Cuti libur panjang akhir tahun dipangkas, pengusaha hotel dan restoran kecewa

Rabu, 2 Desember 2020 | 11:36 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memangkas libur akhir tahun membuat kalangan pelaku bisnis hotel dan restoran kecewa. Pasalnya keputusan tersebut berpengaruh besar terhadap kepercayaan publik terhadap pemerintah (public trust). Pasalnya, momen libur panjang telah dijanjikan sejak sebelum lebaran.

Saat itu, Jokowi memangkas cuti bersama Lebaran untuk menahan mudik. Momen libur panjang kemudian dijanjikan pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) di akhir tahun. Namun kini, janji itu tidak ditepati.

Wakil Sekretaris Jendral Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan, bukan hanya pengusaha hotel dan restoran, keputusan itu juga berdampak bagi masyarakat yang sudah melakukan reservasi dari jauh-jauh hari.

"Kecewa sudah pasti, karena ini urusan public trust. Ini rencana yang dikumandangkan sejak Lebaran, dijanjikan sejak lebaran. Yang kecewa bukan hanya pelaku pariwisata tapi masyarakat yang berkegiatan juga," katanya seperti dikutip, Selasa (1/12/2020).

Padahal, lanjut dia, PHRI telah menantikan momen liburan panjang yang semula dijadwalkan dari 24 Desember 2020-3 Januari 2021 atau 11 hari berturut-turut.

Berdasarkan periode libur cuti bersama lalu, ia bilang rata-rata okupansi hotel per hari bisa naik sekitar 20 persen. Artinya, pada libur akhir tahun ini, pengusaha harus merelakan kehilangan potensi kenaikan okupansi selama tiga hari berturut-turut.

"Otomatis di situ yang dimaksud 3 hari okupansi bisa turun, seberapa besar turunnya belum bisa diprediksi karena susah kami prediksi memastikan turun naik sekarang," ujarnya.

Pun awalnya berharap banyak, ia mengaku hanya dapat menerima setelah keputusan pemangkasan itu diambil pemerintah. Pelaku usaha pariwisata, ungkapnya, sudah menyampaikan apa yang diharapkan kepada pemerintah.

"Dari sektor pariwisata harapannya orang berlibur, hanya itu saja. Kalau enggak ada liburnya kan juga enggak gerak. Buktinya kalau enggak liburan (okupansi) flat di 20-30 persen," jelas Maulana.

Sebagai informasi, pemerintah memutuskan untuk memangkas libur sebanyak tiga hari dari tanggal 28-30 Desember 2020. Semula cuti bersama yang beriringan dengan libur natal 2020 dan tahun baru 2021 berjumlah 11 hari.

"Intinya kami sesuai arahan putuskan bahwa libur natal dan tahun baru tetap ada," kata Menko PMK Muhadjir Effendy.

Muhadjir merinci, pada 24 hingga 27 Desember merupakan libur natal. Kemudian, pada 28-30 Desember 2020 tidak libur. Setelah itu, pada 31 Desember 2020 dan 1-3 Januari 2021 libur tahun baru. kbc10

Bagikan artikel ini: