Menteri Bahlil buka peluang pengusaha muda sukseskan hilirisasi SDA

Sabtu, 19 Juni 2021 | 22:22 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah tengah mendorong hilirisasi sumber daya alam (SDA) sehingga bisa menciptakan nilai tambah pada produk ekspor.

Bahlil menuturkan, Indonesia harus menghindari ekspor bahan mentah seperti pada zaman Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) dulu kala. "Terpenting adalah tidak boleh lagi bahan baku kita dibawa keluar. Ini nilai tambahnya kita tidak dapat. Indonesia harus betul-betul dikenal dengan kemampuan hilirisasi pada SDA. Jangan ekspor sama seperti zaman VOC. Ini menurut kami tidak bagus ke depan," ujar Bahlil, dalam acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), di Jakarta, Sabtu (19/6/2021).

Dia menambahkan, agar ekspor tidak seperti zaman VOC, pemerintah sudah melakukan banyak upaya. Salah satunya, melarang ekspor ore nikel supaya bahan tambang itu bisa diolah pada smelter dalam negeri dan memberikan nilai tambah baru diekspor.

Upaya ini juga sejalan dengan target pemerintah menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara produsen baterai listrik terbesar di dunia. Pasalnya, bahan baku utama pembuatan baterai listrik tersebut berada di Indonesia yakni nikel itu sendiri. "Bagaimana caranya kita harus jadi negara produsen terbesar baterai mobil listrik di dunia sekarang sudah kami dorong ore nikel tidak boleh ekspor," ucapnya.

Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) HIPMI masa bakti 2015-2019 itu menambahkan sudah ada pemain global yang berkomitmen untuk menanamkan investasi di Indonesia yakni LG dengan nilai investasi US$9,8 miliar dan CATL sebesar US$5,2 miliar.

"Investasi sudah masuk di Batang (Kawasan Industri Batang) nanti pemain besar baterai itu kan LG sama CATL. LG sudah investasi nanti konsorsium dengan BUMN nilainya US$9,8 miliar atau Rp 142 triliun. Itu investasi terbesar pasca reformasi dalam sejarah Indonesia tidak pernah kita sebesar itu," ungkapnya.

Di kesempatan sama, Ketua Umum BPP HIPMI Mardani H. Maming mendorong industri ini tentu menjadi peluang untuk bagaimana HIPMI bersinergi dengan investasi yang ada. Menurutnya, sebesar 80 persen komponen baterai listrik adalah nikel. Sementara, sebesar 25 persen cadangan nikel dunia berada di tanah Indonesia.

"Saya menyambut baik tentu dari sisi pengusaha menjadi momentum yang sejalan dengan pemerintah untuk menggenjot pembangunan fasilitas pengolahan smelter di dalam negeri. Beriringan, pemerintah juga akan menarik investasi masuk pada industri baterai mobil listrik untuk mendukung target produksi baterai listrik. Kita siap sinergikan untuk memperkuat industri kita dan membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya," tutur Maming.kbc11

Bagikan artikel ini: