BUMN PT Berdikari tawarkan angkat harga ayam peternak

Jum'at, 23 Juli 2021 | 12:35 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Harga ayam ras pedaging broiler tersungkur menembus Rp 10.000/kilogram (kg) hidup/livebird. Padahal biaya pokok produksi (BPP) mencapai Rp 18.890 /kg.

Sejumlah jurus pendalian pasokan livebird diantaranya pengurangan anak ayam umur sehari/DOC Final Stock (FS) pembatasan jumlah umur tetas 18 hari/hatching egg (HE), pengurangan jumlah setting HE di mesin tetas hingga afkir dini bibit ayam (Parent Stock/PS)sejak tahun 2020. Pandemi Covid-19 dituding menyebabkan merosotnya konsumsi ayam di masyarakat.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kementerian Dalam Negeri Oke Nurwan dalam webinar yang digelar PATAKA , Kamis (25/7/2021) menuturkan, mahalnya BPP ayam dipacu makin harga jagung untuk kebutuhan industri pakan yang menembus Rp 8.025/kg. Padahal, di awal tahun harga produk serelelia ini masih berkisar Rp 6.974/kg kg.

Hal tersebut sangat kontras dengan harga jagung di tingkat peternak dengan kadar air 15% sesuai Permendag No 70 tahun 2021 ditetapkan Rp 3.150 per kg. Sementara harga DOC sebesar Rp 5.225 per kg masih 4,5% di atas harga batas bawah penjualan.

Direktur PT Berdikari (Persero) Harry Warganegara menuturkan, Berdikari menawarkan risiko flukutasi harga luvebird dapat ditingkat peternak dapat ditekan. Harry mengaku Kementerian Pertanian memberikan kuota importasi Grand Parent Stock (GPS)/ indukan bibit ayam broiler sebesar 32.000 ekor setara 1,2 juta ekor PS. Menurut Harry, dari alokasi tersebut Berdikari menempati posisi empat besar importasi GPS sejak tahun 2020.

Namun, disparitas volume impor GPS sangat besar,misalnya PT Charoen Popkhan Tbk yang diberikan 1,9 juta ekor. Sementara, PT JAPFA Tbk sebesar 1,6 juta ekor.

Harry melihat surplus produksi ayam bukanlah menjadi penyebab gejolak harga ayam apabila hilirisasi industrinya berjalan. Meski pandemi, masih terdapat negara yang masih membutuhkan impor ayam.

Dibutuhkan kajian lebih mendalam, apabila pandemi dijadikan alasan penurunan konsumsi.Semestinya semua produksi pangan juga mengalami over supply. Padahal faktanya konsumsi sapi terus meningkat.

"Setelah bisnis produk olahan sapi, Berdikari menyiapkan ayam sebagai opsi. Kita masukan sachet ready to eat bisa dikonsumsi untuk bansos atau kebutuhan pasar premium dan travel. Ke depan akan kita kembangkan," terangnya.

Berdikari, sambung Harry, telah menawarkan konsep sinergi hulu ayam pedaging. Berdikari bersama RNI melakukan penyerapan karkas peternak rakyat. Caranya melalui kemitraan peternak rakyat yang dibiayai KUR dengan modal Rp 500 miliar-Rp 1 triliun dengan HIMBARA.

Sementara Kementan menjadi avails. "Kalau BUMN hadir, ini dijalankan, harga livebird dapat sesuai acuan Kemendag. Saya yakin tidak perlu setting HE dan afkir dini. Kita simpan melalui sistem resi gudang sampai 1,5 tahun dan buat cold storage di Jabar, Jateng dan Jatim. Tidak tertutup kemungkinan diekspor," harapnya.

Terkait kemitraan, Berdikari telah membuka penjualan DOC FS yang dipelihara peternak mitra baik yang tergabung dalam koperasi maupun gabungan peternak .Berdasarkan catatannya sudah 1.700 peternak bergabung. "Jika peternak ingin masuk ke bibit kami membuka luas, ayok sebelum minta GPS dari pemerintah kelola saja PS dari kita," ujarnya.

Oke kembali menjelaskan, pemerintah tengah berupaya mendapatkan bahan baku pakan unggas dari pasokan impor seperti bungkil kedelai. Kemendag sudah melakukan penjajakan melalui US Grains Council.

Oke menuturkan, impor bahan baku akan dilakukan lewat penugasan ke BUMN. Meski begitu diakui belum ada konsep penugasan yang lengkap ke BUMN dalam importasi bahan baku pakan ternak. "Yang jelas, ini perlu diperkuat karena harga dibentuk mekanisme pasar dan intervensi dilakukan lewat penugasan BUMN," ujar Oke.

Ketua Pataka, Ali Usman menilai carut marut bisnis perungasaan nasional salah satu penyebabnya disebabkan ketidakjelasan pengusahaan sapronak perusahaan kelas gajah yang telah berlangsung lama di Tanah Air. Sebagai regulator, semestinya melindungi kelompok usaha UMKM yang rentan terhadap polarisasi bisnis yang semakin liberal.kbc11

Bagikan artikel ini: