Akuisisi dua mall dan 1 hotel di Solo dan Yogyakarta, Pakuwon rogoh kocek Rp1,36 triliun

Selasa, 1 Desember 2020 | 12:38 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Di tengah pandemi Covid-19, PT Pakuwon Jati Tbk. memutuskan untuk ekspansi ke luar daerah yang selama ini menjadi basis bisnisnya. Melalui anak usahanya, perusahaan pengembang ini mengakuisisi 3 aset properti yang terdiri dari 2 pusat perbelanjaan atau mal dan 1 hotel di Yogyakarta dan Solo. Untuk transaksi tersebut, emiten properti dengan kode saham PWON ini merogoh kocek hingga Rp 1,359 triliun.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Pakuwon Jati Minarto Basuki menjelaskan alasan transaksi tersebut untuk diversifikasi geografis bisnis perseroan di luar Surabaya dan Jakarta. “Diversifikasi geografis untuk memperoleh potensi basis pertumbuhan baru di luar Surabaya dan Jakarta,” tulis Minarto dalam keterbukaan informasi, Senin (30/11/2020).

Minarto menjelaskan, aset yang dibeli perseroan adalah Hartono Mall Yogyakarta, Hotel Marriott Yogyakarta, dan Hartono Solo Baru.

Awalnya ketiga aset tersebut dimiliki oleh PT Delta Merlin Dunia Properti sebagai pemilik gedung dan Sumitro selaku pemilik tanah. Perusahaan properti tersebut merupakan entitas Duniatex Group.

Transaksi jual-beli tersebut dilakukan Pakuwon Jati melalui PT Pakuwon Permai yang merupakan anak usaha dengan kepemilikan saham sebesar 67,13 persen.

Minarto menyampaikan nilai transaksi tersebut mencapai Rp 1,35 triliun dan sumber pendanaan diambil dari kas internal.

Dengan tambahan aset properti tersebut, portofolio PWON yang menghasilkan tambahan berulang atau recurring income pun semakin beragam.

Sejauh ini, PWON telah memiliki beberapa properti investasi seperti Tunjungan Plaza, Pakuwon City Mal, Mal Gandaria City, Mal Kota Kasablanka, Pakuwon Mall. Royal Plaza, Blok M Plaza, Ascott Waterplace Surabaya, dan apartemen servis Somerset Berlian.

“Tambahan portofolio di atas adalah properti dalam keadaan beroperasi, akan semakin memperkuat basis pertumbuhan perusahaan dari peningkatan pendapatan berulang maupun arus kas perusahaan untuk tahun-tahun mendatang,” kata Minarto.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2020, PWON membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 600,69 miliar atau turun 72 persen secara tahunan dari sebelumnya Rp 2,15 triliun.

Penurunan laba merupakan imbas dari perlambatan pendapatan sebesar 41,87 persen menjadi Rp 3,04 triliun pada kuartal III 2020 dari dari Rp 5,24 triliun pada kuartal III 2019. kbc10

Bagikan artikel ini: