Lebih rendah dari pemerintah, ADB prediksi ekonomi RI tumbuh 3,5% pada tahun ini

Kamis, 23 September 2021 | 12:25 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Asian Development Bank (ADB) memprediksi ekonomi RI tumbuh 3,5% di tahun 2021, sementara tahun depan tumbuhnya sekitar 4,8%. Prediksi ini lebih rendah dari target perkiraan pemerintah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebesar 3,7% hingga 4,5%. Prediksi tahun 2022 pun lebih rendah dari target Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebesar 5,5%.

Ekspor dan belanja pemerintah diperkirakan akan menjadi pendorong utama pertumbuhan di Indonesia tahun ini menurut Asian Development Outlook (ADO) 2021 Update. Kebijakan fiskal yang suportif dan kebijakan moneter yang akomodatif akan membantu mempertahankan pertumbuhan.

Pengeluaran rumah tangga diproyeksikan akan pulih tipis sebelum naik 5,0% tahun depan. Investasi menguat pada 2022 seiring mulai normalnya keadaan dan makin membaiknya iklim usaha.

"Perekonomian Indonesia mengalami penurunan yang relatif ringan pada 2020 berkat kebijakan pemerintah yang tegas dan tepat waktu untuk memberikan stimulus fiskal dan bantuan sosial kepada kelompok yang rentan untuk mencegah kerugian ekonomi jangka panjang. Pemulihan terus berlanjut pada paruh pertama 2021 berkat berbagai kebijakan tersebut dan didukung oleh ekspor yang kuat," kata Jiro Tominaga, Direktur ADB untuk Indonesia, dalam keterangan tertulis, Rabu (22/9/2021).

"Mengingat perdagangan dan pembiayaan global masih menghadapi sejumlah tantangan, akan sangat penting bagi para pembuat kebijakan untuk terus mengambil langkah-langkah yang dapat mengendalikan pandemi, mendukung pemulihan ekonomi, dan melaksanakan reformasi domestik," tambahnya.

Produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 3,1% pada paruh pertama 2021 seiring pelonggaran pembatasan dan permintaan yang kembali naik. Investasi pada aset tetap dan belanja pemerintah juga tumbuh dengan baik. Pengeluaran rumah tangga naik tidak terlalu tinggi karena tertahan oleh ketidakpastian yang masih terus membayangi. Impor meningkat sejalan dengan permintaan domestik, tetapi ekspor tumbuh lebih cepat.

Indikator kegiatan ekonomi melambat pada bulan Juli dan Agustus 2021 akibat pembatasan mobilitas demi mencegah lonjakan pandemi. Penurunan drastis angka infeksi baru sejak akhir Agustus seharusnya akan mendorong perekonomian untuk bertumbuh kembali dan PDB setahun penuh untuk 2021 akan melebihi tingkat pertumbuhan 2019.

Inflasi masih tetap terkendali dan diperkirakan mencapai 1,7% tahun ini, lebih rendah daripada proyeksi 2,4% yang dirilis ADB pada bulan April lalu, dan ini adalah akibat melambatnya pemulihan ekonomi.

Seiring kenaikan pertumbuhan tahun depan, inflasi juga akan merangkak naik mendekati tingkat pra-pandemi sebesar 3,0%, yang masih dalam rentang target Bank Indonesia 2%-3%. Defisit transaksi berjalan diproyeksikan akan sebesar 0,5% dari PDB pada 2021 dan 0,9% pada 2022.

ADB memperkirakan masih ada sejumlah risiko negatif, termasuk potensi wabah Covid-19 baru serta gangguan terhadap aktivitas perekonomian baik di Indonesia maupun luar negeri.

ADB berkomitmen mencapai Asia dan Pasifik yang makmur, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, serta terus melanjutkan upayanya memberantas kemiskinan ekstrem. Didirikan pada 1966, ADB dimiliki oleh 68 anggota, sebanyak 49 di antaranya berada di kawasan Asia dan Pasifik. kbc10

Bagikan artikel ini: