BULOG fokus produksi beras premium pada 2022

Kamis, 12 Agustus 2021 | 20:11 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perum BULOG segera mengubah skema pembelian hasil panen petani dari beras menjadi gabah. Dengan begitu perusahaan akan memproduksi beras kualitas premium di tahun 2022.

Dirut Perum BULOG Budi Waseso menegaskan, perusahaan segera mengoperasikan 13 unit Modern Rice Milling Plant (MRMP) dengan teknologi terkini yang lokasinya berada di wilayah sentra produsen.Dengan infrastruktur paska panen ini , akan menghasilkan beras dengan kualitas jauh lebih baik.

Menurut Buwas, begitu biasa disapa ,ongkos produksi beras medium dan premium tidak jauh berbeda.Petani tidak perlu risau dengan hasil panen gabahnya BULOG siap menyerap sesuai harga pembelian pemerintah.

"Petani cukup memproduksi gabah dan menjual gabah, kemudian yang bertanggungjawab atas gabah itu BULOG . BULOG memiliki kapasitas silo sebesar 6.000 ton," ujar mantan Kabareskrim Polri ini di Jakarta, Kamis (12/8/2021).

Buwas optimis kehadiran beras premium akan menghapus ketergantungan Indonesia akan beras impor. Hal ini bukan mustahil karena, BULOG akan dapat menyimpan gabah dalam waktu lama di silo tanpa khawatir mengalami penurunan mutu.

Buwas mengakui, sarana pergudangan BULOG yang ada tidak dikhususkan sebagai sarana khusus penyimpanan beras. Namun dengan penyimpanan di Silo ,BULOG bebas mengolah gabah menjadi beras sesuai kebutuhan pasar.

Buwas menyebut, hal ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menyajikan pangan dengan kualitas terbaik kepada masyarakatnya. "Kita nanti akan menyimpannya, walau itu CBP tapi itu beras premium. Saya berharap TNI, Polri, ASN menggunakannya beras dari negara. Produksi itu mampu kita serap dan kita gunakan, jadi tidak ada lagi itu yang namanya impor," kata Buwas.

Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik Sumyato mengatakan sumber pendanaan dari pembangunan 13 unit MRMP berasal dari Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) di tahun 2016 sebesar Rp 2 triliun. Manajemen menargetkan bulan Oktober -November 2021 sudah memasuki fase commisioning (uji coba).

"Kita harapkan sebelum musim panen rendeng (penghujan red) ke 13 MRU sudah dapat beroperasi penuh mulai awal tahun 2022.Dengan keberadaan MRMP kita perlukan untuk mencegah harga gabah petani anjlok dari harga pembelian pemerintah," terang Sumyamto kepada kabarbisnis.com.

Menurutnya, kapasitas produksi mesin dyer sebesar 125 ton per siklus.Adapun untuk kapasitas mesin pengolahan mampu menghasilkan 10 ton beras.

Selain beras, BULOG juga akan mengoperasikan mesin corn drying center (CDC) di Kabupaten Dompu,Nusa Tenggara Barat dan Bolaang Mongondow Sulawesi Utara. Melihat potensi spesifik wilayahmya, sasaran pemasarannya adalah ekspor.

"Sementara untuk CDC di Grobogan , dan Wonogiri Jawa Tengah masih dalam proses lelang. Kalau disini , dapat juga untuk mengeringkan gabah.Kapasitas simpan silo 6.000 ton dan produksi juga 10 ton per siklus," ujarnya.

Sumyato berharap, pengoperasian CDC akan menyerap jagung petani sekaligus menjadi penyedia jagung pakan untuk peternak unggas mandiri yang selama ini kerap kesulitan akses bahan baku jagung. Meski untuk sementara perusahaan menggunakan skema pembelian jagung komersial. "Kalau sudah ada penugasan khusus pemerintah baru akan kita maksimalkan fungsinya," pungkas Sumyato.kbc11

Bagikan artikel ini: