Harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam 3 tahun terakhir

Senin, 27 September 2021 | 10:35 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Harga minyak dunia naik ke level tertingginya dalam tiga tahun terakhir pada akhir perdagangan pekan lalu waktu setempat. Kenaikan harga minyak ditopang oleh gangguan produksi global yang memaksa perusahaan-perusahaan minyak menarik sejumlah besar pasokan mereka.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November naik 1,1 persen menjadi US$78,09 per barel. Sedangkan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS dibanderol naik 0,9 persen menjadi US$73,98 per barel.

Harga minyak Brent itu tercatat menyentuh level tertingginya sejak Oktober 2018 lalu, sedangkan WTI AS tertinggi setelah Juli 2021. Kenaikan harga minyak imbas gangguan produksi Pantai Teluk AS akibat hantaman Badai Ida akhir Agustus 2021 lalu.

Namun demikian, reli harga minyak ini sedikit tertahan oleh penjualan publik pertama cadangan minyak mentah di China.

Analis Pasar Minyak Senior di Energy Rystad Louise Dickson menilai tren kenaikan harga minyak masih akan terjadi. "Sebab, pasar menilai dampak gangguan pasokan akan berkepanjangan dan kemungkinan penarikan pasokan," ujarnya.

Dia melanjutkan, sejumlah gangguan dapat berlangsung selama berbulan-bulan dan menyebabkan penarikan tajam pasokan minyak mentah AS dan global. Penyulingan minyak AS pun berburu untuk menggantikan minyak mentah Teluk (Meksiko) AS, dengan beralih ke minyak Irak dan Kanada.

Sementara itu, impor minyak mentah India naik ke puncak tertingginya pada Agustus lalu, rebound dari level terendahnya pada Juli.

Negara penghasil minyak (OPEC) dan sekutunya (OPEC+) pun berjuang untuk meningkatkan produksi. Rusia, salah satunya, mengklaim akan tetap menjadi pemasok yang andal ke pasar global.

Analis Pasar Snior di OANDA Edward Moya pesimistis pasokan minyak mentah ekstra dari Iran akan terealisasi. "Mengingat negosiasi sanksi kesepakatan Nuklir Iran akan menjadi proses yang berlarut-larut," terang dia.

Di sisi lain, produsen minyak terbesar Kazakhstan, Tengizchevroil (TCO) yang dipimpin Chevron, akan menunda komponen proyek ekspansi senilai US$45,2 miliar selama tiga hingga 7 bulan ke depan.

Analis UBS memperkirakan harga minyak Brent bisa mencapai US$80 pada akhir September nanti yang disebabkan penarikan stok. Termasuk karena alasan produksi OPEC yang lebih rendah dan permintaan Timur Tengah yang lebih kuat. kbc10

Bagikan artikel ini: