Bio Granola, benih kentang transgenik pertama yang siap dikomersialkan

Minggu, 22 Agustus 2021 | 22:19 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Hampir 20 tahun riset benih kentang produk rekayasa teknologi (PRG) /transgenik tahan hama lawar daun dilakukan hingga kini telah siap dikomersialisasikan. Benih kentang PRG ini dinamakan Bio Granola Agri Horti.

"Alhamdulillah, tanggal 12 Juli 2021 benih kentang PRG Bio Granola Agri Horti sudah ditantangani Menteri Pertanian Yasin Limpo .Dengan perjuangan yang sangat panjang benih kentang Bio Granola Agri Horti sudah bisa dikomersialkan," ungkap Prof Dr Muhammad Herman,Tim Teknis Keamanan Hayati (TTKH) dalam webinar IndoBIC di Jakarta, baru-baru ini.

Herman menunjuk kepada Keputusan Menteri Pertanian bernomor 548/Kpts/SR.130 /D/VII/2021 tentang Pemberian Daftar Varietas Kentang Granola. Sebelumnya, riset persilangan benih kentang PRG Bio Granola ini dimulai 2006. Kemudian, benih kentang Bio Granola memperoleh sertifikasi setelah lolos pengujian kemanan pangan di tahun 2016.

Adapun sertifikasi keamanan lingkungan diraih di tahun 2018. Hasil riset benih kentang besutan Badan Penelitian Tanaman Sayuran Lembang dan Balai Besar Biogen Balitbang Kementerian Pertanian ini menunjukkan penggunaan benih kentang PRG Bio Granola, petani memperoleh panen kentang hingga 30 ton per hektare (ha). Sementara petani yang menggunakan benih kentang granola konvensional hanya 15 ton per ha. Petani juga memperoleh penghematan usaha tani dari berkurangnya aplikasi pengguaan fungsida hingga 50%. "Ke depan kita melakukan perbanyakan benih kentang Bio Granola di Balitsa Lembang dan BBK Pangalengan," kata dia.

"P infestans sebagai penyebab penyakit hawar daun (busuk daun) pada tanaman kentang. Akibat serangan hama penyakit ini bisa menurunkan produksi hingga 100%. Khususnya ketika curah hujan tinggi," kata Hermawan.

Padahal untuk membasmi hama busuk daun ini, sambung Herman, petani kerap menggunakan fungsida yang membutuhkan biaya tinggi tapi berdampak negatif terhadap lingkungan. Aplikasi pengggunaan fungsida ini juga beresiko menggangu kesehatan baik hewan dan manusia.

Prof Bambang Purwantara, Direktur IndoBIC menuturkan terdapat di tahun 2021 terdapat dua regulasi penting terkait pengembangan tanaman PRG. Pertama,melalui Permentan No 50 Tahun 2020 terkait pengawasan dan pengendalian varietas tanaman PRG yang beredar di wilayah Repubik Indonesia. Regulasi lainnya berkenaan Keputusan Kepala Balitbangtang NO 337 Tahun 2021 mengenai pandundan pengujian dan penilaian varietas tanaman PRG dalam rangka pelepasan varietas tanaman.

"Teknologi yang saringannya begitu tajam adalah bioteknologi. Adapun manusia yang mengkosnumsi tidak perlu khawatir. Perjuangannya butuh waku hampir 20 tahun, Produk anak bangsa sudah hadir. Petani sudah lama menunggu dari hasil kentang 15 ton menjadi 30 ton per ha," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: