DPRD Surabaya dorong fasum untuk kemanfaatan warga

Senin, 15 Februari 2021 | 05:36 WIB ET

SURABAYA - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya, AH Thony mengimbau seluruh pengembang di wilayah Surabaya untuk menyerahkan pengelolaan Fasilitas Umum (Fasum) yang ada di lingkungan perumahan yang mereka bangun kepada Pemerintah Kota Surabaya. Fasum dari berbagai pengembang diharapkan bisa terkelola dengan baik, sehingga mampu memberi manfaat kepada warga.

Imbauan tersebut diungkapkan saat politisi dari Partai Gerindra tersebut meninjau pembangunan Bozem atau danau buatan yang berlokasi di RT II/RW VI Kelurahan Jemur Wonosari Kecamatan Wonocolo Surabaya, Rabu (10/2/2021). Bozem tersebut dulunya adalah fasum yang terbengkalai yang berada di lingkungan Perumahan Dinas PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V. Melalui proses komunikasi yang baik dengan perangkat pemerintah dan atas persetujuan Pertamina, maka lahan kosong yang terbengkalai tersebut akhirnya dibuat bozem. Jika awalnya perumahan Pertamina tersebut sering mengalami banjir di saat memasuki musim hujan, maka permasalahan tersebut akhirnya terselesaikan dengan membangun bozem di daerah ini. Selain itu, aset Pertamina juga aman, baik dari sisi fungsi maupun aman dari sisi tanahnya karena tidak akan diserobot pihak lain.

“Biasanya, kalau ada fasum yang terbengkalai kemudian ada yang mengelola, maka pasti orang itu akan menguasai. Maka itu kita pola, kita libatkan LPMK (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan),” ujar AH Tony.

Dan pembangunan Bozem di lahan milik PT Pertamina MOR V ini, menurut Tony, bisa dijadikan contoh untuk fasum lain yang belum difungsikan dan dikelola dengan baik. Pemanfaatan lahan tersebut menurutnya bermula dari kunjungan BPK dan KPK ke Surabaya. Ketika melihat sejumlah aset yang terbengkalai, termasuk tanah yang semestinya difungsikan sebagai fasum, maka DPRD mendorong hal itu.

“Kemudian untuk fasum yang malfungsi, perlu ditarik, supaya tidak ada kerugian kepada masyarakat. Dengan demikian, maka pemerintah akan mendapatkan asetnya sesuai peraturan serta mendapatkan pendataan yang benar,” tambahnya.

Terhadap pengembang yang tidak patuh, DPRD menghimbau Pemkot Surabaya untuk menekan mereka. Mendorong mereka supaya menyerahkan fasum yang ada di lokasi pengembangan proyek kepada Pemkot agar fasum tersebut memiliki kepastian hukum.

“Untuk lahan yang belum diserahkan, ada baiknya pemerintah bisa proaktif, terutama pemerintah tingkat bawah untuk menginventarisir. Apabila ada fasum yang sudah dikuasai orang lain, maka perlu dilakukan pembinaan oleh pihak yang berwenang, bersinergi dengan Pemkot Surabaya,” ungkap Tony.

Jika ada penggunaan fasum secara illegal, baik oleh perorangan maupun kelompok dan digunakan tidak sesuai peruntukannya, misalkan untuk kepentingan pribadi atau bisnis, maupun untuk hunian, maka perlu ada proses penertiban. “Tetapi yang perlu diingat adalah dalam proses penertiban, harus sesuai prosedur, jangan asal menggusur,” ungkapnya.

Fasum-fasum yang terbengkalai tersebut bisa dimanfaatkan  untuk budidaya ikan dalam rangka ketahanan pangan, untuk sarana olahraga yang murah dalam rangka penyehatan masyarakat atau pembuatan resapan (bozem) seperti di perumahan Pertamina guna menyelesaikan masalah lingkungan, seperti banjir.

 “Kemudian dijadikan destinasi wisata dan ditambah perahu. Itu bisa menjadi tempat hiburan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar sehingga tumbuh ekonomi kreatif di sini. Jika ada masyarakat yang mau menyewa fasum, juga diperbolehkan karena ada Perda-nya. Asal sesuai prosedur, ada kontribusi dan tidak merugikan masyarakat sekitar,” kata Tony.

Apabila fasum disewa dengan benar, maka pemerintah mendapatkan sejumlah manfaat. Pertama, luas fasum terdata dan nilai sewanya bisa dihitung. Setelah itu pemanfaatannya bisa dikapitalisasi. Sehingga ketika ada pemeriksaan tentang aset, khususnya fasum, maka bisa ditunjukkan dengan jelas, bahwa di Surabaya minim penyalahgunaan maupun kehilangan aset.

“Terkait fasum yang digunakan pihak tertentu, peran tokoh agama juga dibutuhkan disini untuk memberikan penyadaran. Mereka bisa memberikan penyuluhan bahwa memanfaatkan fasum yang tidak sesuai peruntukan, akan berdosa besar. Sehingga dikhawatirkan muncul dosa jariyah. Karena yang dirugikan itu masyarakat. Itu yang dibutuhkan dari tokoh agama,” lanjutnya.

Yanuar, salah satu warga RW 1 Kelurahan Jemur Wonosari Kecamatan Wonocolo Surabaya membenarkan hal tersebut. Ia bercerita jika sebelumnya lahan yang sedang dikerjakan untuk bozem ini adalah bozem yang terbengkalai, sehingga menjadi lahan kosong yang tidak terawat. Banyak ilalang dan menjadi rawa dan terjadi pengendapan.

“Kalau musim hujan, pasti daerah ini akan banjir. Belum lagi air yang datang dari sebelah utara, Wonocolo dan sekitarnya akan menuju kesini. Alhamdulillah, berkat kerjasama warga dan peran ibu-ibu, bersinergi dengan PU Bina Marga, Pemkot Surabaya dan satgas-satgasnya, maka dilakukanlah pembangunan bozem ini. Walau masih proses pengerjaan, tapi manfaatnya sudah bisa dirasakan. Ketika musim hujan daerah sekitar dan wilayah Jemur Wonosari  dan perumahan pertamina sudah tidak banjir. Bahkan banjir di daerah Wonocolo juga cepat surut,” terang Yanuar. 

Hal yang sama juga diutarakan oleh Ibu Dyah, Kader Lingkungan Jemursari. Awalnya dari LPMK bersurat ke Pertamina sebagai pemilik lahan untuk pemanfaatan lahan kosong. Selain itu, dimasukkan ke Musrenbang Kecamatan.

“Kalau musim hujan, air pasti meluap. Karena lahan itu tidak terawat dan ada pendangkalan. Efek banjir sudah puluhan tahun dan terasa sekali. Sampai pernah masuk rumah. Maksudnya apabila dijadikan bozem, maka banjir bisa diatas, juga efek banjir di perumahan pertamina. Dan Pertamina menyambut baik. Daripada menjadi lahan tidur dan ada manfaatnya ke pertamina,” tambah Dyah.

Saat ini, kedalaman bozem sisi tengah mencapai sekitar 4 meter sementara sisi pinggir mencapai sekitar ½ meter. Luasannya hampir mencapai ½ hektar. Kedepan, bozem akan disulap menjadi destinasi wisata dengan membangun jogging track dan penanaman tumbuhan dan bunga di sekitarnya. Selain salah satu sisinya juga akan dibuat kolam pancing ikan.

“Jadi dalam pembangunan bozem ini, Pertamina menyediakan lahannya dan membantu box culvert. Sementara Pemkot Surabaya merevitalisasi. Ibu-ibu juga telah mengajukan pembatas tepi bozem berupa pemasangan pagar agar aman,” ungkapnya.

Dihubungi secara terpisah Jr. Officer Communication & Relations PT Pertamina MOR V, Taufik R. Lubis mengatakan Pertamina sangat mendukung program Pemerintah Kota Surabaya untuk memanfaatkan lahan milik Pertamina sehingga mendatangkan nilai tambah bagi masyarakat. Dalam hal ini memanfaatkan lahan sebagai bozem untuk membantu mencegah terjadinya banjir di sekitar lahan tersebut.

“Alasan pembuatan bozem itu sendiri karena daerahnya rawan banjir jika musim hujan datang. Dan Pertamina mengizinkan pemanfaatan lahan tersebut oleh Pemkot Surabaya melalui Dinas PU Bina Marga untuk pembuatan bozem yang bermanfaat bagi kepentingan masyarakat,” pungkasnyad

Bagikan artikel ini: