Implementasi budaya K3 tingkatkan produktifitas dunia industri di masa pandemi

Rabu, 2 Juni 2021 | 17:53 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Direktur Sumber Daya Manusia Pelindo III Edi Priyanto menegaskan bahwa ada sejumlah faktor yang memiliki pengaruh besar dalam peningkatan produktivitas tenaga kerja di masa pandemi, salah satunya yaitu implementasi budaya K3 dalam perusahaan.

"Sejumlah faktor yang mempengaruhi produktivitas perusahaan diantaranya kesehatan karyawan," tegas Edi Priyanto saat Seminar Nasional yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Prodi Teknik K3 Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) dengan Asosiasi Ahli K3 (A2K3) Jawa Timur dengan tema "Implementasi Budaya K3 untuk Mewujudkan Kemandirian dan Produktivitas Masyarakat Industri di Era Pandemi" yang digelar beberapa waktu yang lalu secara virtual. Seminar diikuti oleh sekitar 352 peserta dan dihadiri oleh Ketua A2K3 Jawa Timur Eko Julianto serta Kaprodi TK3 PPNS Arief Subekti.

Selain kesehatan karyawan, tingkat produktifitas tenaga kerja juga dipengaruhi oleh sikap kerja dan etos kerja karyawan, ketrampilan karyawan, pengetahuan karyawan, mutu lingkungan fisik pekerjaan, suasana hubungan antar manusia dalam pekerjaan, kepemimpinan atasan, supervisi atasan, tersedianya peralatan kerja yang baik, metode dan proses kerja, termasuk sistem, tata laksana kerja, dan sebagainya.

Karena keselamatan kerja menjadi salah satu faktor penentu dalam peningkatan produktifitas tenaga kerja, maka wajar jika kesadaran industri terhadap pentingnya penerapan K3 kian meningkat. Hal ini diantaranya terlihat dari banyaknya masyarakat dunia yang peduli keselamatan dan Kesehatan karena berdampak pada perekonomian. Selain itu, peraturan dan standard keselamatan juga semakin ketat.

"Ini juga terlihat dari karakter konsumen yang semakin kritis dalam memberikan masukan, standard dan norma-norma global, keselamatan menjadi strategi bisnis global, persyaratan tentang K3 harus dipenuhi dan setiap perusahaan harus mampu dalam meningkatkan daya saing untuk menciptakan nilai unggul," ungkap Edi Priyanto.

Dan tantangan di era pandemi saat ini menurut Edi diantaranya adalah dinamika perubahan yang sangat cepat, kurangnya prediktabilitas terhadap isu dan peristiwa yang terjadi, adanya gangguan dan kekacauan yang mengelilingi setiap organisasi, ketidakjelasan realitas dari berbagai kondisi yang ada. Dampak apabila terjadi insiden pada karyawan, yaitu beban masa depan keluarga, kesedihan keluarga, masalah kejiwaan, cacat tetap dan kematian.

Dia juga menjelaskan bahwa kasus kecelakaan kerja terjadi disebabkan karena faktor manusia meskipun ada dua lainnya, yaitu unsafe action dan unsafe condition. Di dalam tempat kerja sekecil apapun unsafe action harus dilaporkan apabila tidak segera dilakukan penanggulangan akan terjadi Near- misses/First Aid.

"Continuous Improvement menjadi basis terkait penerapan K3 dalam mewujudkan safety culture. Attitude (perilaku/sikap positif) sangatlah penting dalam individu untuk menerima, memahami dan melaksanakan perilaku aman (safe behavior)," tambahnya.

Sementara itu, Direktur Utama Biro Sertifikasi Indonesia (BSI), Dwi Suharsono Soehoed menegaskan bahwa penerapan K3 di tempat kerja bersifat universal. Maka dalam hal ini pemerintah mengupayakan dengan dilakukan penetapan dalam bentuk undang – undang maupun peraturan pemerintah atau PP, PERPRES atau PERMEN.

"Tujuan dari penerapan K3 di tempat kerja ini nantinya pada saat pekerja menjalankankan tugasnya supaya aman dan sehat terhindar dari kecelakaan kerja dan Penyakit Akibat Kerja (PAK) sehingga harapannya dapat meningkatkan produktivitas," ungkap Dwi Suharsono.

Lebih jauh dia mengungkapkan, K3 penting untuk diterapkan karena kebutuhan dan hak asasi tenaga kerja dalam perlindungan tenaga kerja yang bersifat mandatory, mencegah kerugian baik dikarenakan kecelakaan kerja atau Penyakit Akibat Kerja, persyaratan perdagangan global, Menciptakan tempat kerja yang sehat, aman (bebas terjadi kecelakaan) dan produktif, telah menjadi komitmen global.

"Kecelakaan kerja maupun Penyakit Akibat Kerja telah menjadi masalah sejak dunia industry berdiri atau berlangsung. Masalah Kecelakaan kerja maupun Penyakit Akibat Kerja menjadi masalah yang besar terkait kelangsungan perusahaan karena dapat mengakibatkan kerugian baik dari kesehatan atau biaya," tambahnya.

Dwi Suharsono yang juga menjabat sebagai Manajer Skema LSP K3 OSHE Nusantara ini mengungkapkan, bahwa sejauh ini sudah banyak perusahaan yang melakukan pemeriksaan kesehatan tetapi pemeriksaan tersebut belum berbasis risiko pekerjaan. "Dunia industri banyak melakukan pemeriksaan kesehatan yang sifatnya masih parsial," tandasnya.

Maka dalam hal ini, persyaratan-persyaratan mengenai pemeriksaan kesehatan harus diberlakukan baik dan benar salah satunya dengan melakukan HRA (Hard Risk Assessment). Walaupun penerapan K3 di tempat kerja telah dilakukan, maka persyaratan-persyaratan K3 juga harus dilakukan karena sifatnya mandatory.

Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan nantinya harus menggunakan PJK3. Pemeriksaannya wajib dilakukan oleh PJK3 dalam bentuk klinik atau rumah sakit. Mengenai kuantitas dan kualitas terhadap K3 masih kurang karena scope di area kerja sangat luas dan pengawasan K3 yang semakin kompleks.kbc6

Bagikan artikel ini: