HIPMI Sharing Session, Arumi: UMKM punya daya juang lebih tinggi dibanding industri besar

Minggu, 28 November 2021 | 17:27 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Prov. Jatim Arumi Bachsin menegaskan bahwa Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang 60 persennya dijalankan oleh perempuan memiliki daya juang lebih tinggi dibanding industri besar. Hal inilah yang menyebabkan UMKM selalu kuat dan bisa bertahan saat krisis ekonomi yang kerap terjadi.

"Di saat krisis ekonomi tahun 1998, UMKM terbukti menjadi penyelamat ekonomi Indonesia, begitu juga di saat terjadinya gejolak ekonomi di masa pandemi ini, UMKM kembali membuktikan kekuatan mereka, walaupun UMKM termasuk sektor yang cukup terimbas dengan adanya kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat," ujar istri Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dalam acara "HIPMI Sharing Session: Women to Enterpreneur?" yang digelar di sela pameran INAPRO EXPO 2021 di Grand City Surabaya, Minggu (28/11/2021).

Salah satu faktor yang menjadikan UMKM bisa kuat diantaranya adalah dengan berkolaborasi atau berjejaring. Ia menegaskan, banyak perusahaan besar yang dulu menjadi tempat masyarakat belanja mengalami gulung tikar karena karena reseller mereka kalah dengan UMKM. 

""Kalau tidak berkolaborasi ya mati. Dan UMKM mempunya kekuatan lebih karena jejaring ini. Selain itu tanggung jawab UMKM juga tidak sebesar industri, produksi mereka juga tidak besar. Apalagi kepercayaan diri UMKM Indonesia lebih tinggi dari negara lain. Bahkan perusahaan besar dibuat mati oleh kekuatan UMKM Indonesia. Mereka ini kecil-kecil tetapi populasi banyak," ungkap Arumi.

Data sebelum pandemi menunjukkan bahwa jumlah UMKM di Jatim mencapai 9,7 juta unit. Dengan banyaknya populasi penduduk di Indonesia, maka peluang pasar menjadi semakin besar. Karena setiap orang memiliki keinginan dan kebutuhan  yang berbeda. Dan sebelum pandemi, UMKM ini banyak digerakkan oleh perempuan tangguh yang ada di rumah. 

"Dari 9,7 juta unit UMKM,  60 persen adalah digerakkan oleh  perempuan. Ini data sebelum pandemi, karena UMKM ini dianggap sebagai kerja sampingan. Tetapi setelah pandemi dan terjadi gejolak ekonomi yang mengakibatkan banyaknya PHK, saya yakin pasti ada perubahan data," tambahnya. 

Meski UMKM termasuk sektor yang memiliki seribu nyawa, tetapi Arumi tidak menampik jika ada banyak problem yang dihadapi UMKM untuk menjadi kuat dan bisa berkembang pesat. Untuk itu, Dekranasda Jatim di tahun 2022 akan fokus melakukan pendampingan kepada mereka denggan membuat inkubasi. Inkubasi ini bertugas melakukan pembinaan UMKM, mulai dari UMKM yang baru dimulai atau low, UMKM yang sedang bergerak atau middle hingga UMKM yang sudah maju atau high.

"Akan kami buat kelas sesuai dengan jenjang mereka," ungkapnya. 

Dekranasda Jatim juga akan menggelar tiga pameran untuk menfasilitasi mereka mengenalkan dan memasarkan produk yang telah dihasilkan. Ia berharap, pameran yang akan digelar tersebut bisa bekerjasama dengan kabupaten kota karena setiap kabupaten dan kota memiliki pendekatan yang berbeda dan jenis UMKM unggulannya juga berbeda.

"Kami mencoba memberikan bantuan dari hulu hingga hilir. Yang penting apa UMKM-nya dan dimana daerahnya, sehingga kami bisa memberikan solusi dan bantuan yang tepat," kata Arumi. 

Pada kesempatan tersebut, owner Kerudung Baik Yunita Ayu membagikan pengalamannya bagaimana ia memulai bisnis kerudung di tahun 2020 yang berawal dari rasa kejenuhan saat pandemi. Dari sana kemudian ia memunculkan model kerudung "water color" yang belum ada di Jawa Timur. 

"Produk jilbab water color, di Jatim belum ada, sementara di Jakarta dan kota besar lainnya sudah ada sehingga saya berinisiatif membuat produk jilbab itu. Dan Alhamdulillah bisa diterima masyarakat. Melalui kolaborasi dan jejaring bersama HIPMI usaha saya semakin maju, bahkan di masa pandemi. Harapan saya bisnis ini akan bisa terus berkembang dan bisa melakukan ekspor," ujar Yunita, istri Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Timur Rois Sunandar Maming.

Sementara Owner Shine Enterprise Amelia Sakti berbagi pengalaman bahwa optimisme dan kekuatan untuk bisa meyakinkan konsumen menjadi salah satu faktor ia bisa bertahan di masa pandemi. "Kondisi sekarang serba dinamis, tahu-tahu kita dihadapkan pada regulasi baru PPKM. Dengan kondisi tersebut, saya harus bisa meyakinkan klien untuk tetap tenang," tandasnya.

Ia akhir acara, Arumi berpesan bahwa menjadi bisnis women memang tidak mudah tetapi belum tentu tidak bisa. Untuk itu, pebisnis perempuan harus memahami ekspektasi riil yang diharapkan serta hambatan yang dihadapi. 

"Hambatan yang menjadikan usaha belum maksimal adalah proses yang harus dijalani. Kepuasan bukan masalah nominalnya tetapi kepuasan yang mendatangkan kekuatan. Manfaatkan ilmu "kendel" (berani red.) yang kita miliki untuk memenangkan persaingan," pungkas Arumi.kbc6

Bagikan artikel ini: