Temuan KSP: Jadi tumpuan daerah sekitar, Kota Palu butuh penguatan fasilitas kesehatan

Kamis, 5 Agustus 2021 | 07:59 WIB ET

PALU - Tim dari Kantor Staf Presiden (KSP) mendorong penguatan dan dukungan fasilitas kesehatan untuk Kota Palu, Sulawesi Selatan, agar mampu menjadi kota tumpuan bagi kabupaten dan kota di sekitarnya.

Dalam program verifikasi lapangan selama 4 hari di beberapa kawasan di Provinsi Sulawesi Tengah, tim KSP menemukan fakta bahwa Kota Palu menjadi salah satu kota di Indonesia dengan penambahan kasus COVID-19 tertinggi setiap harinya.

Namun di tengah situasi krisis tersebut, Kota Palu membuktikan dirinya mampu menjadi kota tumpuan yang setidaknya dapat memberikan layanan fasilitas kesehatan yang memadai untuk pasien COVID-19 dari wilayah kabupaten lain.

Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan pada Rabu (4/8), tim KSP menemukan bahwa Kota Palu sekurang-kurangnya memiliki 7 rumah sakit rujukan COVID-19, namun hanya 3 rumah sakit saja yang mampu memberikan penanganan COVID-19 yang optimal diantaranya Rumah Sakit Umum (RSU) Anutapura Palu, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Madani, dan RSUD Undata Palu.

Ketiga rumah sakit tersebut menjadi rumah sakit rujukan utama bagi pasien COVID-19 yang tidak hanya berdomisili di Palu, namun juga warga domisili Sigi dan Parigi. Hal ini dikarenakan Sigi dan Parigi adalah dua kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah yang tidak memiliki fasilitas kesehatan yang memadai untuk penanganan COVID-19.

Padahal, Ketua Surveillance Kota Palu sekaligus ketua Satgas COVID-19 Kota Palu, dokter Rochmat Jasin mengungkapkan kondisi keterisian tempat tidur (BOR) perawatan COVID-19 di tujuh rumah sakit di Kota Palu sendiri sudah mencapai hampir 95 persen.

“Dari sekitar 479 kapasitas tempat tidur, kurang lebih 309 tempat tidur telah ditempati oleh pasien yang terkonfirmasi positif. Angka ini hanya menggambarkan situasi di Palu saja, belum di daerah atau kabupaten lain,” dr. Rochmat Jasin mengatakan kepada tim KSP.

Lebih parah lagi, lanjut Rochmat, Kota Palu belum memiliki Fasilitas isolasi mandiri (isoman) bagi warga masyarakat. Hal ini pun berdampak pada jumlah warga yang meninggal saat melakukan isoman COVID-19 tanpa mendapatkan pantauan yang memadai, yakni terhitung 7 orang telah meninggal dalam kurun waktu seminggu terakhir saat melakukan isoman.

Lebih lanjut Rochmat melaporkan terkait beban tugas tenaga kesehatan (nakes) yang kian bertambah dalam melakukan proses tracing dan tracking dengan jumlah personil yang sedikit. Bahkan, menurut dia, sebagian besar nakes yang dipekerjakan di Kota Palu adalah para relawan murid sekolah medis atau mereka yang memiliki pengetahuan atau pengalaman di bidang medis.

“Bayangkan betapa kewalahannya Puskesmas penanganan COVID-19. Karena jika terdapat 1 kasus terkonfirmasi, maka setidaknya ada 10 orang yang melakukan tracing dan tracking kepada kontak terdekat,” imbuhnya.

Selain itu, Gudang dan Instalasi Farmasi Kota Palu yang menyimpan dan memasok sejumlah kebutuhan dari 14 puskesmas di Kota Palu, juga melaporkan tentang stok vaksin yang menipis.

“Awalnya kami diberi 2,000 dosis vaksin Sinovac dari pemerintah Provinsi Sulteng pada 2 Agustus lalu, namun jumlah tersebut sudah sangat berkurang menjadi 200 dosis saja sekarang karena sudah disebarkan ke puskesmas-puskesmas. Namun ini pun masih dirasa kurang,” Rini Margareta, staf instalasi farmasi kota Palu, melaporkan pada tim KSP. 

Ia mengaku bahwa bantuan vaksin dari pemerintah daerah hanya dikirimkan dalam dosis-dosis yang sedikit dan tidak mencukupi kebutuhan 14 puskesmas di Palu. Namun, disamping itu, instalasi farmasi juga hanya memiliki 2 tempat penyimpanan vaksin bersuhu 2°C s.d 8°C untuk vaksin Sinovac dan satu lemari pendingin bersuhu dibawah 0° untuk penyimpanan vaksin Moderna dan polio.

Selain itu, menurut pernyataan satgas COVID-19 di kota Palu, angka presentasi vaksinasi di kota Palu saat ini hanya mencapai 23 persen saja.

“Kota Palu ini seakan-akan menjadi tumpuan bagi kabupaten-kabupaten sekitarnya. Padahal sistem kesehatan di kota Palu sendiri sudah cukup kelabakan menopang dirinya sendiri dalam menghadapi peningkatan kasus COVID-19 akhir-akhir ini,” kata Fajrimei A. Gofar selaku Tenaga Ahli KSP.

Fajrimei menyatakan bahwa kota Palu perlu mendapatkan dukungan dan penguatan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan, agar Palu tetap mampu menjadi kota tumpuan yang dapat memberikan bantuan kepada kabupaten dan kota di sekitarnya.

Ia pun mengapresiasi pemerintah dan satgas COVID-19 kota Palu yang tanggap dalam menangani bencana COVID-19 di kota tersebut di tengah keterbatasan yang ada. 

“Oleh karenanya, saya pikir pemerintah kota Palu perlu mendapatkan dukungan dalam menangani situasi COVID-19 ini,” imbuhnya.

Ia juga menegaskan bahwa bukan hanya kota Palu yang perlu mendapatkan penguatan sistem dan fasilitas kesehatan, namun kabupaten-kabupaten seperti Sigi, Parigi dan kabupaten di kawasan lainnya di Sulawesi Tengah juga harus mendapatkan perhatian untuk membangun sistem kesehatan yang kuat dan mandiri bagi masyarakatnya. kbc9

Bagikan artikel ini: