Pemerintah larang 3 vaksin ini disertakan dalam Vaksinasi Gotong Royong

Kamis, 17 Juni 2021 | 08:23 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menegaskan bahwa Vaksinasi Gotong Royong tetap tidak boleh menggunakan vaksin Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, dan Novavax mesikpun sudah diatur bisa menggunakan vaksin yang sama dengan program pemerintah.

Kemenkes telah memperbarui aturan mengenai pelaksanaan vaksinasi dalam rangka penanggulangan pandemi Covid-19 untuk meningkatkan cakupan dan mempercepat program vaksinasi nasional. Dalam aturan terbaru tersebut, vaksin Covid-19 merek Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, dan Novavax tetap tidak dapat dipergunakan untuk Vaksinasi Gotong Royong.

Ketentuan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 18 Tahun 2021 yang disahkan oleh Menteri Kesehatan pada 28 Mei 2021, menggantikan Peraturan Menteri Kesehatan yang sebelumnya Nomor 10 Tahun 2021. Juru Bicara Covid-19 dari Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menjelaskan dalam aturan yang baru, Kemenkes mengizinkan penggunaan jenis vaksin Covid-19 yang dipergunakan dalam Vaksinasi Gotong Royong, dalam hal ini vaksin Sinopharm, sebagai Program Vaksinasi Pemerintah yang gratis.

Hal ini perlu diatur mengingat 500.000 dosis vaksin Sinopharm yang diperoleh merupakan hibah dari pemerintah Uni Emirat Arab sehingga tidak dapat diperjualbelikan.

"Poin utama dari aturan ini untuk mengatur bahwa pemerintah diperbolehkan menerima vaksin yang sama dengan yang digunakan dalam Vaksinasi Gotong Royong selama itu merupakan skema hibah atau bantuan secara gratis. Bukan malah sebaliknya," kata Nadia, Selasa (15/6/2021).

Hingga saat ini, vaksin yang telah ditetapkan untuk program Vaksinasi Gotong Royong diantaranya adalah Sinopharm, Moderna, dan Cansino. "Ada kemungkinan, Indonesia akan menerima hibah dari COVAX Facility dengan merk vaksin yang juga digunakan untuk Vaksin Gotong Royong. Indonesia tidak mungkin untuk pilih-pilih jenis vaksin yang dihibahkan secara gratis oleh COVAX karena seluruh dunia masih berebut vaksin," jelas Nadia.

Nadia menambahkan, hal ini tidak berlaku bagi 4 jenis vaksin lain yang telah dan akan dipergunakan dalam Program Vaksinasi Nasional, yaitu Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, dan Novavax. Keempat jenis vaksin ini hanya boleh dipergunakan untuk Program Vaksinasi Pemerintah dan tidak dapat dipergunakan untuk Vaksinasi Gotong Royong.

"Selain itu, vaksin Covid-19 yang diperoleh dari hibah atau bantuan tersebut juga tidak boleh diperjualbelikan, dan harus diberikan tanda khusus yang bisa dikenali secara kasat mata sebagai pembeda dengan vaksin Gotong Royong," paparnya.

Sementara Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan pemerintah Indonesia kembali mendatangkan sebanyak satu juta dosis vaksin Sinopharm untuk memperlancar program vaksinasi Gotong Royong. Dengan kedatangan satu juta dosis ini, maka hingga saat ini jumlah vaksin Sinopharm yang diterima Indonesia menjadi dua juta dosis.

Wiku mengatakan, vaksin Sinopharm akan digunakan untuk memperlancar program vaksinasi Gotong Royong. "Diharapkan kedatangan vaksin Sinopharm ini dapat mendukung kelancaran program vaksin Gotong Royong di Indonesia," ujarnya.

Wiku menambahkan, pemerintah optimistis akan segera mencapai kekebalan komunal karena program vaksinasi yang terus diintensifkan. Data Satgas menunjukkan vaksinasi Covid-19 di DKI Jakarta telah mencapai 61,93% untuk pemberian dosis kedua.

Dengan demikian, kekebalan komunal atau herd immunity di Ibu Kota dapat tercapai jika 70% populasi sudah divaksinasi. Dia juga meminta masyarakat untuk mendukung program vaksinasi tersebut dengan tidak mudah termakan hoaks terkait vaksin.

"Masyarakat juga perlu memastikan kebenaran informasi yang diterima terkait vaksinasi. Caranya dengan memeriksa ke sumber-sumber terpercaya atau bertanya kepada ahlinya," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: