Ada tantangan baru di industri batu bara, apa itu?

Rabu, 16 Juni 2021 | 11:45 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bakal ada tantangan besar di industri batu bara di depan baik secara internal ataupun eksternal.

Menurut Head of Corporate Ratings PT PEFINDO, Niken Indriarsih, dari sisi internal, operasional akan melakukan efiensi dari biaya produksi agar dapat memperoleh keuntungan yang maksimal. Sebagai informasi, sektor batu bara ini merupakan sektor komoditas yang dimana permainan harga di luar kendali para pemain.

"Walaupun saat ini mungkin harga sedang meningkat, di tahun yang akan datang bisa saja terjadi kondisi yang sebaliknya," jelas Niken dalam Market Review di IDX Channel, Senin (14/6/2021).

Kemudian dia melanjutkan, tantangan untuk menjaga efisiensi biaya produksi menjadi tantangan tersediri bagi para pemain di sektor batu bara. Namun yang perlu dipertimbangkan adalah pemanfaatan teknologi untuk mendukung produksi batu bara.

Sementara dari tantangan eksternal berupa tuntutan untuk lebih menjalankan kegiatan pertambangan yang ramah lingkungan sebagai upaya meningkatkan daya saing dengan sumber energi terbarukan.

Masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini ternyata tidak menyusutkan harga batu bara. Tahun ini tren konsumsi batu bara di Indonesia menduduki posisi pertama berkat pertumbuhan ekonomi di China.

Niken mengungkapkan, dalam masa pendemi Covid-19 China merupakan negara pertama yang menekan angka pertumbuhan Covid dengan penemuan vaksin. Ini menunjukkan pulihnya perekonomian China dan elemen manufaktur kembali pulih di tahun 2021.

Niken mengatakan, perubahan perekonomian mendorong permintaan batu bara di China mengalami peningkatan. Namun di balik itu, persediaan batu bara di China juga mengalami penurunan atau ada kendala.

"Karena memang di beberapa daerah pasokannya terganggu atau karena bisa juga disebabkan dengan faktor cuaca. Kemudian dari sisi impor batu bara dari China juga membatasi," ungkapnya.

Selanjutnya, dia mengungkapkan, tren konsumsi batu bara di Indonesia sendiri masih tumbuh positif. Hal itu karena batu bara merupakan komoditas yang sangat diperlukan dalam kehidupan, salah satunya adalah PLN.

Pada 2020 PLN memberikan kontribusi sebesar 39% dari total pembangkit listrik yang dimiliki. Selain itu, Niken menginfokan bahwa PLN Indonesia akan tetap menggunakan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

"Ketergantungan yang besar terhadap PLTU di Indonesia ini membuat permintaan batu bara akan tetap stabil. Dan mungkin bisa meningkat lagi kedepannya atau lebih besar lagi diiringi dengan penyelesaian pembangunan PLTU yang sedang dikerjakan. Karena mungkin akan ada penambahan daya sekitar 13.000 mega watt yang akan beroperasi," paparnya. kbc10

Bagikan artikel ini: