AESI: Penggunaan PLTS atap dorong wirausahawan energi terbarukan

Senin, 26 Juli 2021 | 19:05 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Atap diyakini semakin menjadi pilihan masyarakat yang membutuhkan akses energi listrik yang efisien dan harga murah.

Data Kementrian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan penggunaan PLTA Atap dari hanya 351 pengguna pada saat Maret 2018 melejit menjadi hampir 10 kali lipatnya yakni 3472 pengguna pada Maret 2021 hanya dalam 3 tahun terakhir. Dari data tersebut menunjukkan penggunaan PLTS Atap sebagai respon dari gaya hidup masyarakat mengkonsumsi energi lebih rasional.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Anthony Utomo dalam webinar di Jakarta, Senin (26/7/2021) mengutarakan pihaknya menargetkan dapat membentuk 1.000 Solarprenuer atau wirausahawan skala usaha mikro kecil menengah (UMKM) sektor energi baru dan terbarukan (EBT) guna melayani calon konsumen di seluruh Indonesia terkait penyediaan kebutuhan energi terbarukan nasional. Sejak dibentuk tahun 2016, menurut Anthony, AESI memiliki 200 anggota yang terdiri dari perusahaan energi dan developer.

Selain itu ada juga dari pengusaha, supplier konsultan hingga elemen masyarakat yang antusias terhadap penggunaan PLTS.Penggunaan PLTS Atap bukan hanya segmen residensial namun juga dari industri. Pemilihan PLTS Atap sebagai sumber energi dipilih karena mampu menyediakan sumber energi dengan biaya produksi yang efisien dan ramah lingkungan.

Karenanya dia meyakini PLTS atap menjadi salah satu peluang usaha dan berperan dalam penciptaan lapangan kerja di Tanah Air seiring diusulkannya menjadi proyek strategis nasional . Tentunya dengan catatan, pemerintah semestinya juga memberikan perlakukan hal yang sama di setiap unit kerja kementerian yang melakukan pembinaan dan membentuk wirausahawan sektor energi terbarukan.

Hal itu mencakup penciptaan entreprenerur EPC pemasangan PLTS Atap, kesiapan operation maintennance paska pemasangan, penyediaan teanga terlatih yang dapat menjadi tenaga pemasangan lokal. Hal lain mencakup kanal informasi bagi early adopter user.

"UMKM sektor energi belum ada. Bagaimana pemerintah bisa menerapkan standar sehingga pekerja juga terlatih bisa memasang solar dan melayani jika pelanggannya berada di luar kota seperti Manado.Bukan asal memanggil tukang servis AC karena tanpa pengetahuan memadai justru akan menyebabkan kerusakan panel," terangnya.

AESI saat ini mendorong akselerasi net metering dari 65 % menjadi 100% agar pengguna dapat merasakan manfaat penurunan harga tagihan listrik dari PLN. Net metering merupakan sistem layanan ,ketika kelebihan listrik yang dihasilkan PLTP Atap dapat dikirimkan ke jaringan distribusi PLN. Setelah itu dapat digunakan kembali untuk dikonsumsi rumah tangga tersebut.

"Mekanisme PLN tidak memeberikan kita uang tapi memberikan kita semacam potongan harga yang tadinya per tiga bulan kemudian oleh Kementerian ESDM didorong menjadi enam bulan," kata Anthony.

Hingga Maret 2021, total jumlah pelanggan PLTS Atap PLN tercatat sebanyak 3.472 pelangan dengan total kapasitas daya listrik yang dihasilkan mencapai 26,51 megawatt peak (MWp). Jawa Barat merupakan wilayah dengan pemanfaatan PLTS Atap terbesar di Indonesia yang dapat menghasilkan listrik sebesar 6,17 MWp. Kemudian disusul Jakarta Raya sebesar 5,87 MWp.Kemudian Jateng dan Yogyakarta sebesar 5,31 MWp.kbc11

Bagikan artikel ini: