Terkikis kenaikan cukai, laba bersih HM Sampoerna susut 15,4 persen di semester I

Jum'at, 10 September 2021 | 13:17 WIB ET

JAKARTA, kabarbiania.com: PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) mencatat penurunan laba bersih perseoan sebesar 15,4 persen pada semester I tahun 2021. Hal ini terjadi lantaran kenaikan cukai secara signifikan.

Berdasarkan laporan keuangan semester I tahun 2021 dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, laba periode berjalan semester I tahun 2021 sebesar Rp 4,13 triliun turun dibanding periode sama tahun lalu Rp 4,88 triliun.

"Dampak negatif dari pandemi ini diperparah oleh imbas kenaikan cukai hingga dua digit dalam dua tahun terakhir," kata Presiden Direktur Sampoerna Mindaugas Trumpaitis dalam public expose, Kamis (9/9/2021).

Mindaugas menjelaskan, pada semester I tahun 2021 penjualan bersih HMSP mengalami kenaikan sebesar 6,5 persen menjadi Rp 47,6 triliun.

Namun, kenaikan cukai secara signifikan, turut menggerus laba kotor perusahaan pada periode yang sama dengan penurunan sebesar 9,3 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

Dia memaparkan, pandemi Covid-19 berdampak kurang baik terhadap Industri Hasil Tembakau (IHT) yang mewakili sekitar 4 persen dari total penyerapan tenaga kerja nasional.

Situasi IHT saat ini juga masih sangat rentan, sehingga penetapan kebijakan cukai tahun 2022 akan sangat krusial bagi keberlangsungan usaha dan penyerapan tenaga kerja di sektor tembakau.

"Kinerja IHT di tahun 2021, masih sangat dipengaruhi oleh dampak negatif pandemi Covid-19. Oleh karena itu, Pemerintah perlu mempertimbangkan kembali secara hati-hati rencana kenaikan tarif cukai 2022 untuk mendukung pemulihan IHT dari krisis sehingga turut berperan dalam pemulihan ekonomi nasional serta penyerapan tenaga kerja," kata Mindaugas.

Dia menambahkan, penurunan mobilitas dan ekonomi masyarakat yang cenderung negatif, secara keseluruhan berdampak langsung pada kondisi finansial perusahaan dan kontribusi pajak.

Terlepas dari berbagai tantangan yang ada, Sampoerna terus berupaya menjaga stabilitas bisnis dengan terus berkomitmen memperkuat inovasi dan strategi investasi, termasuk pada portofolio Sigaret Kretek Tangan (SKT).

"Demi memastikan kesinambungan segmen SKT yang padat karya, diharapkan pemerintah tidak menaikkan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) segmen ini pada 2022. Kebijakan tersebut diharapkan mampu mendorong daya saing SKT terhadap rokok mesin," tambah dia.

Selain padat karya, segmen SKT juga didominasi tenaga kerja perempuan yang sangat rentan ketika industri tertekan.

Oleh karenanya, kebijakan perlindungan segmen SKT sangat penting untuk dipertahankan tahun depan.

"Dengan tidak menaikkan tarif cukai, HMSP mampu menambah kapasitas produksi SKT melalui mitra produksi sigaret dengan menyerap lebih dari 6.000 orang tenaga kerja tambahan," tegas Mindaugas.

Di sisi lain, Mindaugas menilai rencana kenaikan target penerimaan negara dari cukai sebesar 11,9 persen tahun depan kiranya perlu dilengkapi oleh arah kebijakan yang tidak hanya membebankan cukai kepada IHT.

Selain itu, pemerintah perlu melanjutkan reformasi kebijakan struktur cukai untuk meningkatkan produktifitas dari kenaikan pajak yang mengalami penurunan signifikan dibandingkan beberapa tahun belakangan, terutama untuk cukai rokok buatan mesin. kbc10

Bagikan artikel ini: