Mudik dilarang, konsumsi listrik diprediksi meningkat

Rabu, 12 Mei 2021 | 10:37 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Konsumsi listrik di regional Jawa, Madura, dan Bali diprediksi mengalami peningkatan. Hal ini seiring dengan pemberlakukan larangan mudik pada 6 hingga 17 Mei 2021. Padahal biasanya, konsumsi listrik tiap lebaran akan menurun.   

Direktur Bisnis PLN Regional Jawa, Madura dan Bali (Jamali) Haryanto WS mengatakan, rata-rata beban puncak saat Lebaran pada kondisi normal turun menjadi sekitar 16 hingga 19 ribu Megawatt (MW) di wilayah Jawa, Madura, dan Bali. Namun tahun ini, beban puncak terendah diperkirakan bisa mencapai 20 ribuan MW karena adanya larangan mudik Lebaran. 

"Kalau beban terendah itu kita kalau Idul Fitri normal boleh mudik, itu 16-17 ribu MW. Nah, ini kita prediksi 20 ribu MW, jadi ada naik 3 ribuan MW dari kondisi Idul Fitri normal. Tahun lalu kan sudah ada larangan mudik, meskipun tahun ini akan lebih tinggi dari tahun lalu ada sekitar 1.000 MW. Tahun lalu 19 ribu MW, tahun ini diprediksi 20 ribu MW," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Selasa (11/5/2021). 

Meski begitu, Haryanto mengatakan bahwa pasokan listrik saat Lebaran dipastikan aman. Sebab, cadangan listrik PLN di semua daerah Sabang sampai Merauke rata-rata mencapai 30 persen terhadap beban puncak. 

Hanya ada beberapa daerah saja yang memiliki cadangan listrik masih rendah. Misalnya, Flores Barat yang cadangannya masih rendah karena masih menunggu penyelesaian interkoneksi, transmisi, dan pemeliharaan pembangkit secara online. 

"Jadi ada selisih 4.000 MW. Ini sistem sangat aman lah dengan kondisi beban puncak nanti Lebaran kita 20.200 MW ini memang relatif lebih tinggi kalau Hari Raya Idul Fitri normal," ujarnya. 

Sementara itu, beban puncak di wilayah Sumatera-Kalimantan (Sumkal) dan Regional Sulawesi-Maluku-Papua-Nusa Tenggara juga akan mengalami kenaikan pada Lebaran nanti. Akan tetapi, PLN menjamin cadangan listrik semua titik aman sehingga tidak akan mengganggu kekhusyuan dalam perayanaan Hari Lebaran. 

Sistem Sumatera Bagian Utara (SBU) memiliki daya mampu mencapai 2.695 MW dengan beban puncak sebesar 2.184 MW. Sistem Sumatera Bagian Selatan Tengah (SBST) memiliki daya mampu 4.036 MW dengan beban puncak 3.570 MW. 

Untuk kelistrikan Kalimantan, sistem interkoneksi (Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara) memiliki daya mampu mencapai 2.025 MW dengan beban puncak sebesar 1.134 MW. Sementara sistem khatulistiwa (Kalimantan Barat) memiliki daya mampu mencapai 475 MW dengan beban puncak sebesar 343 MW. 

Sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan memiliki daya mampu mencapai 1.805 MW dengan beban puncak sebesar 1.195 MW. Sistem kelistrikan Sulawesi Utara dan Gorontalo memiliki daya mampu mencapai 584 MW dengan beban puncak sebesar 368 MW. 

Kelistrikan Maluku dan Maluku Utara memiliki daya mampu mencapai 339 MW dengan beban puncak sebesar 204 MW. Kelistrikan Papua dan Papua Barat memiliki daya mampu mencapai 628 MW dengan beban puncak sebesar 334 MW. 

Kelistrikan NTB memiliki daya mampu mencapai 460 MW dengan beban puncak sebesar 345 MW. Kelistrikan NTT memiliki daya mampu mencapai 332 MW dengan beban puncak sebesar 209 MW. 

“Jadi, kondisi sistem tenaga listrik di Sumatera dalam kondisi aman, kondisi pasokan cadangan lebih tinggi dari beban puncak. Begitu pun di Kalimantan," ucapnya. kbc10

Bagikan artikel ini: