Produk ayam olahan TIB tembus pasar Bangladesh

Sabtu, 28 Agustus 2021 | 08:23 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Meski di saat pandemi belum mereda, industri peternakan nasional berhasil menembus pasar internasional. Salah satunya, PT Tata Indah Bersinar (TIB) melakukan ekspor produk ayam olahan berupa chicken nugget ke Bangladesh sebesar 18 ton.

Direktur TIB Tjandra Srimulianingsih menuturkan ekspor chicken nugget dilakukan secara bertahap hingga akhir tahun 2021. Tjandra menerangkan suplai bahan baku untuk Rumah Potong Ayam (RPA) dan pabrik pengolahan berasal peternakannya sendiri yang telah menerapkan good farming practice (GAP).

"Semua alur produksi diawasi dokter hewan dan sarjana peternakan yang berpengalaman," ujar Tjandra disela acara pelepasan ekspor perdanana yang dihadiri Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dan Dirjen Peternakan Kesehatan Hewan (PKH) Nasrullah di Karawang, Jumat (27/8/2021).

Selaku pelaku usaha, pihaknya memberi apresiasi Kementerian Pertanian (Kementan) telah memberikan kemudahan memproses administrasi ekspor komoditi produk olahan unggas. Kementan tetap menjalankan pelayanan birokrasi tanpa harus pihaknya bertatap muka.

Dengan fasilitasi ekspor yang diberikan Kementan, PT TIB telah mengantongi dua sertifikat yakni veterinary health dan sanitary. "Dalam kondisi menegangkan seperti saat ini, pihak Kementan bersedia melayani kami dengan melalui online sehingga semua persyaratan ekspor dapat kami selesaikan baik secara teknis maupun secara administratif," terang Tjandra.

Bahkan menurut Arifin, Direktur PT Raja Jeva Nisi- anak perusahaan PT TIB, chicken nugget juga mendapat perhatian langsung Presiden Joko Widodo . Dibutuhkan waktu tiga bulan untuk melengkapi persyaratan dokumen ekspor. "Kita sama sekali belum pernah punya pengalaman (ekspor red). Tabrak sana tabrak sini," kata Arifin.

Arifin menerangkan perusahaan mengenalkan produk olahan ayam ke sejumlah negara di Asia. Adapun buyer dari Banglades yang pertamakali merespon proposal yang ditawarkan. Nilai ekspor chicken nugget sebanyak 18 ton ini mencapai USS 77,814 atau Rp 1,1 miliar atau US$3,92 per kilogram.

Diakui faktor ketelusuran sumber bahan baku yakni daging ayam yang berasal dari budidaya perusahaan sendiri dengan kandang modern terintegrasi dengan RPA mampu meyakinkan buyer. "Kita memperlakuan khusus di farm. Kebersihan harus terjaga . Ibu Tjandra sangat concern denngan pemeliharaan sesuai persyaratan GAP. Kita tidak gunakan antibiotik berlebihan," terang Arifin.

Arifin menambahkan, karkas dan bondless yang bersumber dari dua RPA dikawal rantai dingin yang sangat terjaga. Untuk sementara kapasitas perusahaan sebesar 15 ton yang 50 % diolah menjadi bentuk chicken nugget.

Arifin mengakui instalasi pengolahan ini memiliki kapasitas produksi 5 ton per hari yang baru beroperasi 1,5-2 tahun lalu. Karena itu baru menyerap 10%-15% dari dari total bahan baku ekor ayam yang dibudidayakan perusahaan.

"Potensi masih sangat besar (utilisasi produksi red). Kapasitas dua RPA yang kita miliki sebanyak 52.000 ekor. Jadi kita tidak membesarkan lagi budidaya tapi mengembangkan pasar," kata Arifin.

Selain chicken nuget, perusahaan juga mengolah delapan varian diantaranya karkas ayam, fillet daging sosis,spicy wing, spicy chick. Produk hasil ternak ini telah tersebar di beberapa modern market dan market plac. "Untuk pasar ekspor baru kita jajaki chicken nugget," terang Arifin.

Sementara, Syahrul Yasin Limpo mengatakan Kementan berkomiten mendorong pelaku usaha nasional mendorong industri pengolahan hasil ternak. Dengan begitu nilai tambah akan diterima perusahaan sekaligus menyerap tenaga kerja lokal.

"Kita tidak mempersoalkan berapa nilai eksornya tapi agar semua usaha peternakan dan kesehatan hewan baik skala besar, menengah bahkan mikro siap menghasilkan produksi yang berdaya saing. Ini juga menjadi solusi dari besarnya produksi ayam didalam negeri," kata Mentan.

Melalui Gerakan Tiga Kali Ekspor Pertanian (GRATIEKS), ekspor produk perternakan telah tumbuh 7,07% dalam triwulan II 2021 (YoY). Pertumbuhan tersebut telah menyamai pertumbuhan ekonomi nasional 7,07%.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Nasrullah mengatakan kapasitas produksi daging ayam ras nasional tahun 2021 sebesar 3,5 juta ton. Sedangkan konsumsi sebesar 3,12 juta ton. Artinya terdapat potensi surplus 377.000 ton daging ayam untuk diekspor.Dengan partipasi TIB maka menggenapkan menjadi 10 perusahaan pelaku usaha ekspor unggas di Indonesia.

Mengutip data BPS, kinerja ekspor komoditas peternakan periode Januari-Juli tahun 2021 mencapai 192.034 ton senilai US$ 808 ribu atau setara Rp 11,7 triliun. Dibandingkan dengan periode sama tahun 2020 (YoY), volume ekspor meningkat 9,72 % dan nilai ekspor 72,9%.kbc11

Bagikan artikel ini: