Bioteknologi opsi solusi pertanian berkelanjutan

Sabtu, 28 November 2020 | 22:50 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Selain meningkatkan peluang meningkatkan pendapatan bagi petani, bioteknologi diyakini juga menjadi opsi bagi solusi pertanian berkelanjutan. Bukan hanya menyangkut kemanan pangan namun juga lingkungan hidup .

Demikian Guru Besar Fakutas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) IPB University Prof Dr Antonius Suwanto,Ph.D dalam webinar bertema Potensi Bioteknologi Pertanian dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan di Indonesia, Sabtu (28/11/2020).

Antonius menuturkan sebetulnya bioteknologi telah dikembangkan sejak ribuan tahun seiring kegiatan budidaya pertanian. Adapun petani dan peneliti juga terus melakukan modifikasi persilangan dan seleksi. Misalnya, beragamnya produk cabai baik warna,ukuran, rasa, bentuk hingga tingkat kepedasan.

"Sebetulnya semua produk pertanian adalah hasil modifikasi genetika melalui persilangan atau sex dan seleksi yang dilakukan manusia. Modifikasi pertanian sudah berlangsung sejak manusia mengenal budidaya pertanian," terangnya.

Dalam budidaya jagung, menurut Antonius petani kerap dihadapkan kendala hama berupa ulat penggerek tongkol dan Thrips. Upaya pengendalian petani saat ini adalah menggunakan pestisida kimia yang tidak jelas tidak ramah lingkungan.

Namun untuk diketahui pula hama ulat jagung tersebut juga memiliki musuh alami yakni bakteri Bacilius thuringiensis (Bt). Enzim protein yang dikeluarkan bakteri Bt tersebut mematikan hama ulat pada tongkol jagung. Pada perkembangan riset bioteknologi, peneliti menyisipkan gen Bt ini (sudah diisolasi) ke dalam DNA tanaman atau disebut tanaman transgenik.

Adanya gen baru ini, sambung Antonius menyebabkan kemampuan tanaman jagung memiliki ketahanan terhadap hama ulat jagung. Pada lambung manusia tidak berbahaya karena sifatnya bukan alkali.

"Lambung kita asam.Kita sering makan melalui sayuran.Tapi kalau dimakan ulat akan mati. Bahkan bakteri ini juga digunakan pestisida organik. Tapi untuk hama ulat penggerek batang sulit dikendalikan kalau hanya disemprotkan," terangnya

Melalui bantuan bioteknologi sambung Antonius akan mengurangi penggunaan pestisida hi. Upaya pengendalian hama pada tanaman jagung,menurut Antonius bukanlah hal yang mudah. "Apabila jagung bisa memproteksi sendiri, maka tidak perlu menghabiskan banyak penggunaan pestisida. Petaninya pun bisa lebih produktif untuk kegiatan lain," terangnya.

Perkembangan bioteknologi ini pula, para peneliti juga berhasil mengembangkan kentang transgenik . Modifikasi genetika DNA dari bioteknologi yang mampu menurunkan signifikan senyawa akrimilida 1.000/mg –zat pemicu kanker apabila disajikan dalam suhu tinggi (french fries dan potatochips).

"Tidak cukup melakukan penyilangan untuk mengembangkan kentang yang memiliki senyawa akrimilida/zat karsiogeniknya jauh lebih rendah. Dalam riset,penggunaan benih kentang transgenik berhasil menurunkan zat aspagarin," terangnya.

Karena itu, Antonius meyakini penggunaan bioteknologi modern akan memberikan kontribusi signfikan terhadap keamanan pangan. Bukan hanya itu, manusia yang mengkonsumsinya juga lebih terjaga kesehatannya dan kesinambungan budidaya pertanian itu sendiri.

Sementara, Dr Rhodora Aldemita dari International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA) mengungkapkan sebanyak 70 negara telah mengadopsi tanaman biotek baik lewat budidaya maupun impor di tahun 2018, tahun ke-23 dari adopsi tanaman biotek berkelanjutan. Menurutnya sebanyak dua puluh enam negara (21 negara berkembang dan 5 negara industri) telah menanam 191,7 juta hektar (ha) tanaman biotek, yang artinya bertambah 1,9 juta ha dari tahun 2017.

Adopsi tanaman biotek secara terus menerus oleh para petani di seluruh dunia menunjukkan bahwa tanaman biotek terus membantu memenuhi tantangan global kelaparan, malnutrisi, dan perubahan iklim. "Teknologi rekayasa genetika telah berkontribusi pada semua aspek ketahanan yaitu dengan meningkatkan hasil dan mengurangi kerugian, teknologi ini berkontribusi pada ketersediaan pangan bagi lebih banyak keluarga," ungkap Rhodora.

Di Asia, untuk pertama kalinya Indonesia menanam tebu toleran kekeringan yang dikembangkan melalui kerjasama kemitraan publik (Universitas Jember) dan swasta (Ajinomoto Ltd.). Sementara, Dr. Graham Brookes dari PG. Economics Limited menjelaskan dampak sosial ekonomi tanaman hasil rekayasa genetika periode 1990 -2018. Dipaparkan pada tahun 2018, petani di negara berkembang menerima US$4,42 tambahan pendapatan tambahan untuk masing-masing uang ekstra yang diinvestasikan dalam benih tanaman transgenik.

Sedangkan petani di negara maju menerima US$ 3,24 sebagai pendapatan tambahan untuk setiap US$ tambahan yang diinvestasikan dalam benih tanaman transgenik.Dari tahun 1996 hingga 2018, keuntungan pendapatan bersih pertanian global adalah US$ 225 miliar , sama dengan peningkatan pendapatan rata-rata sebesar US$ 96,7 per hektar.kbc11

Bagikan artikel ini: