Ekspor produk jamu RI melonjak 14,08 persen pada Januari-September 2020

Senin, 14 Desember 2020 | 21:02 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Nilai ekspor produk jamu atau biofarmaka Indonesia meningkat 14,08 persen pada periode Januari-September 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pencapaian ini cukup menggembirakan, terutama di tengah perlambatan ekonomi global akibat pandemi Covid-19.

Hal tersebut disampaikan Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto saat memberikan sambutan pada webinar bertajuk "Investasi Industri dan Kebangkitan Kembali Pariwisata dan Ekspor Indonesia dengan Dukungan dari Jamu, Suplemen Kesehatan, Rempah-Rempah, Kosmetik, Spa, dan Aromaterapi Indonesia", yang digelar Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) baru-baru ini.

Agus mengatakan, setelah menurun selama periode lima tahun terakhir (2015-2019) kecuali pada 2017, ekspor jamu atau biofarmaka Indonesia berhasil mencatatkan nilai 9,64 juta dollar Amerika Serikat (AS) pada Januari-September 2020.

"Nilai tersebut naik 14,08 persen dibandingkan pada periode yang sama (Januari-September 2019) senilai 8,45 juta dollar AS," jelas Mendag dalam keterangan tertulis, Minggu (13/12/2020).

Sebagai informasi, Indonesia menempati urutan ke-19 negara pengekspor jamu atau biofarmaka ke dunia dengan pangsa pasar 0,61 persen pada 2019.

Pada periode Januari-September 2020, negara tujuan ekspor produk biofarmaka Indonesia masih didominasi oleh India (62,30 persen), Singapura (6,15 persen), Jepang (5,08 persen), Malaysia (3,75 persen), dan Vietnam (3,17 persen).

Sementara, pemasok jamu atau biofarmaka dunia masih dikuasai oIeh India (33,46 persen), Tiongkok (27,54 persen), dan Belanda (6,05 persen).

Agus menambahkan, untuk meningkatkan ekspor, Kemendag telah menyusun strategi peningkatan jangka pendek dan jangka menengah, salah satunya melalui pendekatan produk.

Produk yang dijadikan fokus antara lain produk makanan dan minuman olahan, alat-alat kesehatan, produk pertanian, produk perikanan, dan produk agroindustri.

"Produk jamu, suplemen kesehatan, rempah-rempah, kosmetik, spa, dan aromaterapi juga termasuk dalam kategori produk-produk yang menjadi fokus strategi peningkatan ekspor tersebut," ujar Mendag.

Selain peluang, produk biofarmaka juga menghadapi beberapa tantangan, antara lain akses pasar, kontinuitas dan ketepatan pengiriman, isu lingkungan, daya saing, sertifikasi organik, serta keberlanjutan.

Kemudian, ketertelusuran, transparansi, hilirisasi, pengamanan perdagangan hambatan nontarif, biaya logistik yang tinggi, good agricultural practices (GAP), dan good manufacture practices (GMP).

Kondisi pandemi juga memberikan dampak terhadap perdagangan Indonesia termasuk produk rempah, seperti adanya peningkatan biaya logistik, perubahan pola perdagangan global, kerja sama perdagangan tidak berjalan efektif selama pandemi , dan adanya ancaman resesi ekonomi global.

Untuk menanggulangi hal tersebut, lanjut Mendag, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, asosiasi, para pelaku usaha, maupun pihak swasta lainnya untuk mempertahankan dan meningkatkan ekspor Indonesia.

"Salah satunya upaya penetrasi pasar melalui penyelesaian berbagai perundingan perjanjian perdagangan dan pengembangan pasar melalui kegiatan promosi," kata Mendag. kbc10

Bagikan artikel ini: