Tujuh solusi produktif atasi gejolak harga daging sapi

Sabtu, 23 Januari 2021 | 13:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University Prof Muladno Basar menawarkan tujuh solusi produktif agar harga daging sapi di Tanah Air tidak lagi rentan bergejolak. Harga daging sapi sudah menembus Rp 135.000 per kilogram (kg) dari tentang sebelumnya sebesar Rp 115.000 per kg.

Kendati begitu, solusi ini bukan bersifat instan. Swasembada daging sapi bukan mustahil, namun dibutuhkan waktu tidak kurang tiga dekade dengan konsistensi kebijakan yang disepakati semua pemangku kepentingan.

"Pertama ,usaha pengembangbiakan spai serahkan ke pebisnis secara total,pemerintah hanya menerbitkan regulasi kondusif bagi pebisnis," ujar Muladno dalam webinar Evidence Based Policy untuk Pembiakan Sapi di Indonesia di Jakarta, Jumat (22/1/2021).

Menurut Muladno, justru melihat intervensi pemerintah dalam pengembangbiakan populasi tidak diperlukan. Muladno mencontohkan, keberhasilan industri perunggasan sejak tahun 1970, meski hanya didanai anggaran yang minim.

Solusi kedua, konsolidasi peternak yang lebih dari 98% tergolong gurem untuk didorong menjadi pengusaha kolektif profesional. Solusi ketiga, memperketat aturan impor daging beku hanya untuk bahan baku industri.

"Impor daging beku sebanyak banyaknya tidak mengapa. Dengan begitu menjadi sumber bahan baku yang murah, syukur syukur ke depannya bisa diekspor," terangnya.

Sementara, untuk solusi keempat memperketat distribusi daging sapi beku di luar Jabodetabek untuk kebutuhan konsumsi. Muladno juga melihat perlunya pemerintah memperlonggar aturan sapi impor bakalan untuk kebutuhan Jabodetabek.

"Saya amati intervensi pemerintah terlalu teknis yang justru membuat harga daging sapi menjadi kompetitif.Serahkan ke pebisnis karena mereka yang tahu kapan harga daging mahal atau murah," terangnya.

Justru sikap pemerintah yang akan mengumumkan impor daging sapi justru membuat pasar di Australia bereaksi. Gilirannya hal ini membuat harga daging sapi kian bergejolak.

Solusi keenam melakukan sinergi dan kolaborasi memperbanyak sapi indukan lokal. Adapun solusi tujuh, membangun kerjasama bisnis antara importir daging dan komunitas peternak rakyat membangun perusahaan pembiakan sapi kolektif berjamaah.

"Justru mengimpor sapi indukan dengan pola hibah kepada peternak kecil banyak menemukan kendala seperti sapinya mati," terangnya.

Ketua Umum Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Didik Purwanto menerangkan meski populasi sapi nasional sebesar 18,5 juta ekor. Jumlah populasi mengalami kenaikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Namun, ketersediaan daging sapi tahun 2021 hanya sebesar 377.063 ton.

"Produksi sapi lokal hanya mampu memenuhi 58% atau 422.533 ton dari kebutuhan. Kita masih defisit sapi sebanyak 294.617 ton setara 1,3 juta ekor sapi," ujarnya.

Harga sapi di Australia di bulan Januari 2020 sebesar US$ 2,9 sampai Februari 2022 sudah US$ 3,6.Ini disebabkan kebijakan re-stocking populasi sapi dari otoritas Benua Kangguru akibat anomali iklim.

Menurut Didik, dibutuhkan kebijakan politik yang mendukung agar Indonesia tidak selamanya bergantung dengan Australia dalam pemenuhan kebutuhan protein masyarakat terhadap ternak ruminansia.kbc11

Bagikan artikel ini: