Ramadan, belanja online melonjak tiga kali lipat

Selasa, 4 Mei 2021 | 07:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Lembaga riset Continuum mencatat aktivitas belanja online di kalangan pengguna media sosial meningkat sekitar tiga kali lipat pada rentang 1-25 April 2021 atau selama periode Ramadan. Begitu juga dengan aktivitas buka puasa bersama (bukber) yang mencapai 70 persen dari total pengguna.

Hal ini terungkap dari hasil riset Continuum bertajuk Analisis Perilaku Konsumen Menggunakan Pendekatan Big Data yang dipublikasikan Senin (3/5/2021). Riset berasal dari pengamatan 1.204.102 pembicaraan di 934.671 akun media sosial.

"Tren belanja online meningkat tiga kali lipat selama Ramadan," ungkap Analis Data Continuum Muhammad Azzam pada publikasi virtual, Senin (3/5/2021).

Azzam menduga peningkatan terjadi karena aktivitas masyarakat masih terbatas di tengah pandemi virus corona, sehingga lebih cenderung memilih belanja online ketimbang offline. Dari pembicaraan mengenai belanja online di media sosial, Azzam mencatat mayoritas melakukan belanja berupa baju lebaran.

Tercatat, jenis belanja yang banyak dilakukan masyarakat sejak Ramadan adalah pakaian 47 persen, perabotan rumah tangga 18 persen, komunikasi dan jasa 8 persen, restoran 6 persen, dan lainnya. Sedangkan yang turun, yaitu belanja sektor perumahan, air, dan listrik minus 21 persen, pendidikan minus 15 persen, dan rekreasi atau olahraga minus 14 persen.

"Belanja pakaian banyak di jeans, kemeja, sarung, dan lainnya. Untuk rumah tangga, banyak di perabotan, alat dapur, setup home office, dan lainnya karena masih banyak yang bekerja di rumah," jelasnya.

Menurutnya, tren belanja online turut meningkatkan aktivitas konsumsi masyarakat sekitar 17 persen pada momen Ramadan dibandingkan sebelum Ramadan. Konsumsi masyarakat cenderung naik meski analisis terhadap pendapatan justru menyatakan ada penurunan sekitar 10 persen.

Selain tren belanja online yang meningkat, Azzam mencatat tren yang juga meningkat di pengguna media sosial adalah buka puasa bersama. "Perbincangan tentang bukber meningkat lima kali lipat saat Ramadan," katanya.

Dia menilai hal ini terjadi karena bukber tidak bisa dilakukan pada Ramadan tahun lalu, namun sudah mulai dilakukan pada tahun ini selama mengikuti protokol kesehatan. Dari data tercatat 70 persen orang memilih untuk bukber di luar rumah, seperti masjid 23,4 persen, restoran 19,2 persen, hotel 5,6 persen, mal 2,4 persen, dan lainnya. Sementara hanya 29,2 persen yang di rumah saja.

"Ini sebenarnya menguntungkan para pemilik restoran dan rumah makan, namun perlu diingat untuk prokes dijaga dengan baik," jelasnya.

Di sisi lain, Azzam juga mencatat ada perbincangan yang meningkat dua kali lipat dari topik larangan mudik, di mana mayoritas terjadi di Pulau Jawa. Hasil analisa mencatat bahwa 67,4 persen pengguna media sosial menolak mudik.

"Apa kata mereka yang menolak aturan (larangan) mudik? 36 persen menganggap penerapannya tidak serius, 29 persen bertanya-tanya kenapa wisata boleh, tapi mudik tidak? 21 persen melihat aturan banyak celah pelanggaran, 8 persen tidak membantu ekonomi daerah, dan 6 persen memberatkan rakyat," tandasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: