Bos Kadin sebut biaya ekspor di Indonesia, ini penyebabnya

Kamis, 21 Oktober 2021 | 08:00 WIB ET
Arsjad Rasjid
Arsjad Rasjid

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid mengungkap ihwal mahalnya biaya Ekspor akibat kelangkaan kontainer yang dihadapi para eksportir dalam negeri.

Arsjad mengatakan, kelangkaan kontainer itu membuat torehan surplus neraca dagang Indonesia tidak optimal seiring peningkatan ekspor sejumlah produk dalam negeri.

Arsjad mencontohkan, kinerja ekspor untuk produk mebel dan tekstil mengalami peningkatan yang pesat di tengah perang dagang Amerika Serikat dan China.

"Namun kita ekspor logistiknya mahal. Itu memang masalah dunia tetapi secara Indonesia mesti memikirkannya, kalau kita berpikir Indonesia yang incorporated bagaimana logistiknya kita bisa lakukan secara bersama," kata Arsjad saat memperkenalkan Dewan Pengurus Kadin Indonesia untuk masa bakti 2021-2026 di Hotel The Westin Jakarta, Rabu (20/10/2021).

Arsjad pun meminta dewan pengurus Kadin yang baru untuk bekerjasama mengurangi biaya logistik dari kegiatan ekspor barang-barang dalam negeri. Dengan demikian, kinerja ekspor Indonesia dapat tumbuh secara optimal.

"Di situlah kita bisa bekerjasama walaupun kita berkompetisi sebagai pengusaha di mana hal-hal yang bisa kita satukan kita satukan untuk kita bisa berperang melawan negara lain, karena setiap negara ingin turunkan biaya logistiknya," kata dia.

Sementara itu Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan Indonesia kesulitan untuk merebut pasar ekspor yang ditinggalkan China, lantaran adanya kelangkaan kontainer yang mencapai 5.000 unit setiap bulannya.

"Dampak dari kelangkaan kontainer itu, kita tidak bisa memanfaatkan pesanan yang begitu besar untuk mengisi kekosongan yang biasa disuplai oleh China, itu konsekuensi yang ingin kita elakkan," kata Lutfi.

Dia mencontohkan, industri mebel atau funitur yang berada di Jawa Timur mengalami kesulitan untuk melakukan ekspor barang ke Amerika Serikat mencapai 800 kontainer beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan perhitungan Kementerian Perdagangan bersama dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, industri yang bergerak pada olahan kayu itu membutuhkan seribu kontainer setiap pekannya.

Kendati demikian, Lutfi mengatakan, permasalahan itu juga menyasar pada sejumlah industri dengan realisasi ekspor relatif tinggi bagi neraca dagang dalam negeri. Sejumlah industri itu seperti garmen, pakaian, makanan dan minuman, elektronik hingga alas kaki untuk memenuhi permintaan pasar internasional yang ditinggalkan China.

Akibat kelangkaan kontainer itu, biaya pengapalan atau ocean freight produk ekspor dalam negeri ke pasar Amerika Serikat menjadi lebih mahal hingga lima kali lipat dari ongkos kirim pada situasi normal.

Belakangan Kementerian Perdagangan menggandeng Kadin, Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia serta para main line operator atau MLO untuk memenuhi kebutuhan kontainer dalam negeri. Berdasarkan hasil pemaparan Kemendag, MLO telah menyanggupi pemenuhan kebutuhan kontainer sebanyak 800 hingga 1.000 setiap bulan untuk industri mebel dalam negeri.

Nantinya, produk ekspor dari industri itu bakal dikirim ke New York, Los Angeles, Savannah, Baltimore dan Florida. Selain itu industri makanan dan minuman dalam negeri bakal difasilitasi kebutuhan kontainer sebanyak 3.500 hingga 3.800 unit setiap bulannya.

Adapun tujuan ekspor dari industri makanan dan minuman itu di antaranya Asean, China, Korea Selatan, Hong Kong, Jepang, India, Pakistan, Rusia, Eropa, negara-negara Afrika, Amerika Utara, dan Timur Tengah.

"Asal kontainernya itu dari mancanegara yang kita kerjakan itu sebenarnya mempertemukan importir yang membawa kontainer dan eksportir yang memerlukan kontainer, saya yakin dalam waktu tidak lama akan tercipta ekuilibrium yang baru," tuturnya. kbc10

Bagikan artikel ini: