Jalan panjang Bolu Ketan Mendut menuju SNI

Jum'at, 21 Mei 2021 | 19:46 WIB ET

SIDOARJO, kabarbisnis.com: Waktu menunjukkan pukul 10.15 WIB. Udara terasa panas di sekitar rumah di Jalan Raya Nusantara Nomor 151, Perumahan Tropodo Dian Regency di Desa Tropodo, Kecamatan Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, tempat produksi CV Bolu Ketan Mendut yang namanya melejit setelah produknya dinyatakan lolos uji lab dan disetujui pengajuan sertifikasi SNI (Standar Nasional Indonesia) oleh BSN (Badan Sertifikasi Nasional), yaitu Sertifikat SNI CAC/RCP 1:2011 dan Sertifikat SNI 2973:2011 Biskuit.

Setelah melewati proses yang panjang, Jalian Setiarso, pemilik rumah tersebut yang tak lain adalah Owner CV Bolu Ketan Mendut, pun bisa bernapas lega, karena sejak April 2021 produknya resmi mengantongi Sertifikat SNI 2973:2011 Biskuit dan Sertifikat HACCP. Modal untuk merebut pasar lokal dan ekspor. Sebuah prestasi yang cukup membanggakan, karena tidak gampang untuk meraihnya, butuh kegigihan dan kerja keras, bahkan ia juga harus mengeluarkan koceknya dari kantongnya sendiri untuk membiayai renovasi rumah untuk memenuhi persyaratan pengajuan sertifikasi tersebut.

Dari halaman rumahnya di atas lahan seluas 6 x 14 meter persegi sekarang pun masih tersisa material bangunan untuk renovasi bangunan rumah yang belum lama ini dikerjakan, seperti tumpukan batu bata dan pasir di sisi kanan pintu pagar rumah bercat putih itu.

“Maaf, masih agak berantakan. Karena selain harus memperbaiki produksi, pengurusan SNI ini juga memerlukan banyak renovasi infrastruktur,” tutur Arso, panggilan akrab Jalian Setiarso, saat menerima kedatangan kabarbisnis.com beberapa waktu lalu.

Arso lantas menunjukan hasil renovasi bangunan rumah, yang semula adalah rumah tipe 36 kemudian dirombak menjadi tempat usaha produksi Bolu Ketan Mendut agar sesuai dengan kriteria yang dipersyaratkan oleh BSN untuk lolos uji lab dan mendapatkan SNI. Renovasi bangunan rumah itu meliputi renovasi infrastruktur fisik non elektronik dan alat, seperti penyekatan dan layout ruangan. Ada ruang kantor, berukuran 3x3 meter persegi, disebutnya sebagai kantor khas UKM. Di ruang ini, Arso mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk membesarkan usaha kripik brownies ketan yang dirintisnya bersama almarhumah istrinya, Ratih Dwi Puspitaningrum.

Kemudian, dari balik ruang kantor ada ruang produksi yang didalamnya terdapat tempat pengadonan, oven, pendinginan, quality control, labelling dan selling. Ada juga ruang khusus gudang, yakni gudang stok bahan baku, gudang jual dan gudang kemasan.

Selain renovasi, Arso juga harus mengeluarkan biaya untuk pembelian alat, seperti penggantian oven listrik, mixer, rak pendingin dan peralatan lain yang harus menggunakan stainless steel.

“Investasi infrastruktur fisik non elektronik mencapai sekitar Rp 20 juta hingga Rp 25 juta dan pembelian alat mencapai sekitar Rp 30 juta hingga Rp 40 juta. Karena peralatan harus berbahan stainless steel agar produk bisa lolos uji lab mulai dari kandungan bakteri hingga kadar seng,” tutur Arso.

Selama pengurusan SNI, Arso menyadari dibutuhkan kesungguhan dan kemauan keras, karena prosesnya cukup panjang dan rumit, selain juga harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. “Kalau dibilang rumit ya itu tergantung dari kemauan kita. Karena dalam pengurusan SNI dan HACCP itu utamanya infrastruktur. Tempat harus sesuai standar, jalurnya bagaimana, pengendalian hamanya bagaimana, itu yang bikin stress di situ. Untuk biaya pengurusan, Alhamdulillah dibantu BSN, tetapi untuk investasi penggantian alat dan renovasi tempat produksi biaya sendiri,” terang dia.

Proses pengurusan SNI sendiri dimulai sejak Februari 2020, pasca tempat produksi Bolu Ketan Mendut berpindah dari garasi rumahnya yang terletak di Jalan Kelud, Blok C Nomor 1 Perumahan Kepuh Permai Tropodo Waru Sidoarjo ke Perumahan Tropodo Dian Regency Desa Tropodo Kecamatan Waru Sidoarjo, sekitar 1 kilometer dari rumah yang digunakan produksi usahanya sekarang. Perpindahan tempat ini juga untuk memenuhi syarat memperoleh SNI.

“Karena dalam aturan SNI, lokasi produksi tidak boleh dilakukan di rumah. Dan akhirnya kami bisa ber-SNI pada April 2021 lalu,” ujarnya.

Keberhasilan Bolu Ketan Mendut sampai akhirnya meraih SNI tentu tak bisa dilepaskan dari sosok Jalian Setiarso bersama istrinya Ratih Dwi Puspitaningrum yang sama-sama memiliki kegigihan, kesungguhan dan kerja keras. Dalam rentang waktu yang panjang ia mampu mempertahankan etos tersebut untuk membesarkan usahanya, baik di pasar lokal maupun mancanegara di tengah persaingan yang ketat.

Brand Bolu Ketan Mendut sebenarnya sudah dirintis sejak pasangan suami istri itu di Magelang, Jawa Tengah, pada tahun 2014. Saat itu, mereka memulai usahanya dari kamar kecil berukuran 4x4 meter persegi. Berbekal kesukaan dan keahliannya membuat kue mereka mencoba peruntungan dengan berbisnis kue basah bolu ketan yang dijalankan oleh sang istri, sedangkan Arso membantunya dan memantau dari jarak jauh karena ia bekerja di salah satu perusahaan swasta di Surabaya.

Saat itu, Arso bilang, tidak gampang mengedukasi masyarakat tentang keunggulan kue yang salah satu bahannya dari ketan, karena banyak yang menganggap kue berbahan ketan cenderung memiliki tekstur keras. Ada juga karena memang tidak cocok mengonsumsi ketan.

“Tapi kami tidak menyerah dan berusaha sekuat kemampuan kami untuk terus mengenalkan dan melakukan promosi kue buatan kami,” papar Arso.

Bersyukur sekali, jerih payah mereka akhirnya terbayar lunas. Tepat pada awal tahun 2016, kue bolu ketan produksi mereka meluncur dan mendapat sambutan yang menggembirakan hati mereka, masyarakat di Magelang cukup menggemarinya, bahkan masuk dalam papan daftar kue favorit masyarakat kelas menengah. Tentu, sambutan positif itu juga berimbas pada peningkatan penjualan dan kapasitas produksi juga ikut terkerek terutama setelah kue bolu ketan digunakan sebagai jajanan untuk acara tasyakuran atau selamatan. Seketika itu, volume pemesanan naik drastis, satu orang pemesan jumlahnya bisa mencapai seribu lebih.

Arso bersama istrinya begitu senang dan bangga bercampur haru melihat kue bolu ketan produksi mereka menjadi simbul kemakmuran masyarakat, menjadi brand yang paling disukai di tengah masyarakat. “Kalau tasyakuran menggunakan kue kami, dianggap sebagai orang yang mampu, karena harganya terbilang relatif mahal, sekitar Rp 35 ribu per biji,” kata Arso.

Sayangnya, seperti kata pepatah;semakin tinggi pohon, maka akan semakin kencang angin menerpanya, begitu pula; untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, kejayaan usahanya itu tak berlangsung lama, di tahun yang sama usaha kuenya itu mengalami kebangkrutan.

“Setelah kami berjaya, kami merasakan ada persaingan tidak sehat di bisnis kue ini. Banyak kejadian aneh yang kami alami, seperti banyak konsumen yang mengira toko kami tutup padahal toko tetap buka. Ada juga yang bilang, kue yang kami buat tidak bisa tahan lama, dua jam setelah diproduksi kue menjadi basi,” cerita dia.

Mencoba tetap bertahan dimasa sulit, Arso yang saat itu masih bekerja sebagai marketing di salah satu perusahaan swasta di Surabaya menguatkan semangat istrinya, hampir tiap Minggu pulang ke Magelang. Bahkan, ceritanya pernah suatu ketika ia berbelanja bahan baku kue dari Surabaya, hanya ingin agar kue yang diproduksi tidak cepat basi. Tetapi usahanya itu nihil. Kue dari bahan baku yang ia beli di Surabaya juga tetap sama, cepat basi.

Puncaknya adalah saat ada pemesanan kue untuk tasyakuran dan itu adalah pengalaman paling menyakitkan dalam hidupnya karena membuat usahanya harus gulung tikar.

“Saat ada orang tasyakuran memesan sekitar seribu biji kue bolu ketan. Bayangkan, seribu orang semuanya memakan kue kami yang mendadak basi. Mereka langsung menilai negatif pada produk kami. Istri saya shock, jiwanya terguncang hingga tidak mau lagi pulang ke Magelang. Ia tidak mau lagi melihat kue bolu ketan, bahkan saat mencium bau coklat, istri saya langsung mual dan muntah. Melihat tulisan Bolu Ketan Mendut langsung marah-marah,” kenang Arso.

Disinilah kebesaran hati dan kegigihan Arso betul-betul diuji. Ia pun tak lantas putus asa dengan apa yang baru dialami. Dengan penuh kesabaran ia mencoba mengembalikan semangat istrinya dengan melakukan berbagai terapi agar segera bisa keluar dari suasana yang membuatnya tergoncang, misalnya memintanya untuk membuatkan minuman coklat atau susu coklat untuk anak-anaknya. Atau sekedar menciumkan bau coklat kepadanya. Walhasil, pelan tapi pasti usaha terapi itu membuahkan hasil. Istrinya mulai sembuh, ia tidak lagi muntah saat melihat atau mencium bau coklat.

Baru setelah itu, tepatnya pada tahun 2017, Arso mengajak istrinya berdiskusi dan merayunya untuk kembali membuat kue atau camilan untuk dijual. “Hingga akhirnya ia mau untuk memulainya kembali dari dapur rumah,” katanya.

Selanjutnya, Arso mulai melakukan riset kecil-kecilan dan melihat di internet tentang makanan apa yang disukai oleh masyarakat dunia.

“Kalau dulu produk kami adalah kue basah, kali ini kami mencoba mencari kue yang bisa bertahan lama agar pemasaran bisa kemana-mana, jangkauan lebih luas. Saya berpikir kedepan karena saya berharap bisnis yang akan kami geluti ini mampu merambah pasar internasional, tidak hanya di dalam negeri,” kata Arso.

Dari survei tersebut, diketahui bahwa satu dari tiga orang di dunia suka ngemil dan camilan yang paling disukai adalah coklat dan keju. Dari kedua bahan tersebut, akhirnya Arso dan istri memilih coklat.

Tak cukup sampai disitu, ia juga mencari tahu dari rasa penasarannya, kira-kira kue coklat seperti apa yang sudah diketahui dan dikenal luas masyarakat dunia.

“Ternyata brownies adalah kue coklat yang sudah dikenal luas masyarakat dunia, kue gagal yang disukai masyarakat. Karena brownies termasuk kue basah, akhirnya saya berpikir untuk membuatnya dalam jenis yang tahan lama, saya pun temukan kripik brownies,” ujarnya.

Agar brownies yang diproduksinya berbeda dengan brownies yang sudah ada, ia dan istrinya memasukkan bahan ketan di dalamnya, salah satu bahan yang dulu pernah dirintis dan menjadi kue khas di Magelang. Alasan lain, ketan juga adalah khas Indonesia dan merupakan bahan non gluten, sehingga kadar gula juga lebih ringan dibanding brownies pada umumnya. Setelah menemukan resep, mulai dilakukan proses uji coba produksi untuk mencari komposisi yang pas. Uji coba ini semakin meyakinkannya, ternyata membuat satu resep tidak semudah yang ia kira. Semisal kalau semua bahan disamakan satu kilogram, ternyata rasanya tidak karuan.

“Selama sebulan uji coba kami lakukan kepada 100 orang dan 5 chef dan dibuat tiga rasa sekaligus, manis banget, sedang dan minim gula. Kami meminta pendapat dan masukan dari mereka. Sejak saat itu kami menemukan taste yang pas. Ini ni rasanya,” kata Arso.

Sadar kalau resep dan komposisi yang pas tidaklah cukup, apalah artinya sebuah produk yang bagus bila tidak sampai ke konsumen dan digemari. Karena itu, Arso mematangkan strategi pemasaran, selain marketing riset juga bikin marketing strategi. Baginya, walaupun usaha rumahan, tetapi kalau dikonsep dengan konsep yang matang, akan jauh lebih enak jalannya.

“Saya membuat strategi marketing-nya seperti apa. Penjualannya bagaimana, lewat apa, medianya apa. Juga strategi harga bagaimana, kalau masuk ke toko bagaimana harganya dan seperti apa, kami bikin marketing strategi satu bulan,” katanya.

Berbagai pertanyaan yang mengusik pikirannya itu mendorong dia melakukan survei ke banyak mal untuk mengetahui apa kemasan yang paling diminati konsumen. Karena yang mau dibidik adalah kaum milenial, selain kemasan yang menarik sesuai selera mereka, paling tidak, harganya juga bisa terjangkau. Survei dilakukan secara bertahap bergantung keperluan ke beberapa tempat di Jawa Timur, Jawa Tengah dan DIY Yogyakarta.

Tepat di bulan Agustus 2017, Arso dan istri memulai merintis lagi usaha dengan modal uang Rp 600 ribu untuk membeli oven, mixer dan bahan kue. “Kami mulai membuat sekitar 185 pack. Empat bulan kemudian, kapasitas dapur overloud hingga harus pindah ke garasi rumah,” kenang Arso.

Nasib baik berpihak ke Arso, sambutan pasar atas kehadiran produknya tidak mengecewakannya, produknya dinilai pasar memiliki rasa yang enak dan khas. Sambutan itu tentu berimbas juga ke produksinya yang terus meningkat, jika awal produksi di tahun 2017 hanya sekitar 185 pack berkembang cepat di tahun 2019 menjadi 20 ribu hingga 25 ribu pack per bulan dengan jumlah reseller mencapai sebanyak 187 reseller yang tersebar di seluruh Indonesia.

Lagi-lagi sayang seribu sayang, cobaan datang lagi. Kali ini pandemi Covid-19 melanda negeri ini di pertengahan Maret 2020 lalu dan memaksa produksinya turun drastis. Pada November-Desember 2020, penjualan hanya tinggal 30 persen dan reseller yang aktif juga tinggal 47 orang. Sementara produksi hanya sekitar 7.500 pack per bulan.

Untuk menggenjot penjualan di masa pandemi tersebut, sejumlah strategi ia lakukan, mulai dari strategi harga dengan memberikan diskon 20 persen hingga 30 persen, strategi produksi dengan hanya memproduksi varian yang paling laris dan mempekerjakan karyawan setengah hari, strategi marketing dengan program gratis ongkos kirim untuk pembelian dengan volume tertentu wilayah Jawa Bali dan penurunan stok serta buffer stok dari seribu pack per bulan menjadi 300 per bulan.

“Desember 2020 saya mulai gemas, semua sudah saya lakukan tetapi penjualan tetap tidak bisa terdongkrak, saya berpikir, ini yang salah produknya atau orangnya. Akhirnya saya membuat terobosan baru dengan membuka pasar baru, merekrut reseller baru dan menaikkan harga jual. Karena dari pengamatan saya, ini yang salah bukan soal harga. Walaupun dikasih harga semurah apapun tidak akan terdongkrak karena yang salah bukan soal harga dan ternyata berhasil.

Di tengah hantaman Covid-19, Arso juga terpukul oleh kematian istri tercintanya. “Saya pun tidak memikirkan apapun saat itu, tidak juga produksi dan berjalannya bisnis Bolu Ketan Mendut. Yang ada dalam pikiran saya hanya anak-anak saya yang masih kecil yang masih membutuhkan kasih sayang ibunya. Bisnis sepenuhnya saya serahkan kepada karyawan,” ujarnya.

Dalam kondisi itu, lagi-lagi kegigihan Arso diuji lagi. Dan ia begitu bersyukur kepada Allah SWT yang menuntunnya untuk bangkit lagi dengan mengikuti , beberapa pelatihan, diantaranya Ekspor Coaching program (ECP) oleh Kementerian Perdagangan, lalu pelatihan di Kementerian UKM, program ITS Go Ekspor, pelatihan Sustainable Company Profile dari Dirjen Kerjasama Ekspor.

“Tidak kalah pentingnya adalah melanjutkan proses SNI di BSN dan mengikuti SNI Award,” katanya.

Walaupun ia mengaku dalam pengurusan SNI sangat melelahkan, tetapi jerih payahnya itu telah terbayarkan, bahkan sebelum SNI keluar. Dengan menggunakan surat sakti sebagai UMKM binaan BSN yang tengah menjalani proses pengurusan SNI, ia berhasil lolos seleksi UMKM yang diikutkan pameran oleh sejumlah kementerian dan institusi. Salah satunya lolos mengikut pameran Brilliant Preneur yang diselenggarakan oleh Bank Rakyat Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, ia mendapat buyer dari luar negeri dan melakukan penandatanganan kontrak kerjasama dengan Australia, Arab Saudi dan Dubai dengan nilai kontrak sekitar Rp 3,8 miliar atau sebanyak 14 kontainer di tahun 2020. Bolu Ketan Mendut juga lolos mengikuti seleksi pameran di Trade Expo Indonesia.

Penjualan kembali terdongkrak, terlebih usai mendapatkan SNI pada April 2021. “Ini menjadi semacam penyemangat yang menumbuhkan kepercayaan menjadi lebih besar untuk memenangkan pasar, baik dalam maupun luar negeri,” tekannya.

Bersyukur saat ini produksi sudah mulai kembali seperti sebelumnya, mencapai hampir 20 ribu per bulan. Ia memiliki keyakinan penjualan akan terus naik. Untuk itu,  mulai awal puasa Ramadhan kemarin, ia membuat program digital lead manatik system, yaitu program untuk menarik reseller dengan cara digital. Ia berharap, Desember 2021 jumlah reseller mencapai 500 orang dari April 2021 yang mencapai 80 reseller.

“Target hingga 2022, satu provinsi ada satu distributor, satu kabupaten ada satu mine reseller dan di satu kecamatan ada satu reseller. Saya juga berencana masuk pasar ritel dan mall sebagai brand awareness. Sedangkan target kenaikan kapasitas produksi di 2022 mencapai 50 ribu per bulan. Untuk ekspor, saya menargetkan di 2022 bisa melakukan ekspor ke lima negara, yaitu Arab, Australia, Jepang, Turki dan Hongkong.,” ungkapnya.

Untuk mencapainya, sejumlah sampel atau contoh produk bakal dikirim ke beberapa Atase Perdagangan yang ada di lima negara tersebut. “Karena untuk melakukan ekspor tidak semudah yang dipikirkan. Kalau Cuma kirim saja mudah, tetapi siapa yang mau menanggung beban biaya pengirimannya. Produk murah, tapi ongkir mahal. Maka ekspor harus dilakukan dalam partai besar agar harga bisa bersaing. Untuk bisa melakukannya memerlukan waktu. Saya siapkan tim ekspor dan terus menjaga komunikasi dengan sejumlah buyer yang dulu sudah sempat teken kontrak namun ditunda karena Covid-19,” katanya.

Sebulan sejak menerima sertifikasi SNI dan HACCP kini Arso sepertinya dikuatkan dengan alasannya mengapa bersikukuh meneruskan pengurusan SNI walaupun melelahkan. Pertama, selain sebagai kebanggan bahwa produk makanannya sudah berstandar, ternyata makanan juga bisa berstandar, bukan saja produk barang. Kedua, SNI membuatnya lebih percaya diri dan ketiga untuk mengembangkan pasar lebih mudah yang berujung pada peningkatan pendapatan income.

“Dengan kita ber-SNI, harapan kita income kita naik, income bisa naik kalau produk banyak yang beli, produk banyak yang beli jika konsumen percaya dan untuk membuat konsumen percaya produk harus standar, standar apa ya SNI. Dan SNI ini juga yang telah membantu kami untuk kembali bangkit pasca terhempas akibat pandemi Covid-19,” ungkapnya.

Ia menuturkan, pengurusan SNI tersebut adalah salah satu langkah mewujudkan mimpinya bersama almarhumah istrinya untuk membawa Bolu Ketan Mendut “go international”. Baginya, ini adalah amanah yang harus ia teruskan, karena bisnis tersebut ia rintis dengan penuh perjuangan bersamanya.

Kesuksesan CV. Bolu Ketan Mendut Sidoarjo Jawa Timur dengan Brownies Ketan Cruncy yang merupakan UKM binaan Badan Standardisasi Nasional (BSN) mengembangkan pasar ekspor menjadi bukti bahwa dengan memproduksi produk sesuai mutu, yang salah satunya ditunjukkan melalui sertifikat SNI, dapat meningkatkan penerimaan produk di pasar internasional. Keberhasilan CV. Bolu Ketan Mendut ini, juga tidak terlepas dari upaya keras Kantor Layanan Teknis BSN Jawa Timur dalam membina UMKM tersebut hingga berhasil meraih Sertifikat HACCP dan SNI.

“Komitmen yang tinggi dari pimpinan CV Bolu Ketan Mendut selama proses pembinaan penerapan SNI dan HACCP, merupakan kunci sukses meraih Sertifikat SNI 2973:2011 Biskuit dan sertifikat HACCP,” ujar Kepala Kantor Layanan Teknis BSN Jawa Timur, Yuniar Wahyudi.

BSN, lanjutnya, juga menggandeng mitra di daerah dalam rangka meningkatkan daya saing UMKM di tingkat nasional maupun global, salah satunya dengan Export Center Surabaya dalam memberikan informasi terkait pasar di luar negeri, persyaratan dan regulasi NTE (negara tujuan ekspor), sampai kepada administrasi ekspor.

Hingga saat ini, KLT BSN Jawa Timur telah melakukan pembinaan terhadap 15 UKM untuk meraih SNI. CV Bolu Ketan Mendut termasuk diantara 5 UKM yang berhasil meraih SNI. Selebihnya adalah CV  Armet Agro (Sari Buah mengkudu), PT Bala Aditi Pakuaty (Keripik tempe), PT Teddy Nem Family (Air Mineral) dan Kampoeng Coklat (Kakao Bubuk).

Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto menyambut baik prestasi yang dicapai CV Bolu Ketan Mendut meraih sertifikat SNI dan HACCP untuk produknya. Menurut dia, standar mutu bagi pelaku usaha memang sangat dibutuhkan. Ada dua jenis standar yang ditekankan, yaitu standar mutu produk melalui penerapan SNI dan standar mutu Sumber Daya Manusia (SDM). Namun hingga saat ini, jumlah UMKM yang sudah berstandar sangat kecil. Baik standar mutu produk maupun sertifikasi SDM, jumlahnya masih kurang dari 10 persen. “Padahal, dua standar mutu inilah yang menjadi pintu masuk UMKM untuk bisa melakukan ekspor dan bersaing di kancah internasional,” tutur Adik. kbc6

Bagikan artikel ini: