Wah, proyek PLTU yang didanai China banyak alami pembatalan

Rabu, 16 Juni 2021 | 18:29 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) melansir tingkat pembatalan proyek pembangkit listrik batu bara yang banyak didanai investor China relatif tinggi sejak 2017. Berdasarkan catatan CREA, total proyek yang dibatalkan 4,5 kali lebih banyak dari proyek yang masuk fase konstruksi.

Laporan yang dipublikasikan pada 16 Juni 2021 itu menyebut pembatalan proyek diakibatkan oleh melemahnya daya saing batu bara dibandingkan dengan energi terbarukan (EBT) yang semakin berdaya saing.Selain itu, maraknya perlawanan publik yang dipicu kekhawatiran mengenai dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat dari proyek batu bara.

"Ada pula negara-negara penerima investasi yang kapasitasnya sudah berlebihan (overcapacity)," jelas CREA seperti dikutip dari rilis resmi, Rabu (16/6/2021).

Kajian CREA menemukan, menurunnya daya tarik batu bara sejak 2017 juga turut memengaruhi perlambatan pertumbuhan batu bara di luar China secara umum.Laporan tersebut menjadikan China sebagai fokus karena merupakan negara dengan sumber pendanaan terbesar dari proyek batu bara asing.

China juga merupakan satu-satunya negara yang belum mengumumkan pembatasan atas pembiayaan batu bara. Tidak seperti negara-negara G7 yang telah menyatakan akan berhenti membiayai proyek batu bara asing terhitung akhir tahun ini.

"Pada 2017, proyek batu bara yang didukung China dalam tahap perencanaan dan perizinan mencapai 138 gigawatt (GW). Sejak itu, hampir setengah dari kapasitas ini (73 GW) telah ditangguhkan atau dibatalkan, ini 4,5 kali lebih banyak dari kapasitas 18 GW yang memasuki konstruksi selama periode waktu yang sama," ungkap CREA.

Imbas dari maraknya pembatalan tidak terhindarkan untuk negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.CREA mengatakan rasio kapasitas yang dibatalkan dibandingkan proyek yang akhirnya beroperasi sebesar 2:1 untuk Asia Tenggara.

Untuk Indonesia, sejak 2017 sebesar 11.040 MW kapasitas pembangkit batu bara telah dibatalkan. Sementara, 3.900 MW tidak menunjukkan perubahan sejak memasuki status pra-konstruksi. Padahal awalnya, Indonesia jadi negara dengan kapasitas terbanyak yang dijanjikan pembiayaan.

Laporan CREA juga menggarisbawahi kenyataan investasi energi terbarukan sudah menjadi objek investasi yang lebih menjanjikan ketimbang batu bara karena permintaan internasional untuk pembangunan PLTU baru semakin kecil.Karena itu, laporan ini menyarankan agar negara-negara penerima investasi Belt and Road Initiative (BRI) lebih fokus mengajukan proposal pendanaan proyek energi baru terbarukan untuk menghindari kemungkinan pembatalan di masa mendatang.

"China punya kesempatan untuk secara proaktif mengalihkan investasinya ke arah yang sama dengan pasar, ketimbang tetap membelanjakan uang di proyek batu bara yang tidak memiliki jaminan pengembalian dalam menghadapi risiko keuangan dan iklim. Pasar yang menyusut untuk PLTU di luar China berarti ketergantungan pada proyek beremisi tinggi telah memudar dengan cepat," pungkas CREA.kbc11

Bagikan artikel ini: