PPNS lakukan rekognisi Pembelajaran Lampau dengan melibatkan SMK dan Industri

Selasa, 8 Desember 2020 | 20:29 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Politeknik Pelayaran Negeri Surabaya atau yang dikenal dengan PPNS, sebagai Perguruan Tinggi vokasi, menyelenggarakan program penyusunan perangkat asesmen di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), perangkat asesmen pedagogik dan sesuai KKNI pada tanggal 2-6 Desember 2020. Program ini diberikan pada calon instruktur Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berasal dari praktisi industri yang telah mempunyai pengalaman kerja di bidang K3. 

Program penguatan Perguruan Tinggi Vokasi dalam penyelenggaraan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) kepada instruktur SMK merupakan sebuah program yang berisikan rancangan aktivitas dalam bentuk rangkaian kegiatan penyusunan perangkat asesmen termasuk kesiapan kelembagaan, perencanaan program dan ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan RPL. 

Beberapa perusahaan turut hadir dalam uji coba perangkat asesmen ini, diantaranya : PT. Adiluhung Saranasegara Indonesia, PT Pelabuhan Indonesia III  (Persero), PT. Terminal Teluk Lamong, PT. Terminal Petikemas Surabaya, PT. Barata Indonesia (Persero), PT. Kerta Rajasa Raya, PT. ALP Petro Industry  dan PT. Delta Indonesia Persada. 

Tahapan pelaksanaan kegiatan RPL oleh PPNS dengan penyelenggaraan FGD bersama beberapa perwakilan SMK di Jawa Timur. Dalam FGD diperoleh informasi bahwa  selama ini materi K3 pada kurikulum SMK hanya disisipkan dalam bentuk kompetensi dasar saja, bukan dalam bentuk mata pelajaran, sehingga pemahaman siswa terhadap K3 sangat minim. 

Karena diajarkan hanya dalam bentuk sisipan di beberapa pertemuan saja, sehingga tidak heran banyak temuan kecelakaan kerja yang dialami siswa ketika melakukan magang bahkan ketika mereka bekerja. Penerapan Budaya K3 di sekolah masih rendah, padahal SMK memiliki Laboratorium, workshop yang merupakan miniatur Industri, sehingga sangat rentan terjadi kecelakaan kerja. 

Sarana dan prasarana pendukung K3, di SMK masih minim, sehingga perlu adanya dukungan dan support dari berbagai pihak. Dan perlu adanya pelatihan/training K3 bagi guru-guru SMK, agar dapat memberikan bekal  yang cukup bagi siswa yang akan mengikuti program PKL/Praktik Industri

Direktur PPNS, Eko Julianto turut hadir dalam kegiatan mengatakan bahwa hasil dari uji coba RPL tersebut diharapkan menjadi masukan untuk lebih memperbaiki perangkat asesmen yang akan digunakan dalam proses RPL sesungguhnya. “Instruktur yang telah berhasil uji coba perangkat proses assessment melalui proses RPL, selanjutnya akan dapat menjadi instruktur di tempat SMK yang mengajukan permintaan”, ungkap Eko.

Kokoh Indranto dari SMKN Cerme Gresik mengapresiasi kegiatan uji coba asessmen RPL. “Kegiatan ini terjadi interaksi yang sangat baik antara SMK, PT VOKASI dan dunia Industri dalam mempersiapkan instruktur di SMK, disamping dapat diwujudkan link and mach antara lembaga pendidikan sebagai lembaga pelatihan dan dunia kerja selaku pengguna atau pemakai” ujar Kokoh.

Sementara itu, Cahya Widodo peserta dari SMKN Tambakboyo Tuban, mengatakan bahwa program uji coba instruktur RPL K3 tersebut merupakan program pengembangan yang sangat bagus dan juga sangat bermanfaat untuk para pendidik di bidang SMK. “Pembudayaan K3 harus dimulai dari para calon pekerja yang mayoritas adalah lulusan SMK, oleh karena hal tersebut nantinya diharapkan ketika berada di industri, K3 sudah menjadi budaya kerja”, pungkas Cahya.kbc6

Bagikan artikel ini: