Laba bersih BNI amblas 78,7 persen jadi Rp3,28 triliun pada 2020

Sabtu, 30 Januari 2021 | 09:37 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI membukukan kinerja kurang memuaskan sepanjang 2020. Tercatat, laba bersih konsolidasi perseroan amblas 78,7 persen (yoy) dari Rp15,38 triliun di 2019 menjadi hanya Rp3,28 triliun sepanjang 2020 lalu.

Wakil Direktur Utama BNI Adi Sulistyowati menuturkan, penyebab merosotnya laba perseroan adalah penurunan pendapatan bunga sebesar minus 4 persen.

"Ini disebabkan karena penurunan pendapatan bunga sebesar minus 4 persen (yoy) seiring dengan pemberian program stimulus untuk restrukturisasi kredit yang terdampak Covid-19," ujarnya dalam Paparan Kinerja Bank BNI 2020, Jumat (29/1/2021).

Selain itu, berkurangnya laba perseroan disebabkan oleh tambahan pencadangan yang dilakukan perseroan untuk mengantisipasi kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Tercatat, rasio kecukupan pencadangan atau coverage ratio berada pada level 182,4 persen lebih besar dibandingkan tahun 2019 yakni 133,5 persen.

"Selain itu kami melakukan strategi penambahan pencadangan untuk meng-cover kualitas kredit kami yang turun menjadi NPL di 2020 dan juga untuk memupuk pencadangan yang memadai dalam menghadapi perekonomian di masa mendatang," imbuhnya.

Direktur Keuangan Novita Widya Anggraini mengatakan penyaluran kredit perseroan tumbuh 5,3 persen dari Rp556,77 triliun menjadi Rp586,2 triliun sepanjang 2020. Rinciannya, penyaluran kredit di segmen korporasi meningkat 7,4 persen, menjadi Rp309,7 triliun. Sementara itu, kredit kepada segmen bisnis kecil naik 12,3 persen menjadi Rp84,8 triliun.

Demikian juga kredit konsumer tumbuh 4,7 persen menjadi Rp89,9 triliun pada akhir tahun lalu. Pertumbuhan kredit segmen kecil terutama disalurkan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR), sisanya disalurkan untuk kredit pemilikan rumah dan payroll loan.

Seretnya penyaluran kredit, menyebabkan minimnya pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII). Tercatat, NII hanya tumbuh 1,5 persen dari Rp36,6 triliun menjadi Rp37,1 triliun di akhir 2020.

"Pendapatan bunga bersih masih dapat tumbuh berkat penyaluran kredit di tengah pandemi," imbuhnya.

Namun, di tengah perlambatan pertumbuhan kredit, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross perseroan justru bertambah 2 persen dari 2,3 persen menjadi 4,3 persen di 2020.

Dia mengatakan, penyaluran kredit perseroan ditopang oleh akumulasi Dana Pihak Ketiga (DPK). Pada akhir 2020, DPK naik signifikan 10,6 persen dari Rp614,31 triliun menjadi Rp697,45 triliun.

Kenaikan itu disebabkan perseroan fokus pada peningkatan dana murah tercermin dari rasio dana murah atau current account and saving account (CASA) pada akhir Desember 2020 yang berada di level 68,4 persen. Angka itu meningkat 160 bps dibandingkan 2019 lalu.

"Upaya perseroan dalam peningkatan CASA berhasil menekan biaya dana pihak ketiga. Dampak positif dari penurunan biaya dana pihak ketiga ini diteruskan oleh bank kepada nasabah dalam bentuk penurunan suku bunga kredit," jelasnya.

Secara umum, aset perseroan hanya mampu tumbuh 5,4 persen dari Rp845,6 triliun menjadi Rp891,33 triliun. kbc10

Bagikan artikel ini: