Bersama BSI, Pondok Pesantren El Rahmah cetak kader penghafal Al-Quran

Jum'at, 13 Agustus 2021 | 05:50 WIB ET
Sekretaris Yayasan El Rahmah, Rima Amalia, saat memproses penggajian tenaga pengajar melalui sistem payroll dari Bank Syariah Indonesia.
Sekretaris Yayasan El Rahmah, Rima Amalia, saat memproses penggajian tenaga pengajar melalui sistem payroll dari Bank Syariah Indonesia.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pembangunan gedung empat lantai Pondok Pesantren EL RAHMAH milik Yayasan El Rahmah di Dusun Simowau Kelurahan Sepanjang, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kini sudah mencapai 70 persen dan terus dikebut penyelesiannya. Para santri pun seolah sudah tak sabar lagi untuk segera bisa menempati gedung baru tersebut. Terutama 33 santri tahfidz putra pondok pesantren tersebut, karena rencananya gedung baru itu akan ditempati santri tahfidz putra dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Selama proses pembangunan gedung, mereka menempati bangunan di belakang gedung El Rahmah Faina Boarding di Kelurahan Pagesangan, Kecamatan Jambangan, Kota Surabaya. Sementara pengurus yayasan menjanjikan pembangunan gedung selesai dan siap ditempati sekitar empat bulan lagi. Tentu, yayasan juga tak sekadar mengobral janji manis itu, tetapi juga memberikan optimisme akan target penyelesaian gedung itu karena didukung oleh PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) selama proses pembangunan gedung.

Pemilik Yayasan El Rahmah, Siti Fathonah mengungkapkan, keberhasilan pembangunan gedung baru milik El-Rahmah itu tak lepas dari dukungan dan kepedulian BSI. Tidak hanya gedung yang sedang dibangun tersebut, hampir seluruh pembangunan gedung milik Yayasan El-Rahmah yang kini sudah dimanfaatkan melibatkan BSI, mulai dari pembangunan gedung Madrasah Ibtidaiyah (MI) sekitar tahun 2012 di kelurahan Pagesangan Jambangan Surabaya sampai gedung Pondok Pesantren El Rahmah Faina Boarding pada tahun 2018 yang juga berada di daerah Pagesangan.

“Alhamdulillah Yayasan El Rahmah bekerja sama dengan BSI sudah sekitar 9 tahun, sejak di Bank Syariah Mandiri Cabang Wiyung hingga diambil alih oleh BSI Cabang Jemursari. Mulanya kami meminjam Rp 500 juta di tahun 2012 untuk pembangunan lokal MI, saat siswa El-Rahmah masih sedikit. Setelah 5 tahun lunas, saya ambil pembiayaan lagi Rp 1 miliar di 2018 untuk pembangunan pondok pesantren putri El Rahmah Faina Boarding. Sekarang saya ambil pembiayaan hampir Rp 4 miliar untuk pembangunan gedung pondok putra dan sekolah MTS. Sekarang sedang proses pembangunan,” tutur Siti Fathonah saat ditemui kabarbisnis.com di kantor Yayasan El Rahmah di Pagesangan Surabaya, Sabtu (7/8/2021).

Siti Fathonah menjelaskan, selama ini BSI memberikan banyak kemudahan. Saat pertama kali dirinya mengajukan pembiayaan tanpa memiliki jaminan sertifikat tanah, hanya “petok D”, oleh BSI pengajuan tersebut tetap disetujui. Bukan itu saja, pembayaran angsuran atau ujroh juga dipermudah. Ujroh disesuaikan dengan kemampuan yayasan.

“Dua tahun ini saya minta pembayarannya agak diperkecil karena kebutuhan masih besar. Tetapi di bulan Januari-Maret pembayaran diperbesar dua kali lipat karena pemasukan kami juga lebih besar sebab ada pendaftaran siswa baru. Meski pendemi seperti ini kami ya berusaha untuk bertanggung jawab,” terangnya.

BSI juga memberikan pendampingan secara intens kepada yayasan. Dukungan Sumber Daya Manusia (SDM) BSI baginya menjadi semacam pemacu dan penyemangat bagi yayasan sebagai nasabah untuk taat dan teratur dalam membayar ujroh angsuran setiap bulan.

Pendampingan ini, menurut Siti Fatonah, sungguh sangat berarti bagi nasabah. Ia pun mengisahkan pengalamanya saat yayasan menghadapi kesulitan mengangsur cicilan karena dalam waktu yang sama kebutuhan dana yayasan juga cukup banyak dan mendesak untuk segera diselesaikan, sementara yayasan sendiri masih dalam tahap perintisan.

“Kita masih babat alas, siswa masih sedikit, yang membayar SPP juga belum disiplin seperti sekarang. Bu Anisah, Kepala Bank Syariah Mandiri Cabang Wiyung waktu itu, memberikan support agar saya bisa membayar. Dia bilang, Bu Fat harus bayar sekarang, apa saja dijual, jangan sampai terlambat, karena kalau sudah terlambat, ibu nanti tidak bisa pinjam lagi. Sampai Bu Anisa itu bilang ayo Bu Fat, saya yakin kalau ibu bisa bayar. Akhirnya semua perhiasan milik saya, mertua saya, saudara-saudara saya, saya gadaikan semuanya agar saya bisa bayar. Pendampingan seperti ini yang sangat diperlukan nasabah, jangan setelah memberikan pembiayaan dilepas begitu saja,” ungkap Siti Fatonah.

BSI juga sangat ketat dalam melakukan pemantauan peruntukan dana yang dipinjamkan. Jika dalam akad yang disetujui dana memang untuk pembangunan, maka BSI juga akan terus memantau pemanfaatannya. Pencairan dana pun tergantung kebutuhan dalam pembangunan.

“Kalau pinjam ya harus sesuai kebutuhan. Meski cair, diblokir kalau tidak ada laporan dulu. Kalau akad untuk pembangunan ya semua untuk pembangunan. Kalau ada kebutuhan pembangunan, kita bisa mencairkan, tetapi kalau saya alokasikan untuk yang lain, tidak bisa. Enaknya itu kita bisa mengontrol keuangan, bisa meminimalisir penyelewengan penggunaan,” terang Siti Fatonah.

Satu hal lagi, BSI juga memberikan dukungan melalui layanannya untuk mempermudah pengelolaan keuangan, salah satunya adalah layanan payroll. Sejak tahun lalu, El-Rahmah telah memanfaatkan layanan payroll BRI untuk membayar gaji tenaga pengajar, oleh karena itu semua pengajar yayasan juga diharuskan memiliki rekening BSI. Harapannya, semua pengelolaan keuangan yayasan akan dikerjasamakan dengan BSI. Termasuk pendanaan dalam pembangunan gedung Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA) Pllus untuk mencetak dokter dan perwira hafal Quran yang direncanakan dua tahun lagi. ”Harapan kita jalinan kerja sama ini akan terus berlanjut,” kata istri Ahmad Faisol Saifullah ini.

Yayasan El Rahmah memiliki visi mencetak generasi Qurani penghafal Quran yang bisa berkiprah di banyak bidang. Saat ini, total siswa lembaga pendidikan berbasis Metode Qiroati ini hampir mencapai 600 anak, mulai dari Kelompok Bermain (KB) hingga MTs. Dari jumlah tersebut, yang telah mengikut program tahfidz mencapai sekitar 300 anak dan yang menetap di pondok sekitar 61 anak. “Yang di MI itu kan ada sekitar 316 anak, mereka rata-rata sudah menghafal Quran. Saat ini yang sudah hafal 30 juz ada 3 siswi, terkecil usia10 tahun. Makanya kita buat MTs itu untuk menuntaskan yang belum khatam 30 juz,” kata Siti Fathonah

Nasabah percontohan

Sementara SME Relationship Manager BSI Area Surabaya Raya Isnainy Nur Abidah saat dikonfirmasi kabarbisnis.com, mengungkapkan bahwa Yayasan El Rahmah adalah salah satu contoh nasabah BSI yang cukup berhasil.Sejak menjadi nasabah Bank Syariah Mandiri pada tahun 2012, yayasan ini terus menunjukkan perkembangan yang cukup pesat.

“Untuk pengembangan pendidikan ini kan memang butuh support dari pihak ketiga. Dan kami melihat  respon masyarakat sekitar terhadap program pendidikan El Rahmah cukup bagus serta siswa yang diterima juga cukup banyak. Sementara dalam pengembangan yayasan pendidikan, El Rahmah memiliki keterbatasan dari sisi permodalan,” ungkapnya.

Dukungan pendanaan dari BSI terhadap yayasan yang fokus mencetak generasi penghafal Quran itu memang diupayakan tidak terputus hanya pada saat kredit dicairkan, tetapi terus berlanjut pada upaya pendampingan. Sambil menyelam minum, selama pendampingan BSI juga bisa mengembangkan produk lain untuk menunjang jasa pendidikan dan menjadikan yayasan El Rahmah lebih profesional.

Terbukti, melalui pendampingan BSI pengelolaan keuangan yayasan yang tadinya masih tradisional kini menjadi lebih profesional dan bankable. Tak hanya tenaga pengajar yang kini bisa menikmati kerja sama BSI dengan yayasan melalui layanan payroll, tetapi juga semua wali murid yang memanfaatkanya untuk membayar SPP bulanan. Ada sekitar 10 persen wali murid yang telah melakukan pembayaran SPP melalui transfer. Layanan itu tentu sangat membantu mereka, terlebih saat pandemi seperti sekarang, karena mereka tidak harus datang ke sekolah untuk sekedar membayar SPP bulanan.

Kedepan, Yayasan El Rahmah akan diarahkan pada program virtual account dan saat ini tengah dilakukan penyempurnaan dan sosialisasi karena yayasan tersebut adalan yayasan pendidikan yang didedikasikan untuk semua kalangan, utamanya kalangan menengah bawah. “El Rahmah ini adalah salah satu contoh nasabah yang cukup sempurna, baik dari sisi pendanaan maupun pembiayaan,” tandas Isnainy Nur Abidah.

Tingkatkan kualitas pondok pesantren melalui mobile banking

Secara terpisah, Regional CEO BSI Region Officer IX Surabaya, Ali Muafa mengatakan BSI berkomitmen membantumeningkatkan mutu atau kualitas pondok pesantren, khususnya dari sisi keuangan. Untuk itu, BSI terus berupaya menjalin kerja sama dengan banyak pondok pesantren, salah satunya dengan pondok pesantren yang dikelola oleh Yayasan El Rahma. 

Hingga saat ini, ada sekitar 300 pondok pesantren di seluruh wilayah Jawa Timur yang telah menjalin kerja sama dengan BSI. Beberapa pondok pesantren besar juga telah menjadi nasabahnya, diantaranya pondok pesantren Nurul Jadid di Paiton Probolinggo, pondok pesantren Sidogiri Pasuruan, Pondok Pesantren Langitan Tuban dan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

“Sampai akhir tahun, kami menargetkan ada sekitar 500 pondok pesantren di Jatim yang akan bekerjasama. kami berharap, target bisa tercapai karena Jatim adalah provinsi dengan jumlah pesantren terbanyak di Indonesia,” kata Ali Muafa saat dihubungi kabarbisnis via telepon, Senin (9/8/2021).

Ia mengatakan, minat pesantren untuk bekerja sama dengan BSI cukup besar karena menganggap BSI adalah satu-satunya lembaga keuangan yang berbasis syariah atau Islami. “Banyak program BSI yang menarik diantaranya payroll, SPP, uang jajan, pembayaran uang muka dan sebagainya,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan komitmen BSI untuk meningkatkan mutu pesantren memang cukup besar agar pesantren bisa maju dari sisi finansialnya. ”Kami support sepenuhnya dengan teknologi yang kami miliki seperti dengan layanan BSI Mobile.Dukungan juga dari sisi peningkatan produk yang dimiliki pesantren melalui program OPOP atau One Pesantren One Produk bersama pemerintah daerah,” ungkap Ali Muafa.

Program OPOP yang digagas Pemerintah Provinsi Jatim, menurut dia, cukup bagus untuk meningkatkan kemandirian finansial pesantren, walaupun saat ini masih belum dimulai karena masih menunggu koordinasi dengan pemerintah daerah.“Sekarang masih dalam tahap sosialisasi, harapan kami, setelah pandemi usai, program ini bisa kita genjot. Ini searah dengan program untuk UMKM,” terang Ali Muafa.

Program BSI yang juga sangat diminati pondok pesantren adalah program optimalisasi pengumpulan serta penyaluran zakat, infak, sedekah, dan wakaf atau ZISWAF. Selama ini potensi besar Ziswaf di Jatim belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Melalui kerja sama dengan pondok pesantren kita maksimalkan potensi Ziswaf di Jatim,” tegasnya.

Sekretaris Yayasan El Rahmah, Rima Amalia mengatakan, sebagai nasabah yang loyal, saat ini Yayasan El Rahmah telah memanfaatkan fasilitas online banking atau BSI Mobile.Fasiliats tersebut dinilai cukup membantu El Rahmah dalam mengelola keuangan dan melakukan sejumlah transaksi. Dari sisi operasional, layanan BSI Mobile ini jauh lebih mudah dan tidak ribet dibanding layanan serupa milik bank lain, cukup menggunakan nomor PIN yang diberi saat mengajukan. Tidak sampai memasukkan kode aktifasi berkali-kali.

“Jadi lebih cepat, mudah dan tidak ribet, kalau bank lain nunggu masukkan PIN dulu, setelah itu ada kode verifikasi,” kata Rima kepada kabarbisnis.com di kantornya, Sabtu (7/8/2021).

Beberapa fitur dan program biasa digunakan El Rahmah diantaranya adalah fitur pembayaran. Layanan ini digunakan untuk membayar tagihan listrik dan lainnya. Pun demikian, lanjut Rima, layanan payroll kepada sekitar 80 orang tenaga pengajar dari total 100 orang, baik guru mengaji ataupun sekolah di yayasan El Rahmah juga menjadi lebih cepat, mudah dan sederhana.

“Kalau dulu harus input nama satu-satu. Kalau sekarang kami tinggal rekap, kemudian dimasukkan di aplikasi, langsung sudah transfer semua. Yang lebih menarik lagi di BSI itu juga ada fitur donasi atau zakat. Kedepan, ketika ada donator akan kami arahkan menggunakan fitur ini,” terangnya.

Saat ini, El Rahmah memiliki lima rekening aktif di BSI. Rekening tersebut biasanya juga digunakan untuk menyimpan uang SPP dan pendaftaran serta donasi. “Rata-rata El Rahmah menyetor uang ke BSI Rp 7 juta per hari. Tetapi kalau ramai bisa sampai Rp 12 juta hingga Rp 20 juta per hari. Jadi kalau dihitung, dalam sebulan, El Rahmah menyetorkan uang ke BSI sekitar Rp 200 juta per bulan,” jelas Rima.

Tingkatkan kapabilitas digital

Sementara Direktur Utama BSI Hery Gunardi saat webinar dengan media, Jumat (30/7/2021) mengatakan, BSI akan terus meningkatkan kapabilitas digital. Pasalnya, volume transaksi kanal digital BSI tumbuh signifikan sepanjang triwulan kedua 2021. Hingga Juni 2021, nilai transaksi kanal digital BSI sudah menembus Rp 95,13 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari transaksi melalui layanan BSI Mobile yang naik 83,56 persen secara yoy. Jika dirinci, sepanjang Januari-Juni 2021, volume transaksi di BSI Mobile mencapai Rp 41,99 triliun.

“Sebagai bank yang menganut strategi bionic banking, BSI berkomitmen memperkuat layanan dan operasionalnya dengan digital. Salah satunya adalah peningkatan teknologi mobile banking, baik dari sisi kapabilitas, keandalan sistem, keamanan maupun fitur yang tersedia,” katanya.

Mobile banking saat ini telah menjadi pertarungan karena sudah banyak perbankan yang menggunakan mobile banking. Bahkan perbankan besar sudah melakukan transformasi mobile banking menjadi "Super App". "Ini juga yang akan dibangun BSI, menjadikan BSI Mobile menjadi Super App. Super App ini dari sisi user experience-nya memberikan kenyamanan dan kemudahan nasabah," terang Hery Gunardi.

Saat ini, sambung dia, kehidupan manusia telah beralih pada digitalisasi. Seluruh kebutuhan mereka, mulai dari bangun tidur, seperti membaca koran, membeli makanan hingga kerja terkoneksi dengan teknologi digital. Dengan adanya pandemi ini, hampir 90 persen kebutuhan mereka terkait dengan digital atau elektronik. "Ini yang menarik, karena itu BSI harus pandai melihat siklus kehidupan nasabah mulai dari bangun pagi hingga akan tidur dan bangun lagi, kebutuhannya apa saja. Ini yang akan kami servis dari sisi mobile banking dan digitalnya," ujarnya.

Dalam kesempatan sama, Direktur Informasi dan Teknologi BSI Achmad Syafii menyatakan, BSI berupaya menjalankan konsep digital dengan sepenuhnya. Beberapa upaya yang dilakukan diantarnya adalah membuka rekening BSI sudah sepenuhnya dilakukan dengan cara digital. 

"Ini sangat penting karena membuka rekening menjadi pintu masuk pertama. Jangan sampai pintu masuk pertama menyulitkan calon nasabah. Dalam waktu kurang dari limamenit, nasabah tidak perlu lagi ke cabang, mereka sudah bisa membuka rekening, selanjutnya nasabah sudah sepenuhnya dapat bertransaksi. Jadi tidak ada lagi proses membuka rekening melalui digital tetapi masih harus ke cabang untuk mengambil kartu. Karena dalam BSI mobile nasabah langsung bisa melakukan transaksi secara lengkap. Termasuk diantaranya adalah untuk menarik tunai tanpa kartu," terang Achmad Syafii. kbc6

Bagikan artikel ini: