Right issue BRI serap Rp96 triliun, Erick Thohir: Terbesar se-Asia Tenggara

Rabu, 29 September 2021 | 17:20 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan investor asing yang menyerap saham rights issue PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk  hingga mencapai Rp 27,9 triliun . Ini menandakan sebagai kepercayaan internasional melihat Indonesia sebagai  pasar modal yang besar  dan prospektif.

Direktur BEI  Inarno Djajadi menerangkan, jumlah Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) BBRI sudah terserap sepenuhnya sebanyak 28,2 miliar saham senilai Rp 96 triliun. Senilai Rp27,9 triliun berasal dari investor asing,sedangkan Rp 54,7 triliun dalam bentuk partisipasi non-tunai pemerintah, dan senilai Rp 41,2 triliun balam bentuk cash proceed dari investor publik.

"Antusiasme yang tinggi dari investor, baik asing maupun lokal merupakan bukti bahwa dunia luar masih percaya terhadap prospek ekonomi Indonesia untuk saat ini dan di masa depan," ujar Inarno dalam IDX Opening Bell : Right Issue BRI yang dipantau secara daring, di Jakarta,Rabu (29/9/2021).

Irnarno berharap dana rights issue BBRI dapat  dimanfaatkan untuk pengembangan ekosistem di dalam Holding Ultra Mikro BUMN yang melibatkan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) dan PT Pegadaian (Persero), sehingga mampu mengakselerasi ekonomi kerakyatan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Direktur Utama BBRI Sunarso mengatakan dengan adanya pelaksanaan rights issue tersebut, kepemilikan saham publik masih terjaga sebesar 40%.Tingginya minat terhadap rights issue BBRI ini mencerminkan kepercayaan pemegang saham terhadap visi pemerintah melalui BRI untuk mengamankan sumber pertumbuhan di segmen mikro.

"Di kala market sedang turbulence, kita bisa membuat market ini lebih bergairah. Ini membuktikan kita punya market yang sangat besar sehingga pertumbuhan ekonomi akan terus berlangsung," timpal Menteri BUMN Erick Thohir.

Erick mengatakan, rights issue BRI mencatatkan sejarah baru dalam pasar modal Indonesia dengan jumlah HMETD mencapai 28,2 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp 96 triliun. Capaian tersebut menjadi terbesar di kawasan Asia Tenggara serta menduduki peringkat ketiga tertinggi di Asia, serta masuk tujuh besar di seluruh dunia sejak 2009.

Hal tersebut, lanjut Erick  merupakan suatu pencapaian yang sangat membanggakan, terutama di tengah kondisi yang menantang akibat pandemi Covid-19. Erick mengungkapkan hal yang tak kalah penting dari right issue BRI adalah UMKM mampu menjadi pertumbuhan ekonomi penting di Indonesia.

"Karena memang 60% ekonomi kita didukung UMKM. Ini juga jadi peringatan  UMKM bukan objek, tetapi subjek yang harus kita dukung," ujar Erick.

Dia menambahkan, Kementerian BUMN mendorong agar Bursa Efek Indonesia (BEI)  jadi yang terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, ia juga mendorong korporasi BUMN untuk go public sehingga bisa menopang bursa. "Karena itu kita tidak segan-segan di 88 proyek strategis nasional yang sudah didukung Bapak Presiden.Kita mendorong korporasi BUMN untuk go public," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: