Dorong produktivitas UKM, ITS rancang dandang lontong berteknologi

Senin, 4 Januari 2021 | 22:28 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menjawab permasalahan yang ada di masyarakat dengan inovasi barunya. Kali ini berupa dandang lontong berteknologi yang berhasil dirancang oleh tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) ITS untuk meningkatkan produktivitas Usaha Kecil Menengah (UKM).

Menurut dosen Departemen Teknik Mesin Industri (DTMI) ITS Liza Rusdiyana ST MT, dandang lontong berteknologi ini mampu meningkatkan tiga kali kapasitas sekali produksi. Jika pada umumnya hanya berisi 150 - 200 lontong, dandang rancangan dosen ini mampu menampung sampai 660 lontong sekali produksinya.

Bagi pelaku UKM, peningkatan kapasitas produksi merupakan hal yang sangat dibutuhkan. Sebab ketika ada pesanan membludak, mereka bisa melayaninya dengan maksimal. "Sehingga keuntungan yang didapatkan nantinya pun bisa menjadi lebih besar," tuturnya dalam keterangan tertulis, Senin (4/1/2021).

Lebih dari hal itu, dandang tersebut juga mampu meningkatkan daya tahan kualitas dari lontong. ”Sebelumnya dalam waktu 12 jam saja (lontong) sudah basi, tapi dengan sentuhan teknologi ini bisa bertahan dua sampai tiga hari,” ungkap Liza.

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan Liza bersama timnya, dandang bertekanan tersebut terbukti mampu mematangkan lontong dua jam lebih cepat dari waktu normal yang membutuhkan enam jam lamanya. Hal itu juga berdampak pada penggunaan bahan bakar juga mampu ditekan 50 persen lebih hemat.

Diakui Liza, prinsip dari dandang berteknologi ini sebenarnya hanya dengan mengombinasikan dandang biasa dengan sistem presto. Di dalamnya juga terdapat keranjang bersusun supaya lontong tidak mengambang, tetap tersusun rapi dan rapat.

Dibuat bersama dengan tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) DTMI, dandang tersebut dilengkapi dengan pengatur tekanan dan sistem pembuangan air yang mudah. "Dengan mengikuti prosedur penggunaannya, ternyata lontong yang dihasilkan dapat memiliki tekstur yang halus," tuturnya.

Saat ini, sambung Liza, dandang berteknologi ini telah diterapkan ke beberapa UKM di daerah Kampung Lontong, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya pada Desember 2020 lalu. Menurut Liza, masyarakat yang banyak menjadi produsen lontong tersebut mengaku terbantu dengan adanya dandang berteknologi ini karena bisa meningkatkan pendapatannya.

Selain hal itu, lontong yang bisa bertahan lama ini memungkinkan masyarakat untuk melayani pasar yang lebih luas, seperti penjualan daring. Sehingga masyarakat tidak tergantung dengan pasar sekitar saat ini. Terakhir, Liza berharap jika masyarakat bisa memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan kehidupan mereka. kbc7

Bagikan artikel ini: