Ini kata Bio Farma soal harga booster vaksin Covid-19 berbayar

Jum'at, 19 November 2021 | 08:46 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Bio Farma (Persero) masih menunggu aturan soal vaksin booster Covid-19 untuk masyarakat umum dari pemerintah. Termasuk soal harga vaksin booster dan jenis vaksin yang akan digunakan untuk booster.

"Ya tentu kami juga menunggu dari aspek regulasi nanti jenis vaksin apa yang digunakan. Jadi tentunya untuk harga ini ditetapkan oleh pemerintah pendampingan dari BPKP," kata Kepala Bagian Operasional PT Bio Farma (Persero) Erwin Setiawan dikutip dari Youtube FMB9ID-IKP, Kamis (18/11/2021).

Erwin menerangkan, sebagai referensi harga vaksinasi gotong royong sekitar Rp 188.000 untuk vaksin dan harga jasa pelayanan sekitar Rp 117.000.

"Jadi kita menunggu jenis vaksin yang akan digunakan tapi sebagai referensi kemarin vaksin yang berbayar yang digunakan untuk vaksinasi gotong royong itu kurang lebih harganya sekitar Rp 188.000 kalau nggak salah dan juga untuk jasa layanan nya Rp 117.000 itu mungkin referensi saat ini vaksin yang berbayar yang saat ini ada, yang pelaksanaannya untuk badan hukum dan badan usaha," jelas Erwin.

Lebih lanjut Erwin mengatakan, Bio Farma bersama pihak Sinovac akan mulai melakukan kerja sama penelitian terkait vaksinasi booster. Penelitian tersebut akan mulai dilakukan pada Januari 2022.

"Kita akan kerja sama dengan Sinovac untuk melakukan studi efikasi dosis booster," ucap dia.

Meski begitu, lanjut Erwin, pihak Sinovac sendiri sudah melakukan studi efikasi terkait dosis booster. Hasilnya cukup baik terjadi peningkatan yang signifikan dari penyuntikan booster vaksin Sinovac.

"Untuk rencana vaksinasi booster ini kita juga akan mengoptimalkan kerja sama yang sudah terjalin dengan Sinovac untuk meningkatkan kapasitas produksi yang sudah kita miliki, dan juga meningkatkan kerja sama lagi dengan Sinopharm dengan kapasitas yang bisa ditingkatkan," jelas Erwin.

Lebih lanjut Erwin menerangkan, vaksin Covid-19 yang sudah ada di Indonesia sebanyak 283 juta dosis. Hal ini kurang lebih 60% dari kebutuhan total untuk program vaksinasi.

"Sudah didistribusikan sekitar 251 juta dosis ke seluruh dinas kesehatan provinsi, kabupaten/kota, ini untuk bisa mengejar rencana peningkatan vaksinasi di seluruh Indonesia," tutur Erwin.

Sebagai informasi, vaksinasi booster baru diberikan apabila 50% penduduk Indonesia sudah menerima vaksin dosis lengkap (dua kali suntikan).

Prioritas vaksin booster akan difokuskan untuk masyarakat lanjut usia (lansia) dan penerima bantuan iuran (PBI). Sementara golongan masyarakat lain akan membayar secara mandiri.

Saat ini pemerintah tengah melakukan uji klinis dengan perguruan tinggi terkait kebijakan vaksin booster. Penelitian tersebut akan menilai apakah vaksin booster akan diberikan sama dengan vaksin sebelumnya atau dikombinasikan dengan vaksin lain. Penelitian diharapkan akan selesai pada akhir Desember 2021. kbc10

Bagikan artikel ini: