Kebijakan pemerintah angkat indeks kepercayaan UMKM

Jum'at, 7 Mei 2021 | 22:27 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnia.com: Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyambut baik indeks kepercayaan para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) kepada pemerintah yang terus meningkat di tengah pandemi, sehingga sejumlah program direspons positif dan mendatangkan dampak yang baik.

Merujuk hasil survei BRI Micro & SME Indeks (BMSI), Menkop menjelaskan Indeks Kepercayaan pelaku UMKM kepada Pemerintah (IKP) mengalami peningkatan dari 126,8 di kuartal III 2020 menjadi 136,3 di kuartal IV 2020. Padahal jika dilihat berdasarkan survei BPS, pandemi Covid-19 membawa dampak bagi 84,2% UMK yang mengalami penurunan pendapatan, serta lebih dari 80% pelaku usaha mengalami penurunan permintaan, 42% unit UMK memberhentikan sebagian pekerja dan sekitar 46,5-52,3% mengurangi biaya utilitas termasuk listrik, gas, air, komunikasi.

"Hal ini menjadi bukti optimisme dan keyakinan dari pelaku UMKM terhadap pemerintah yang mampu menangani dampak Covid-19 dengan baik," ujar Teten di Jakarta, Jumat (7/5/2021).

Dia menuturkan, langkah untuk menyelamatkan sektor UMKM tengah menjadi perhatian serius pemerintah untuk mencegah bertambahnya angka pengangguran dan kemiskinan. Hal itu terlihat dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional atau PEN tahun lalu, UMKM mendapat porsi cukup besar, yakni sekitar Rp 123,46 triliun atau 20% dari total anggaran PEN.

Sementara untuk tahun 2021, Menkop menyebut jatah anggaran PEN untuk dukungan UMKM dan korporasi digulirkan sebesar Rp 191,13 triliun atau 27% dari total pagu anggaran. Menteri Teten menyebut program penyelamatan UMKM itu meliputi subsidi bunga kredit, penempatan dana pada bank umum untuk pembiayaan UMKM, penjaminan modal kerja bagi UMKM.

Selain itu keringanan pajak, pembiayaan modal kerja bagi Koperasi melalui LPDB KUMKM, serta Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM).Menurutnya program-program itu terbukti ampuh untuk menjaga UMKM bertahan menghadapi Covid-19.

Hal itu terlihat dari pertumbuhan ekonomi mulai membaik dari -2,19 kuartal IV/2020 menjadi -0,74 di kuartal I 2021.

"Pertumbuhan ekonomi itu ditopang dari belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga yang semakin membaik. Program seperti banpres produktif dan subsidi bunga KUR ikut berkontribusi dalam pemulihan ekonomi," tegas dia.

Kemudian terkait Banpres Produktif Teten menyebut program itu juga mendapat respon positif dari penerima program tercatat dari hasil survei oleh Kemenkop UKM bersama TNP2K yang menyatakan penggunaan dana Banpres Produktif sebagian besar untuk pembelian bahan baku.

"Sekitar 88,5% mereka gunakan untuk pembelian bahan baku dan 23,4% digunakan untuk pembelian alat produksi. Kemudian, sebanyak 53,5% penerima program menunjukkan mereka tidak memiliki pekerjaan lain selain menjadi pelaku usaha mikro," ungkap Menkop Teten Masduki.

Teten menambahkan, pihaknya siap mendampingi secara totalitad agar para pelaku UMKM bisa naik kelas. Langkah ini didukung Kebijakan afirmasi UMKM melalui UU No. 11/2020 tentang Cipta Kerja diturunkan melalui PP No. 7/2021 tentang tentang Kemudahan, Pelindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM.

Regulasi itu diterbitkan agar UMKM naik kelas melalui pendekatan terintegrasi (hulu-hilir), mulai dari kemudahan perizinan, bantuan hukum, sertifikasi halal gratis, pendampingan dan pelatihan usaha, skema kemitraan, akses pembiayaan, promosi produk, dan belanja pemerintah untuk UMKM.

Pada akses pembiayaan, pemerintah pun membidik peningkatan rasio kredit perbankan untuk UMKM menjadi lebih dari 30% di 2024. Selain itu, Plafon KUR dari sebelumnya maksimum Rp500 juta naik menjadi Rp20 miliar dan KUR tanpa agunan naik dari Rp50 juta menjadi Rp100 juta. "Afirmasi ini menandai prioritas kita untuk segera melahirkan UMKM-UMKM unggul dan mendunia di seluruh pelosok negeri," katanya.

Saat ini, pemerintah juga sedang menyelesaikan Perpres Kewirausahaan agar ekosistem usaha ke depan semakin baik. Data olahan Kemenkop UKM menunjukkan penangguran terbuka mulai turun dari 7,07% di Agustus 2020 menjadi 6,26% di Februari 2021. Artinya dunia usaha kembali bergeliat dan mulai pulih.

Lebih lanjut, Teten mengimbau para pelaku UMKM harus bertranformasi ke digital agar semakin punya daya tahan dalam menghadapi krisis ekonomi akibat perebakan pandemi Covid-19. "Platform online sangat dibutuhkan meningkatkan penjualan, efisiensi biaya, dan bersaing dengan produk asing," kata Teten.

Pasalnya, Menkop menyebut catatan World Bank (2021) menunjukkan 80% UMKM yang terhubung ke dalam ekosistem digital memiliki daya tahan lebih baik dalam menghadapi tantangan pandemi. Kehadiran pandemi, lanjutnya, telah mempercepat akselerasi transformasi digital.

"Di tengah pandemi, ada tambahan 4 juta UMKM atau total 12,1 juta UMKM yang sudah terhubung dengan ekosistem digital atau 19% total populasi UMKM," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: