China ditengarai hambat ekspor sarang walet, Akankah RI lakukan retaliasi?

Sabtu, 30 Oktober 2021 | 07:36 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Otoritas Kepabeanan Tiongkok (General Administration of Customs China, GACC, red) memperketat persyaratan perkarantinaan bagi pemasukan produk sarang burung walet (SWB) asal Indonesia. Alhasil sejumlah perusahaan asal Indonesia tidak dapat memasarkan produknya.

Padahal, sekitar 76,6% kebutuhan SWB masyarakat Tiongkok berasal dari Indonesia. GACC menjadikan dua isu utama bagi produk SWB yang akan masuk ke negaranya, pertama aman dikonsumsi. Artinya, eksportir harus mampu memberikan jaminan kemanan pangan terhadap produk yang diperdagangkan.

Isu selanjutnya aspek ketelusururan, sehingga China dapat mengetahui kronologi rantai produksi dari hulu hingga sampai diperdagangkan. Saat ini terdapat 49 perusahaan yang terdaftar sebagai pemegang ET-SBW. Namun ,dari jumlah itu hanya 23 perusahaan yang telah mendapatkan sertifikasi izin ekspor burung walet ke China.

Kepala Badan Karantina (Barantan) Bambang menuturkan, GACC  di bulan Juli 2021 menemukan importasi dari empat perusahaan melebihi dari kapasitas produksi saat didaftarkan pertama kali ke Tiongkok sejak tahun 2017-2018. Bukan hanya, GACC juga menemukan pengujian di border nitrit SBW lebih dari 30 PPM dari satu perusahaan.

Atas hal ini, GACC pun melakukan audit virtual terhadap dua dari lima perusahaan tertanggal 24 Agustus dan 2 September 2021. GACC pun telah menyampaikan persetujuan dan dua perusahaan dapat melakukan ekspor kembali di bulan Oktober. Sementara untuk tiga perusahaan masih menunggu jadwal audit otoritas GACC.

Seiring dengan hal ini, Barantan, melakukan pendampingan dan pembinaan agar tiga perusahaan konsistensi mematuhi persyaratan yang telah disepakati. Dia menambahkan, ketiga perusahaan telah melakukan klarifikasi atas dituding kelebihan kapasitas ke GACC dengan melampirkan hasil uji laboratorium.

"Kita juga sudah melakukan pengujian ternyata kadar nitrit masih di bawah 30 PPM.  Kita sudah lakukan klarifikasi ke otoritas GACC tapi belum memperoleh respon balik," ujar Bambang di Jakarta, Jumat (29/10/2021).

Sementara bagi 20 perusahaan baru , enam perusahaan yang telah diaudit tahun 2019 dan 2021 telah menyampaikan dokumen perbaikan ke GACC pada tanggal 24 September. Adapun, 12 perusahaan baru telah mengirimkan dokumen permohonan pendaftaran ke GACC pada tanggal 6 Oktober 2021. "Dua perusahaan mengundurkan diri," terangnya.

Data IQFAST Barantan, hingga Oktober (21/10/2021) sebanyak 1,1 ton SWB asal Tanah Air telah diekspor ke manca negara, dari sebanyak 177,1 ribu ton atau 17 % diantaranya menuju Tiongkok. Sementara data China yang diolah KBRI Beijing, di tahun 2020, impor SWB dari Indonesia tercatat Rp 5,9 triliun meningkat 88 % dari tahun 2019.

Bambang mengakui, China merupakan tujuan ekspor yang diincar para pelaku usaha. Pasalnya negara tersebut menetapkan harga 15 kali lipat lebih mahal . Meski negara tersebut menetapkan protokol perkarantinaan yang jauh lebih ketat.

Pasar SBW  nasional terbesar yakni  Malaysia 23,38%. Namun data IMACE antara Januari-Oktober 2021, ekspor terbesar SWB adalah Hong Kong (70 ,8%). Kemudian, diikuti Malaysia, Vietnam, Singapura dan Taiwan.

Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Wisnu Wasisa Putra mengatakan, sejumlah negara tersebut tidak menerapkan persyaratan perkarantinaan yang ketat bagi masuknya produk SWB. Alhasil harga tembusnya juga jauh lebih rendah. Sebelum kesepatakan protokol perkarantinaan kedua negara di tahun 2015, terutama Hong Kong dan Malaysia tidak lain sebagai negara perantara, yang produk hilirnya juga diekspor ke China.

Lantas, apakah kebijakan China yang terkesan tidak menerapkan perdagangan secara tidak fair atas produk SWB  dengan cara melakukan retaliasi (tindakan balasan serupa, red)? Prinsipnya, Indonesia melakukan pengetatan di pintu pintu masuk kepabeanan  atas produk asing yang ditenggarai melanggar aspek perkarantinaan.

Namun, untuk melakukan retaliasi atas produk SWB Indonesia, Wisnu berpendapat upaya penyusunan strategi kebijakan perdagangan luar negeri harus didiskusikan bersama dengan Kementerian Perdagangan. "Kita tidak bisa sendiri melakukan. Lakukan koordinasi. . Arah kesana ada (retaliasi, red), tapi harus bicarakan dengan semua unsur. Pelaku usaha harus sinergi terlebih dahulu," ujar Wisnu menjawab kabarbisnis.com.

Wisnu menambahkan, negara seperti Australia, Amerika Serikat, Kanada dan Inggris juga merupakan  pasar ekspor SWB yang cukup potensial. Upaya promosi dengan menggandeng atase perdagangan dan diplomat sebagai upaya mengurangi ketergantungan pasar China.

Namun setelah diteliti lebih jauh faktor sosial-budaya berperan besar, yakni notabene pembelinya juga merupakan notabene warga China keturunan. Budaya masyarakat China sejak ribuan tahun mempercayai dengan mengkonsumsi rutin SWB memiliki banyak manfaat kesehatan, membuat awet muda ingga penyembuhan kanker.kbc11

Bagikan artikel ini: