Pemerintah perluas gas murah ke 13 sektor industri

Jum'at, 25 Juni 2021 | 10:30 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Perindustrian mengajukan perluasan implementasi harga gas sebesar US$6 per mmbtu untuk 13 sektor industri. Pengajuan ini di luar tujuh sektor industri yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 40/2016.

Saat ini usulan Kementerian Perindustrian tersebut dalam kajian Kementerian ESDM. Sebelumnya hanya tujuh industri yang berhak mendapatkan harga gas US$ 6 per mmbtu. Ketujuh sektor tersebut adalah industri pupuk, petrokimia, oleokimia, baja, keramik, kaca dan sarung tangan karet.

Ke depan, Kementerian Perindustrian ingin memperluas implementasi untuk 13 sektor industri lagi. Adapun 13 sektor itu adalah industri ban, makanan dan minuman, pulp dan kertas, logam, permesinan, otomotif, karet remah, refraktori, elektronika, plastik fleksibel, farmasi, semen dan asam amino.

Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian, Fridy Juwono memaparkan, sampai saat ini ada permintaan dari pelaku industri lain yang mengharapkan keadilan dari kebijakan gas industri.

"Jadi tak hanya untuk tujuh sektor industri, tapi juga bisa diimplementasikan pada sektor industri lain. Kami sudah mengajukan agar dapat diperluas ke 13 sektor industri untuk mendapatkan harga gas US$ 6 per mmbtu," kata dia dalam forum webinar dengan tema Efektifitas Kebijakan Harga Gas dalam Meningkatkan Daya Saing Industri Indonesia, Kamis (24/6/2021).

Dari 13 sektor industri ini, ada 80 perusahaan yang diajukan untuk mendapatkan harga gas bumi tertentu (HGBT) dengan alokasi volume gas maksimal 169,64 bbtud. Dalam proses pengajuan, Kemperin mensyaratkan ke 13 industri tersebut memberikan penjelasan dan justifikasi untuk mendapatkan harga gas US$6 per mmbtu.

Dalam hal ini, pelaku industri harus dapat memperjelas proyeksi dan kinerja bisnis perihal peningkatan utilitas, efisiensi, pembayaran pajak, dan terpenting investasi ekspansi bisnis setelah mendapatkan gas murah dari pemerintah.

"Inilah syarat yang sudah kami sampaikan kepada asosiasi, kemudian sudah dijawab. Saat ini sedang diteruskan ke Kementerian ESDM untuk dinilai apakah 13 sektor industri tersebut layak diberikan," kata Fridy.

Menurut dia, pelaksanaan harga gas murah ke sejumlah sektor  industri bertujuan meningkatkan produktivitas dan daya saing industri sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Saat ini pihaknya membidik target ekspor dan rencana meningkatkan substitusi produk impor.

Sementara Ketua Asosiasi Semen Indonesia, Widodo Santoso mengatakan, harga gas murah khususnya dibutuhkan produk semen putih. Saat ini harga gas masih tinggi sehingga harga jual produk tidak kompetitif di pasar luar negeri. "Selain ekspor, semen putih juga untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur dan perumahan di seluruh Indonesia," ungkap dia.

Sementara Kementerian Perindustrian memperkirakan total investasi yang masuk Indonesia mencapai Rp 191,09 triliun dari enam sektor industri. Investasi itu antara lain dari 11 perusahaan di sektor pupuk dan petrokimia dengan nilai Rp 112,86 triliun.

Kemudian enam perusahaan dari sektor baja Rp 70,98 triliun, empat perusahaan di sektor oleokimia Rp 4,54 triliun. Sisanya sektor keramik Rp 1,96 triliun, sarung tangan karet Rp 567,07 miliar dan kaca Rp 174 miliar.

Fridy mengatakan, implementasi kebijakan HGBT telah memberikan dampak positif bagi industri.

"Terjadi peningkatan utilitas industri penerima harga gas bumi tertentu. Di industri kaca, terjadi peningkatan utilitas sampai dengan 100%, kemudian industri keramik mampu pulih dengan cepat dan utilitas meningkat terus hingga pada akhir tahun lalu mencapai 70%," jelas dia. kbc10  

Bagikan artikel ini: