Indonesia produksi mobil listrik pada Mei 2022

Rabu, 15 September 2021 | 16:38 WIB ET

JAKARTA, kabarbianis.com: Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan paling lambat Mei 2022 Indonesia sudah memproduksi mobil listrik.

Bahlil menjelaskan, produksi mobil listrik itu merupakan investasi Hyundai senilai US$ 1,55 miliar (setara Rp 21 triliun) yang ditandatangani pada November 2019.Kendati pandemi Covid-19 melanda sejak 2020, perusahaan asal Korea Selatan itu mampu untuk tetap merealisasikan investasi.

"Alhamdulillah tahap pertama mobil listrik yang kita tandatangani November 2019, mulai pembangunannya di 2020 sekalipun pandemi COVID-19. (Pada) 2022 bulan Mei paling lambat, insya Allah sudah produksi. Jadi mobilnya sudah paten. Jadi Insya Allah, (sudah) produksi kita," kata Bahlil dalam groundbreaking ceremony Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution di Karawang, Jawa Barat, Rabu (15/9/2021).

Selain membangun pabrik mobil listrik, Hyundai juga membentuk konsorsium yang terdiri atas Hyundai Motor Company, KIA Corporation, Hyundai Mobis, dan LG Energy Solution untuk bekerja sama dengan PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk membangun pabrik sel baterai kendaraan listrik (EV) di Karawang, Jawa Barat, dengan total nilai investasi sebesar US$ 1,1 miliar.

Fasilitas sel baterai yang dimulai pembangunannya Rabu ini rencananya akan memiliki kapasitas produksi sebesar 10 Giga watt Hour (GwH).Nantinya, pabrik ini akan menyuplai kendaraan listrik produksi Hyundai.

Bahlil mengemukakan, pembangunan pabrik sel baterai dengan kapasitas produksi 10 GwH itu merupakan bagian dari keseluruhan rencana proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi senilai US$9,8 miliar (setara Rp142 triliun) yang telah diteken dengan Korea Selatan.

Bahlil menyatakan, pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia dilakukan dengan konsep hilirisasi berbeda. Hal itu karena dimulai dari sisi hilir.

Pemerintah, lanjut Bahlil akan membuka kerean impor bahan baku dalam pengembangan baterai kendaraan listrik untuk dua tahun pertama. "10 GwH ini dua tahun pertama kita izinkan dulu impor bahan baku. Selebihnya ambil bahan baku dari negeri sendiri," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: