Jatim alami inflasi 0,46 persen pada Desember 2020

Selasa, 5 Januari 2021 | 12:16 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Di tengah hantaman pandemi Covid-19, Jawa Timur mampu bertahan dengan mencatatkan kinerja lumayan bagus. Daya beli masyarakat masih cukup terjaga yang diisyaratkan oleh laju Indeks Harga Konsumen (IHK) Jatim pada Desember 2020 yang mencapai 0,46 persen.

"Dari pemantauan terhadap perubahan harga selama bulan Desember 2020 di delapan kota IHK Jawa Timur menunjukkan adanya kenaikan harga di sebagian besar komoditas yang dipantau. Hal ini mendorong terjadi kenaikan IHK sebesar 0,46 persen yaitu dari 104,21 pada bulan November 2020 menjadi 104,69 pada bulan Desember 2020," ujar Kepala Bada Pusat Statistik (BPS) Jatim, Dadang Hardiwan, Surabaya, Senin (4/1/2021).

 Inflasi pada Desember 2020 ini lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun 2019, dimana pada bulan Desember 2019 mengalami inflasi sebesar 0,53 persen. Dan apabila dilihat trend musiman setiap bulan Desember selama sepuluh tahun terakhir(2011-2020), seluruhnya terjadi inflasi. "Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian indeks kelompok pengeluaran," tambahnya.

Adapun kelompok yang menunjukkan kenaikan indeks yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,51 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,08 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,01 persen kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,11 persen dan kelompok kesehatan sebesar 0,18 persen. 

Selain itu, kenaikan indeks juga terjadi pada kelompok transportasi sebesar 0,84 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,01 persen dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,35 persen.

"Kelompok yang masih mengalami deflasi yaitu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,57 persen. Sementara kelompok pendidikan tidak mengalami perubahan," terang Dadang.

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Desember 2020 antara lain cabai rawit, angkutan udara, telur ayam ras, cabai merah, daging ayam ras, tomat, tarif kereta api, bayam, tongkol diawetkan, biaya foto copy.

Pada Desember 2020 dari sebelas kelompok pengeluaran, lima kelompok memberikan andil/sumbangan inflasi, satu kelompok memberikan andil/sumbangan deflasi, empat kelompok memberikan andil terhadap inflasi/deflasi yang sangat kecil, dan satu kelompok tidak memberikan andil. 

Kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan inflasi terbesar yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,35 persen dan kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan deflasi yaitu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,04 persen. 

Lebih lanjut ia mengatakan, kelompok pengeluaran yang memberikan andil terhadap inflasi/deflasi yang sangat kecil adalah kelompok pakaian dan alas kaki, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, kelompok transportasi, kelompok informasi, Makanan, Minuman, dan Tembakau. Kelompok ini pada Desember 2020 mengalami inflasi sebesar 1,51 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 103,56 pada November 2020 menjadi 105,12 pada Desember 2020.

"Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi, yaitu: cabai rawit

sebesar 0,08 persen, telur ayam ras sebesar 0,06 persen, cabai merah sebesar 0,05 persen, daging ayam ras sebesar 0,05 persen dan tomat sebesar 0,03 persen. Sementara komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi, yaitu: bawang merah sebesar 0,02 persen, udang basah dan apel masing-masing sebesar 0,01 persen," terang Dadang.

Inflasi, ujarnya, terjadi  di delapan kota IHK di Jawa Timur selama Desember 2020. Secara berurutan dapat disebutkan yaitu Sumenep sebesar 0,71 persen, Surabaya sebesar 0,50 persen, Madiun dan Probolinggo masing-masing sebesar 0,47 persen, Banyuwangi sebesar 0,43 persen, Jember sebesar 0,36 persen, Malang tercatat sebesar 0,34 persen, sedangkan inflasi terendah tercatat di Kediri sebesar 0,28 persen.

Jika dibandingkan tingkat inflasi tahun kalender (Januari - Desember) 2020 di 8 kota IHK Jawa Timur, sampai dengan bulan Desember 2020 Sumenep merupakan kota dengan inflasi tahun kalender tertinggi yaitu mencapai 2,37 persen. Sedangkan kota yang mengalami inflasi tahun kalender terendah adalah Surabaya yang mengalami inflasi sebesar 1,33 persen.

Ia menegaskan, apabila dilakukan pengamatan terhadap sepuluh komoditas yang menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi di masing-masing kota IHK di Jawa Timur, maka komoditas cabai merah, tomat, telur ayam ras, dan cabai rawit menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi di semua kota IHK di Jawa Timur. 

"Selain itu, komoditas daging ayam ras juga menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi di hampir seluruh kota di Jawa Timur kecuali di Kediri dan Madiun. Dan komoditas Tarif Kereta Api menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi di Jember, Malang, Madiun dan Surabaya. Sementara komoditas emas perhiasan menjadi penghambat utama terjadinya inflasi di semua kota IHK di Jawa Timur," ungkapnya.

Lebih jauh Dadang menerangkan bahwa sampai dengan Bulan Desember 2020 secara tahun kalender inflasi Jawa Timur mencapai 1,44 persen. Hal ini berarti lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 2,12 persen. Inflasi tahun kalender ini lebih rendah dibandingkan dengan target pemerintah yang mematok inflasi sebesar 3 plus minus 1 persen, dikarenakan dampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan penurunan daya beli. 

"Selama tahun 2020 dari sebelas kelompok pengeluaran, sepuluh kelompok diantaranya mengalami inflasi, serta satu kelompok mengalami deflasi. Tiga besar kelompok dengan inflasi tertinggi terjadi pada kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 5,66 persen, diikuti kelompok Kesehatan sebesar 2,51 persen, serta kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau sebesar 2,26 persen. Sedangkan kelompok Transportasi merupakan satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi sebesar 0,58," terangnya.

Adapun lima besar komoditas utama penyumbang inflasi sepanjang tahun 2020 diantaranya Emas Perhiasan, Tukang Bukan Mandor, Mobil, Rokok Kretek Filter serta Minyak Goreng. Sedangkan lima besar komoditas utama penghambat Inflasi untuk periode sepanjang tahun 2020 yaitu Bensin, Angkutan Udara, Semangka, Bawang Putih serta Tarif Listrik.kbc6

Bagikan artikel ini: