Potensi besar, produsen lokal didorong pasok kotak vaksin Covid-19

Jum'at, 3 September 2021 | 16:36 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Di masa pandemi bisa menjadi momentum tepat untuk memperkecil ketergantungan terhadap produk impor. Di saat yang sama, pemerintah tengah melakukan reformasi di bidang industri kesehatan, sehingga Indonesia dapat mandiri terhadap kebutuhan farmasi dan tidak mengandalkan impor.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan, nantinya beragam alat kesehatan obat-obatan juga bisa diproduksi di dalam negeri. Bahkan belum lama ini sudah ada realisasi pembelian alkes lokal untuk pasar ekspor, ditambah sudah ada kolaborasi swasta-BUMN untuk penerapan teknologi IoT pada kotak vaksin dalam negeri.

Bahkan, Luhut juga mengungkapkan, perputaran yang di Industri kesehatan Indonesia mencapai Rp 490 triliun. Nilai nominal yang fantastis ini akan sangat berdampak sirkular jika pelaku usaha dalam negeri ikut menikmati industri tersebut.

Berkaca pada target vaksinasi harian yang ditarget hingga 2 juta dosis setiap harinya tentu akan membuka peluang permintaan terhadap perangkat pendukung seperti jarum suntik, vaccine carrier atau kotak vaksin, dan sarana penunjang lainnya. Harusnya, barang-barang tersebut bisa sepenuhnya di penuhi oleh produsen dalam negeri.

Kendati demikian, nyatanya dominasi produk impor untuk perangkat pendukung rantai dingin (cold chain) penyimpanan vaksin Covid-19 masih didominasi oleh produk impor. Padahal, kebutuhan perangkat cold chain merupakan syarat mutlak tata kelola vaksinasi, agar seluruh ampul vaksin Covid-19 tetap terjaga kualitasnya ketika disuntikkan ke masyarakat sehingga efektivitas dalam membentuk kekebalan bisa optimal.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalimantan Barat, Joni Isnaini, meyakini, para pengusaha nasional sudah mampu memproduksi perangkat pendukung cold chain, untuk seluruh vaksin Covid-19 yang tersedia di Indonesia. "Seharusnya dengan sasaran vaksinasi Covid-19 yang amat besar ke masyarakat, perangkat penunjang seluruh aspek cold chain perlu jadi perencanaan paling awal disiapkan. Bagaimana nanti kapasitas pasokan, perlu dipikirkan juga secara menyeluruh," ujar Joni.

Menurut Joni, pemerintah hanya perlu merangkul dan mendayagunakan perusahaan-perusahaan lokal yang sanggup memproduksi perangkat penunjang cold chain vaksin Covid-19 seperti vaccine carrier, alat suntik, dan lainnya.

"Sehingga ada keterbukaan berapa banyak produk-produk yang mampu dibuat di sini. Tidak seluruhnya mengandalkan barang impor luar negeri. Cara seperti itu tentu juga bagian dari kontribusi pengusaha nasional meringankan beban biaya pemerintah dalam hal stok alat kesehatan," ucap Joni.

Joni menuturkan, kerja sama antara pemerintah dan swasta dalam mempersiapkan pasokan lokal untuk kebutuhan vaksinasi Covid-19 akan turut membuahkan pertumbuhan ekonomi negara dan keuntungan kepada pengusaha di tengah situasi pandemi yang sulit.

Sebelumnya, pada tahun 2020, Kementerian Perindustrian juga menyatakan untuk kelompok barang bahan dan peralatan kesehatan (alkes) harus terdapat Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yakni 25% hingga 40% pada 1.628 produk dan 40% pada 234 produk. kbc10

Bagikan artikel ini: