Tutup defisit kebutuhan, RI bakal impor daging sapi 298 ribu ton

Kamis, 21 Januari 2021 | 18:49 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia berencana mengimpor daging sapi dan kerbau sebanyak 298.000 ton dari berbagai negara pada tahun ini. Impor itu untuk menutupi defisit antara kebutuhan dan produksi daging di dalam negeri.

"Bulan Februari 2021 nanti direncanakan akan dimulai pengapalan sapi dari sumber negara lain yaitu Meksiko untuk menambah stok sapi bakalan di Indonesia," ujar Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), Nasrullah di Kamis (21/1/2021).

Meksiko adalah negara asal impor daging sapi baru meski tak diketahui berapa besar kuota impornya. Nasrullah mengatakan, selama ini Indonesia rutin mengimpor sapi bakalan dari Australia.

Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Fadjar Sumping Tjatur Rasa memperkirakan ada defisit daging sapi sebesar 223.142 ton. Kekurangan itu berasal dari proyeksi produksi dan stok dalam negeri sebesar 473.814 ton dan kebutuhan 696.956 ton.

Untuk memenuhi kekurangan itu, kata Fadjar pemerintah akan mengimpor sapi bakalan sebanyak 502.000 ekor setara daging 112.503 ton, impor daging sapi sebesar 85.500 ton, serta impor daging sapi Brasil dan daging kerbau India dalam keadaan tertentu sebesar 100.000 ton. Total, kuota impor daging sapi mencapai 298.000 ton.

Menurut Fadjar, angka impor tersebut turun 13,01 persen dibandingkan tahun lalu. "Kita berharap tren penurunan impor ini terus berlanjut sejalan dengan meningkatnya produksi daging dalam negeri," ujarnya

Terkait stok daging sapi Nasrullah mengatakan pada Januari 2021 mencapai 28.790 ton dengan kebutuhan 56.720 ton. Defisit itu sudah ditutupi dari sisa stok daging sapi dan kerbau impor tahun lalu (carry over) 21.980 ton.

"Jumlah stok sapi bakalan di kandang per 14 Januari sebanyak 144.279 ekor atau setara daging 32.330 ton. Ditambah, pada bulan Februari 2021 nanti direncanakan akan dimulai pengapalan sapi dari sumber negara lain yaitu Meksiko untuk menambah stok sapi bakalan di Indonesia," kata Nasrullah.

Soal kenaikan harga, kata dia, hal itu sepenuhnya wewenang Kementerian Perdagangan. Dia mengatakan, instansi yang dipimpin Mendag Muhammad Lutfi itu sudah berkomunikasi dengan pelaku usaha penggemukan sapi (feedloter).

"Kementan (Ditjen PKH) juga sudah mengecek ketersediaan di lapangan dan relatif cukup aman sampai dengan kebutuhan Lebaran 2021," ujarnya.

Terhitung Rabu (20/1/2020), Ketua Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Asnawi mengatakan para pedagang sapi se Jabodetabek telah melakukan mogok berdagang selama tiga hari. Pasalnya sejak akhir tahun lalu, harga daging sapi mencapai Rp 130.000 per kilogram (kg), dari harga yang biasanya Rp 110.000-Rp 120.000 per kg.

"Ada kenaikan harga yang sangat tinggi, yang tidak sesuai logika akal sehat, yang sebenarnya sangat-sangat tidak mungkin untuk pedagang menaikkan harga sampai Rp130 ribu per kg di tengah kondisi ekonomi seperti ini," ujarnya.kbc11

Bagikan artikel ini: