Perajin anyaman Kalsel tetap produktif saat pandemi, Ketua DPD RI acungi jempol

Kamis, 20 Mei 2021 | 18:23 WIB ET

JAKARTA - Semangat pelaku usaha anyaman di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, yang tetap produktif selama pandemi Covid-19, mendapat apresiasi dari Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti.

Apalagi, para pelaku usaha ini mampu melebarkan sayap penjualan dengan memasok kebutuhan hotel.

"Langkah teman-teman pelaku usaha kerajinan purun dan eceng gondok yang sekarang memasok kebutuan harian, termasuk untuk industri hotel seperti produk sendal dan sedotan, perlu kita apresiasi. Karena berani membuat terobosan sehingga usahanya tetap bisa bertahan," kata LaNyalla, Kamis (20/5/2021).

Menurutnya, bertahan dari serangan pandemi Covid-19 tidaklah mudah untuk UMKM, termasuk bidang kerajinan. Karena, banyak kegiatan yang ditunda atau dibatalkan.

"Kegiatan pariwisata yang lesu, tentu memiliki dampak terhadap usaha kerajinan yang biasanya dijadikan buah tangan atau oleh-oleh. Tapi pelaku usaha kerajinan di HSU mampu memutar arah produksi dari produk handycraft menjadi produk yang dibutuhkan,” katanya.

Senator asal Jawa Timur itu pun mengacungi jempol untuk strategi pemasaran yang diterapkan perajin. Apalagi mereka kini memasok barang ke Bali, Jakarta dan Bogor itu. Dengan cara ini, perajin di desa-desa tetap bisa diberdayakan, khususnya para ibu yang menjadikan anyaman sebagai pekerjaan sampingan.

“Perajin ini merupakan kelompok masyarakat yang paling kuat bertahan di tengah keterpurukan ekonomi karena terjangan wabah. Namun mereka tetap memerlukan pasar untuk menyerap hasil produksinya,” tuturnya.

LaNyalla pun mendorong daerah lain mengikuti langkah perajin anyaman purun, rotan, dan eceng gondok di HSU. Apalagi pemerintah juga sudah banyak memberikan bantuan sebagai jaring pengaman sosial saat pandemi, termasuk pemberian stimulus kepada UMKM.

“Pelaku usaha kerajinan perlu mengembangkan kreativitas dan strategi untuk tetap berproduksi di tengah pandemi Covid. Apabila produk awal susah dipasarkan, ubah strategi dengan membuat kerajinan yang masih banyak dibutuhkan saat pandemi,” jelasnya.

Mantan Ketum PSSI ini mencontohkan kebutuhan yang masih memungkinkan banyak dipesan secara berkelanjutan seperti keperluan perkantoran dan kantor dinas pemerintahan. Di antaranya alas gelas, kotak pulpen, hiasan dinding, tikar, kipas tangan, strap makser, hingga tempat id card.

“Barang-barang seperti itu bukan hanya dibutuhkan untuk perkantoran tapi juga masyarakat luas. Apalagi strap masker di mana-mana sekarang dicari. Dengan memanfaatkan momen itu, barang kerajinan bisa diinovasikan untuk kebutuhan yang sedang tren,” paparnya.

LaNyalla meminta dukungan dari pemerintah daerah (pemda) untuk kemajuan sektor usaha kerajinan. Pemda juga didorong agar barang-barang kerajinan dari wilayahnya dijadikan sebagai salah satu komoditas ekspor.

“Disperindag dan Koperasi UMKM harus proaktif terhadap perkembangan para pengrajin. Apalagi sekarang penjualan juga dilakukan secara online, pemda harus mendorong pelaku usaha di wilayahnya mengikuti kemajuan teknologi agar produknya punya daya saing yang tinggi,” tutup LaNyalla.

Bagikan artikel ini: