BNI bukukan laba bersih Rp2,39 triliun di kuartal I

Selasa, 27 April 2021 | 11:23 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatatkan perolehan laba Rp 2,39 triliun di kuartal pertama tahun 2021.

Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini mengatakan, perolehan kinerja tersebut sejalan dengan rasio kecukupan pencadangan atau coverage ratio. Di mana, rasio kecukupan pencadangan telah ditetapkan pada level 200,5 persen atau lebih tinggi dari posisi pencadangan akhir tahun 2020 yang sebesar 182,4 persen.

"Dengan nilai CKPN yang dibentuk tersebut, Perseroan melaporkan laba bersih pada Kuartal I/2021 sebesar Rp 2,39 triliun, dengan rasio kecukupan pencadangan atau coverage ratio ditetapkan pada level 200,5 persen," jelas Novita dalam konferensi pers BNI secara virtual, Senin (26/4/2021).

Novita melanjutkan, salah satu fokus utama kebijakan manajemen BNI saat ini adalah adanya pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Oleh karena itu beragam langkah telah disiapkan demi mewujudkan kinerja yang berkelanjutan tersebut, yaitu antara lain menetapkan target kinerja yang berbasiskan profitabilitas, dan tidak hanya menekankan pada pertumbuhan aset semata.

Salah satu tolak ukurnya adalah Pre-Provisioning Operating Profit (PPOP), atau laba perusahaan sebelum pencadangan.

Pada kuartal I tahun 2021, PPOP tercatat sebesar Rp 7,84 triliun atau meningkat 5,9 persen dibandingkan Kuartal 1 tahun 2020, yaitu sebesar Rp 7,4 triliun.

Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan perseroan untuk menghasilkan laba sebelum pencadangan terus meningkat dan bahkan telah diatas kondisi sebelum pandemi meluas di Indonesia di kuartal I tahun 2021.

"Dengan fundamental yang semakin kuat dan berjalannya program transformasi perusahaan, termasuk transformasi layanan digital, kami yakin bahwa kinerja BNI hingga akhir tahun 2021 dapat lebih baik dibandingkan dengan tahun 2020," pungkas Widya.

Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar mengatakan, pada kuartal 1 tahun 2021, BNI mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 8,1 persen year on year (YoY) mencapai Rp 639,0 triliun, terutama dikontribusikan oleh peningkatan giro dan tabungan yang masing-masing tumbuh 13,1 persen dan 12,9 persen YoY.

Hal ini mempertegas posisi BNI sebagai salah satu franchise DPK yang kuat di industri. "Di tengah tren penurunan suku bunga kredit untuk mendorong perekonomian nasional, Perseroan berupaya untuk memastikan pertumbuhan DPK yang sehat dalam rangka menjaga marjin bunga bersih (Net Interest Margin)," jelas Royke.

"Pada kuartal pertama 2021, Perseroan membukukan NIM yang membaik dari 4,5 persen di akhir tahun 2020 yang lalu menjadi 4,9 persen," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: