Selasa (30/11/2021).

MenkopUKM pun mengimbau seluruh kementerian/lembaga, BUMN, perguruan tinggi, serta asosiasi agar saling bersinergi untuk mengambil peran dalam mengakselerasi pertumbuhan UMKM yang memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI). Dengan begitu, ia yakin peran UMKM terhadap perekonomian nasional akan semakin terpacu.

Pasalnya, segmen UMKM mendominasi dunia usaha di Indonesia dengan jumlah 65,4 juta unit atau sekitar 99% dari usaha secara keseluruhan. Dari catatan itu, UMKM memberikan sumbangsih 61% terhadap PDB serta menyerap tenaga kerja hampir 97%.

Teten pun memberikan apresiasi kepada BSN yang memberikan fasilitasi kepada 50 UMKM terseleksi untuk memperoleh label SNI secara gratis. "Pelaku UMKM ini memberi dampak signifikan bagi peningkatan kesejahteraan dan kemajuan, terutama di saat pandemi yang menjadi bagian dari pemulihan ekonomi nasional," tegas Teten.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan apresiasi kepada BSN yang telah memberikan fasilitasi SNI kepada para pelaku UMKM serta meluncurkan platform pemasaran digital bagi UMKM yang memiliki SNI.

Menurut Luhut, langkah itu menjadi salah satu upaya agar UMKM bisa tembus ke pasar global. Hal tersebut dikarenakan produk dan jasa yang dihadirkan UMKM harus punya keselarasan kualitas degnan standard yang dihasilkan dari masing-masing segmen pasar. "Untuk itu, SNI menjadi salah satu yang dapat diterapkan untuk menjawab tantangan UMKM, yaitu legitimasi atas kualitas produk UMKM," kata Luhut.

Luhut meyakini SNI memegang peran krusial terhadap daya saing produk UMKM. Dengan adanya standar, para pelaku UMKM dapat memilik acuan untuk terus meningkatkan kualitas dan kreativitas untuk menghasilkan produk-produk unggulan.

Menkomarvest optimis program pembinaan dan sertifikasi dalam bentuk SNI oleh BSN ke depan akan mendongkrak eksistensi UMKM secara signifikan, khususnya meningkatkan daya saing UMKM nasional agar kemudian dapat menembus pasar global. "Saya berharap diluncurkannya Etalase Digital Produk UMKM Ber-SNI pada hari ini akan berkontribusi meningkatkan perhatian dan antusiasme untuk mendukung UMKM nasional," pungkasnya.

Teten mengatakan  pemerintah di tengah pandemi terus mendorong perdagangan online agar semakin menggeliat untuk menanggapi tantangan adaptasi kelaziman baru. Selain itu, KemenkopUKM juga mendorong agar para pelaku UMKM bisa masuk ke rantai pasok industri nasional maupun global.

Menurutnya, sertifikasi dari BSN terkait SNI berkaitan erat dengan program utama tersebut. Untuk mempercepat proses UMKM masuk rantai pasok, kata Teten, pemerintah juga menetapkan 40% anggaran pengadaan barang dan jasa, baik di pusat maupun daerah, diwajibkan untuk menyerap produk UMKM. "Tahun ini ada anggaran Rp 447,28 triliun totalnya yang dialokasikan untuk membeli produk koperasi dan UMKM dan sudah terealisasi sekitar 77%," ucapnya.

Bukan hanya itu, dalam rangka meningkatkan daya saing UMKM, pemerintah pun menetapkan kebijakan penyediaan 30% ruang infrastruktur publik, seperti bandara, pelabuhan, stasiun KA, hingga rest area di jalan tol, diperuntukkan bagi UMKM.

"Kita saat ini juga ada kemitraan dengan usaha besar, yakni BUMN, lalu sejumlah pihak swasta, misalnya IKEA, Uniqlo, MNC Group, dan Accor Group agar UMKM kita menjadi bagian dari rantai pasok BUMN maupun swasta," tandas Teten Masduki.

Teten berharap kehadiran Etalase Digital Produk UMKM Ber-SNI ke depan dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi para pelaku usaha. Beriringan dengan itu, dia mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah, BUMN, swasta, hingga masyarakat agar memperbanyak belanja produk UMKM nasional.kbc11

Bagikan artikel ini: