Kapitalisasi ekonomi digital RI ditaksir capai US$124 miliar pada 2025

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 05:32 WIB ET
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto

JAKARTA, kabarbisnis.com: Aktivitas ekonomi digital di Tanah Air terus meningkat, bahkan 41,9% total transaksi ekonomi digital ASEAN selama tahun 2020  berasal dari Indonesia, yakni US$44 miliar. Pada 2025, angkanya diproyeksikan mencapai US$124 miliar.

Pada kuartal II-2021, perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan tertinggi sejak krisis sub-prime mortgage yakni 7,07% (y-o-y). Perbaikan permintaan domestik membuat seluruh sektor usaha mengalami pertumbuhan positif di kuartal II-2021, termasuk sektor informasi dan komunikasi yang melesat 6,87% (y-o-y).

Pertumbuhan sektor informasi dan komunikasi dipicu oleh pergeseran perilaku masyarakat ke arah "low-touch and contactless economy" terutama di masa pandemi. Situasi ini merupakan peluang akselerasi transformasi digital di berbagai sektor bisnis, sehingga mampu berkontribusi positif terhadap percepatan pemulihan ekonomi.

Indonesia memiliki bonus demografi yang mendukung pembentukan ekosistem digital yang berkelanjutan.Mayoritas penduduk Indonesia adalah Generasi Z dan Milenial berusia 8-39 tahun yang memiliki tingkat adopsi digital yang tinggi. Sebanyak 37% konsumen baru ekonomi digital muncul selama pandemi Covid-19 dan 93% diantaranya akan tetap memanfaatkan produk ekonomi digital pasca pandemi Covid-19.

"Aktivitas ekonomi digital di Indonesia terus meningkat, bahkan 41,9% total transaksi ekonomi digital ASEAN selama 2020 berasal dari Indonesia yang mencapai US$44 miliar, dan di 2025 diproyeksikan mencapai US$124 miliar. Kondisi pandemi Covid-19 juga mendorong perkembangan pesat pada teknologi pendidikan dan kesehatan sebagai dampak penerapan pembelajaran dan konsultasi kesehatan secara online," ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam acara Founders' Day - Peringatan Ulang Tahun Grup Ciputra ke-40, di Jakarta, Jumat (22/10/2021).

Airlangga mengatakan, perkembangan pesat digitalisasi di Indonesia juga memberikan peluang untuk mengakselerasi Sustainable Development Goals (SDGs) yang sudah menjadi komitmen global. Salah satu contoh implementasi transformasi untuk mendukung SDGs yang masuk ke dalam RPJMN 2020-2024 adalah konsep smart city, green city, dan sustainable city.

Smart city secara garis besar didefinisikan sebagai pengaturan atau tata kelola perkotaan yang menerapkan teknologi untuk meningkatkan manfaat dan mengurangi dampak negatif urbanisasi yang mungkin ditimbulkan. Implementasi smart city diperlukan untuk mengatasi berbagai persoalan, seperti kemacetan, penumpukan sampah, penurunan kualitas air dan udara, hingga peningkatan angka kriminalitas.

"Pemerintah juga sedang menginisiasi penyusunan Kerangka Strategi Transformasi Digital sebagai pedoman dalam menerapkan proses digitalisasi yang diarahkan pada tiga sektor strategis, yaitu pemerintahan digital, ekonomi digital dan masyarakat digital, di mana implementasi smart city merupakan salah satu indikator dalam pengembangan pemerintahan digital dan menjadi target secara sektoral maupun nasional," ujar Airlangga.

Airlangga juga menjelaskan jika saat ini masih terdapat tantangan yang perlu diatasi bersama agar tercipta ekosistem ekonomi digital yang baik. Indeks Inovasi Global Indonesia tahun lalu masih berada di ranking ke-85 dari 131 negara, dan Indeks Literasi Digital Indonesia 2020 berada pada skala "sedang".

Ketersediaan akses internet yang masih didominasi Pulau Jawa juga menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan ekosistem ekonomi digital.Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah berkomitmen mengakselerasi pembangunan infrastruktur digital yang menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

Hal ini diharapkan dapat mendukung penguatan dan perluasan akses internet bagi masyarakat sehingga transformasi digital dapat diakselerasikan. "Ke depannya, pulsa dan internet akan jadi bahan pokok," tutur Airlangga.

Melalui transformasi digital diproyeksikan tercipta tambahan pertumbuhan PDB hingga 1% per tahun, yang akan mampu mendukung terwujudnya 2,5 juta lapangan kerja tambahan, 600 ribu talenta digital setiap tahun, 50% UMKM yang terdigitalisasi (sekitar 30 juta yang siap on board), 82,3% pengguna internet, serta 5 ribu start-up baru. kbc11

Bagikan artikel ini: