Fintech FinPlus & Easycash sambangi virtual Kota Tarakan dalam Bulan Inklusi Keuangan

Jum'at, 22 Oktober 2021 | 16:19 WIB ET
Marketing Communication Manager FinPlus, Inggit Palupi
Marketing Communication Manager FinPlus, Inggit Palupi

TARAKAN, kabarbisnis.com: Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) ketiga yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2019 menunjukkan indeks literasi keuangan mencapai 38,03 persen dan indeks inklusi keuangan 76,19 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan hasil survei OJK pada 2016.

Saat itu, indeks literasi keuangan mencapai 29,7 persen dan indeks inklusi keuangan 67,8 persen. Dalam hal ini, Kalimantan Utara berkontribusi dengan tingkat literasi keuangan yang sudah mencapai 35,43 dan inklusi keuangan 65,09% per tahun 2019. Indeks literasi keuangan adalah pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang mempengaruhi sikap untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, serta pengelolaan keuangan dalam mencapai kesejahteraan.

Pencapaian ini dapat terjadi tidak luput dari dukungan pemerintah, masyarakat dan jasa keuangan yang turut memberikan literasi keuangan secara masif dan berkala seperti acara yang dilakukan oleh fintech lending berizin OJK, PT Pinduit Teknologi Indonesia (Pintek) dan PT Esta Kapital Fintek (Esta Kapital) melalui penyelenggaraan webinar bertema "Peran Financial Technology (fintech) Dalam Mendorong Inklusi Keuangan" bersama mahasiswa Universitas Borneo Tarakan - Kalimantan Utara.

Industri teknologi finansial peer-to-peer (P2P) lending juga resmi tampak mampu melanjutkan tren pertumbuhan penyaluran pinjaman bulanan ke angka Rp13,65 triliun per Mei 2021 dengan total jumlah penyelenggara fintech peer-to-peer lending atau fintech lending yang terdaftar dan berizin di OJK adalah sebanyak 106 penyelenggara per 6 Oktober 2021.

Marketing Communication Manager FinPlus, Inggit Palupi menjelaskan, pihaknya melihat potensi besar peningkatan ekonomi Kalimantan Utara khususnya kota Tarakan dengan kenaikan pesat penyaluran pinjaman yang tak lepas dari peningkatan jumlah akun peminjam (borrower). Serta pemberi pinjaman (lender), dengan pengguna aktif rentang usia produktif 19 sampai 34 tahun.

CEO Easycash Fitri menambahkan pihaknya berharap dengan dilakukannya literasi keuangan  ini, dapat menambah pengetahuan tentang fintech P2P lending serta memahami keuntungannya untuk masyarakat dan tetap waspada terhadap maraknya tawaran dari fintech ilegal.

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) selaku asosiasi fintech lending juga mendukung peran aktif platform fintech lending yang turut menyuarakan gerakan 5M, yang dimaksud adalah, pertama mengabaikan iklan menggiurkan dari pinjaman dengan bunga besar. Kedua, melakukan pengecekan pinjaman dari situs resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan AFPI. Ketiga, memastikan legalitas dan rekam jejak digital platform pinjaman online. Keempat, meneliti syarat dan ketentuan pinjaman. Kelima, mewaspadai penyalahgunaan data pribadi.

Kedua narasumber juga menutup acara dengan pesan masyarakat harus tetap waspada pada tawaran fintech ilegal dan lebih lanjut, dia mengungkapkan, hingga Juli 2021, sudah ada 3.365 entitas pinjol ilegal yang sudah dihentikan operasinya oleh Satgas Waspada Investasi (SWI). kbc10

Bagikan artikel ini: