Kadin Jatim apresiasi Rumah Kurasi untuk UMKM

Jum'at, 4 Desember 2020 | 19:46 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Upaya peningkatan kualitas produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) kota Kediri bersama Kantor BI Kediri dan Pemerintah Kota Kediri dengan mendirikan "Rumah Kurasi" mendapat apresiasi dari Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto.

Adik menegaskan bahwa apa yang telah dilakukan oleh Kadin Kediri, BI Kediri dan Pemkot Kediri patut diacungi jempol. Karena ini akan menjadi stimulus bagi UMKM untuk memperbaiki kualitas produk yang diproduksi. Sehingga nantinya, UMKM tersebut berhasil mengekspor hasil produksinya ke sejumlah negara.

Rumah Kurasi adalah sebuah wadah yang dikhususkan untuk melakukan pengecekan kualitas produk UMKM. Dengan melihat kebutuhan pasar, utamanya di masa pandemi Covid-19, maka dikembangkan layanan online melalui rumahkurasi.com yang dilaunching oleh Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak, Kepala Kanwil BI Jatim Difi Ahmad Johansyah, Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto dan Ketua Kadin Kota Kediri, M Solikin pada saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2020 di Shangrila Hotel, Kamis (3/12/2020).

"Harapan saya, ini akan ditiru oleh semua Kadin di 38 Kabupaten Kota di seluruh Jatim. Karena UMKM kita memang masih sangat perlu untuk didampingi, masih sangat perlu untuk diarahkan," ujar Adik di Surabaya, Jumat (4/12/2020).

Adik juga berharap, dengan semakin pahamnya UMKM atas kualitas produk yang bisa diterima di pasar luar negeri, maka UMKM tersebut nantinya akan mampu mengkurasi produknya sendiri. Tentang perijinan apa saja yang dibutuhkan, tentang kualitas produk hingga cara pemasarannya. Untuk tenaga kurasi, kedepan Kadin Jatim juga akan ikut berpartisipasi melakukan sertifikasi kurator di lembaga Kadin Institute.

Sementara itu, Ketua Kadin Kota Kediri, M. Solikin mengatakan, Rumah Kurasi ini sebenarnya lahir dari kebutuhan UMKM saat akan mengikuti "Virtual Expo" yang digelar oleh Kadin Kota Kediri dengan Kantor Perwakilan BI Kediri. Saat ini, sangat banyak UMKM yang ingin ikut, namun tidak semua bisa masuk karen panitia melakukan seleksi kualitas.

"Untuk itu, kami lakukan proses kurasi barang atau produk, karena kami memiliki target bahwa nantinya produk UMKM yang ikut pameran ini adalah produk yang layak ekspor. Kami ingin menggaungkan ekspor ala UMKM," ujar Solikin.

Kadin Kota Kediri, tambahnya, telah bekerjasama dengan Diaspora di sejumlah negara, diantaranya di Australia, Belanda, Qatar, Laos dan Amerika Serikat. Contoh produk sudah dikirimkan. Bahkan dia mengaku telah melakukan penandatanganan kontrak dengan salah satu perusahaan Australia untuk pembelian produk UMKM senilai US$500 ribu untuk tahap awal dan akan bisa dikembangkan hingga US$2 juta.

"Beberapa produk UMKM yang diinginkan diantaranya adalah olahan ikan, batik, fresh food, kopi, teh dan lain sebagainya. Harapannya, kita nanti akan mampu membuka toko UMKM di negara-negara tersebut bekerjasama dengan Diaspora di negara itu," tambah Solikin.

Dari sana kemudian Rumah Kurasi dikembangkan. Dari Agustus hingga saat ini, tercatat ada sekitar 700 produk UMKM yang telah dikurasi. Namun dari jumlah tersebut, hanya sekitar 30 persen yang telah memenuhi standar.

"Setelah kami melalukan kurasi, kami memberikan catatan-catatan, memberikan review produk. Mana yang kurang, kita tulis, kita beri catatan dan kemudian oleh dinas terkait, UMKM tersebut dibina, diperbaiki yang menjadi kekurangannya," tambahnya.

Kepala Bank Indonesia Kediri, Sofwan Kurnia mengatakan hal yang sama bahwa Rumah Kurasi ditrigger oleh kebutuhan pelaku UMKM atas standar kualitas atau mutu barang yang dipasarkan. Karena kebanyakan UMKM tidak tahu dan tidak memahami produk yang akan diekspor itu harus seperti apa.

"Saat ini hanya ada 4 tenaga kurator. Kedepan tenaga kurator ini akan kami perbanyak melalui pelatih, akan kami cetak kurator-kurator yang handal dan bersertifikasi," katanya.

Sementara itu, Kepala BI Kanwil Jatim Difi Ahmad Johansyah mengungkapkan bahwa, selain UMKM akan bisa meningkatkan kualitas produk, mereka nantinya juga akan bisa memproduksi secara kluster dengan standar yang sama. Karena hampir semua UMKM berkapasitas kecil. Mereka memproduksi beragam produk dengan standar yang berbeda.

"Kalau ini distandarkan, maka mereka bisa memproduksi secara kluster. Sehingga ketika melakukan ekspor, biaya logistik juga bisa ditekan. Tetapi yang perlu diingat, ini hanya untuk UMKM yang siap dikembangkan sesuai standar. Karena sudah setahun ini kami membidik pasar diaspora di luar negeri. Kebutuhan mereka terhadap produk UMKM sangat besar," pungkas Difi.kbc7

Bagikan artikel ini: