Stok menipis, Kemendag pertimbangkan impor jagung pakan ternak

Selasa, 20 April 2021 | 20:29 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Perdagangan (Kemendag) mempertimbangkan membuka keran impor jagung untuk kebutuhan industri pakan ternak. Langkah ini dilakukan untuk menekan harga jagung yang terus membumbung hingga 30% sejak akhir tahun 2020.

"Kalau datanya (neraca jagung red) menunjukan defisit yang memang harus kita antisipasi , ya tidak ada salahnya. Artinya bisa saja kami atau teman-teman dari Ditjen Tanaman Pangan dan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan biasa berdiskusi, bisa saja saya mengusulkan impor untuk kebutuhan industri pakan ternak," ujar Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Syailendra dalam webinar PATAKA di Jakarta, Selasa (20/4/2021).

Menurut Syailendra, fungsi institusinya sebatas mengeluarkan izin importasi yang diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas lintas kementerian di Kementerian Koordinator Perekonomian . Namun sebelumnya dilakukan rapat koordinasi teknis untuk menghitung kondisi riil produksi jagung dalam negeri sehingga terefleksikan dalam neraca kebutuhan jagung nasional.

Syailendra menegaskan, keputusan final apakah perlu tidaknya mengimpor jagung untuk kebutuhan pakan ternak tetap memperhatikan dampaknya kepada petani. Syailendra tetap meminta industri Gabungan Pengusaha Makan Ternak (GPMT) sejatinya dapat melakukan efisiensi produksi sehingga mampu menghasilkan pakan yang bersaing. Dengan begitu peternak unggas dapat membeli pakan dengan harga yang lebih rasional.

Mengutip data GPMT, estimasi produksi pakan 2021 sebesar 19,8 juta ton. Dengan kebutuhan terbesar untuk broiler sebesar 11,8 juta ton. Sementara estimasi produksi pakan semester I sebesar 9,1 juta ton atau setara satu bulan sebesar 701.179 ton.

Syailendra mengakui dirinya tengah melakukan kunjungan kerja di Jawa Timur. Dalam pantuannya harga pakan jagung di luar pabrikan sudah bertengger dikisaran Rp 7.500- Rp 8.300 per kilogram (kg). Padahal sebelumnya , harga pakan berada dikisaran Rp 6.000 per kg.

Kenaikan harga pakan jagung ini tentunya membuat peternak unggas menjerit. Tidak terkecuali dirasakan bagi peternak broiler (pedaging) dan layer (petelur) di Jawa Timur yang notabene justru merupakan produsen jagung nasional. Menurutnya, kenaikan harga jagung sebagai bahan baku pakan ternak sudah berlangsung sejak triwulan IV/2020 seiring menipisnya pasokan stok jagung dalam negeri.

Catatan Kemendag, harga jagung petani terus melonjak hingga dibulan April 2021 sebesar Rp 4.263 per kilogram (kg). Padahal di bulan Januari, harga jagung petani ditebus sebesar Rp 3.845 per kg. Hitungan Syailendra harga jagung sudah melonjak naik hampir 30%.

Padahal faktor pakan,sebut Syailendra berkontribusi biaya 66% dari total biaya pokok produksi ayam .Adapun jagung berkontribusi 29% total biaya produksi pakan. Karenanya, mahalnya harga pakan akan berpengaruh pada pakan unggas itu sendiri. "Harga pakan saat ini begitu tinggi naiknya. Bisa dibayangkan dengan situasi harga jagung saat ini," kata Syailendera.

"Bisa dibayangkan kalau harga pakan naik, maka harga ayam di pasar itu bisa tembus di atas Rp 40.000-Rp 42.000 per kg dari saat ini sebesar Rp 36.000 per kg," imbuh Syailendra.

Selain harga jagung di pasar internasional yang mengalami kenaikan mengikuti harga kedelai dan gandum, Syailendra meyakini juga disebabkan keterbatasan pasokan jagung ditingkat petani. Data GPMT menyebutkan stok jagung hanya mencukupi memenuhi kebutuhan 29 hari pakan, turun dari posisi Februari yang mencapai 33 hari produksi.

Asisten Deputi Pangan Kemenko Perekonomian Muhammad Syaifullah membenarkan harga jagung di tingkat internasional mengalami kenaikan 36%. Namun,faktor domestik seperti produksi setra jagung tidak selalu berdekatan industri pakan membuat biaya logistik menjadi mahal.

Selain itu belum adanya cadangan stok jagung sepertihalnya komoditas beras yang dikelola Perum BULOG menyebabkan rantai pasar jagung lebih ditentukan pedagang pengumpul. "Perlu dirumuskan mekanisme pengelolaan stok. Seperti meminta penugasan kepada Perum BULOG melakukan pembelian jagung," terang Syaifullah.

Syaifullah mengaku khawatir dengan neraca kebutuhan jagung ke depan. Pasalnya prognosa Kementan ketersediaan jagung pipilan kering petani periode triwulan II 2021 mulai menipis . "Ini sebenarnya April dan Mei sudah ada warning minus 265.349 ton dan Mei sebesar 2.896 ton," kata Syaifullah.

Kasubdit Mutu dan Standardisasi, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan Muhammad Gazali mengaku optimis produksi jagung petani masih mampu memenuhi kebutuhan pakan industri. Tahun ini, Kementan menetapkan produksi jagung sebesar 22,6 juta ton pipilan kering, meski mengalami penurunan produksi jagung tahun 2020 sebesar 24 juta ton dengan kadar air 15%.

"Ke depannya kita harapkan luas areal tanam jangan sampai dibawah 300.000 hektare (ha). Kita mendorong asumsi produktivitas 5 ton per ha maka ada potensi produksi sebesar 1,5 juta ton jagung pipilan kering," kata Gazali.

Gazali menambahkan, Kementan terus melakukan perluasan areal tanam baru diluar lahan existing tanaman jagung. Untuk merangsang petani menanam jagung, Kementan akan memberikan bantuan gratis benih jagung bermutu dan pengolahan paska panen. kbc11

Bagikan artikel ini: