Produksi massal vaksin Covid-19 Merah Putih ditarget semester II tahun depan

Kamis, 16 September 2021 | 09:04 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah tengah melakukan riset dan pengembangan terkait produksi vaksin Merah Putih. Vaksin buatan dalam negeri ini ditarget mulai produksi massal pada semester II tahun 2022.

Direktur Utama PT Biotis Pharmaceutical Indonesia, FX Sudirman mengatakan, mengacu pada capaian saat ini, produksi massal vaksin Merah Putih ditarget sekitar semester II tahun 2022 mendatang. Hal ini, tentunya setelah melalui berbagai uji pra klinis, hingga uji klinis dalam tiga fase tingkatan.

"(Diharapkan) Produksi massal vaksin merah putih untuk memenuhi kebutuhan vaksin covid-19 masyarakat indonesia mulai 2022," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (15/9/2021).

Dia mengatakan, saat ini PT Biotis dan Universitas Airlangga sedang melakukan uji coba ke hewan Macaca atau primata. "Uji Praklinis ini ditargetkan selesai pada 30 September 2021 ini, mudah-mudahan hasilnya baik sehingga kita bisa siapkan uji klinis ke manusia dengan tiga fase," katanya.

Diketahui, uji klinis pada manusia ada dalam tiga fase, yakni fase pertama bagi 100 orang, fase kedua untuk 400 orang, dan fase ketiga untuk 3000 orang. Kemudian, jika hasilnya menunjukkan tren positif, Sudirman mengatakan masih perlu dilakukan upscaling untuk pilot production. Baru setelah itu bisa ditingkatkan lagi ke produksi massal.

Namun, dia mengatakan bahwa tantangannya adalah terkait alat dan barang pendukung untuk memenuhi produksi massal tersebut.

Sudirman mengatakan bahwa ada dua poin besar yang bisa dipelajari dari pola produksi perusahaan farmasi besar dalam memproduksi vaksin secara massal. Dia mengambil contoh dari perusahaan pembuat vaksin Sinovac, Sinopharm, AstraZeneca, hingga Moderna.

"Kami perlu melihat dan belajar dari apa yang sudah dilakukan oleh industri farmasi global di luar, bagaimana mereka memenuhi vaksin Covid-19 dunia dan jumlah yang sangat besar," katanya.

Poin pertama yang bisa jadi pelajaran, adalah perusahaan farmasi global tersebut memanfaatkan fasilitas yang ada di negaranya. Hal ini tentunya, kata Sudirman, mampu memotong waktu dalam pelaksanaan riset hingga produksi.

"Mereka kalau membuat fasilitas baru akan lama, logikanya bisa molor sampai 2-3 tahun, itu fasilitasnya baru ada, dan baru mulai," katanya.

Kemudian, poin kedua adalah terkait rantai distribusi. Hal ini diakui Sudirman sebagai kelemahan di Indonesia. Jika perusahaan global tersebut mampu dengan mudah mengakses supply chain logistik terkait alat-alat yang dibutuhkan, sedangkan Indonesia masih perlu mendatangkan dari luar negeri.

"Karena bahan baku produksi vaksin ini kita perlu impor. Meski seed atau isolatnya itu berasal dari indonesia, tapi agen media, peralatan sebagian besar kita impor dari luar," katanya.

Dengan kemudahan akses logistik tersebut, maka industri farmasi global itu bisa secara cepat memenuhi kebutuhan vaksin di wilayahnya.

Dia mengatakan, dalam keadaan normal, pembuatan vaksin sendiri membutuhkan waktu sekitar 4 sampai 5 tahun, bahkan ada yagn sampai 10 tahun. Dia menyoroti terkait kolaborasi antara pemangku kepentingan.

"Bagaimana kita belajar dari AS dan China mereka dukung industri biofarmasi untuk percepat itu (riset dan izin produksi), AS itu mendukung dari proses pengembangan praklinik sampai klinik dan kepastian pembelian, sehingga produsen vaksin memiliki kepastian, ketika sudah jadi bisa dibeli pemerintah," tuturnya. kbc10

Bagikan artikel ini: